Malam merayap dalam kelam sunyi. Bisikan angin mencumbu pucuk daun sawo terasa halus membelai. Mendesir laksana cumbu bidadari pada sang dewa yang membujuknya agar bisa diturunkan ke bumi. Semerbak melati dan mawar yang bermekaran seolah ikut menambah syahdunya malam. Sayup lembut terdengar alunan Mozart dari kamar Arini.
Sementara di dalam kamar, Arini sudah lebih dari setengah jam yang lalu duduk mematung di depan kaca riasnya. Kata-kata Bu Nuni dan Andrea tadi siang, terngiang-ngiang terus di telinganya.
“ Wanita terlihat cantik hanya ada dua penyebabnya, satu bila dia sedang jatuh cinta dan kedua bila dia sangat dicintai” Arini merenungkan kembali kata-kata itu.
“ Benarkah aku cantik seperti kata Bu Nuni? Benarkah aku manis seperti kata Andrea? Kalau iya berarti aku sedang jatuh cinta? Cinta? Hai cermin bisakah kau jelaskan padaku tentang cinta?” Hatinya bertanya pada bayangannya di cermin, seolah Arini ingin meyakinkan kalau semua yang dikatakan temannya itu hanya untuk menyenangkan hatinya saja.
Ingin rasanya ia memiliki cermin ajaib seperti yang ada dalam dongeng masa kecilnya. Ingin rasanya Arini bertanya pada Sang Cermin tentang kebenaran kata-kata temannya itu. Ah mengapa baru kali ini Arini merasakan betapa inginnya cerita tentang Cermin Ajaib itu menjadi nyata.Baru kali ini pula Arini merasakan betapa cermin menjadi hal yang terpenting malam ini.
Sayang, Sang Cermin tetap membisu. Ia hanya bisa memantulkan bayangan Arini tanpa bisa berkata sepatah kata pun atau jangankan berkata, bersuara saja tidak bisa.
Arini lurus memandang bayangannya, mencoba untuk tersenyum. Tampak olehnya seraut wajah lembut keibuan. Kata Anis itu wajah ibu tiri, Arini tersenyum kecil mengingat apa yang dikatakan anak bungsunya yang bawel itu. Arini yakin sebenarnya Anis sangat sayang padanya.
Arini berdiri, dipandanginya seluruh tubuhnya di depan cermin. Rambutnya dibiarkan terurai sampai ke punggung. Perlahan dibukanya gaun tidur pembalut tubuhnya, tampak payudaranya yang berkamisol mini, menyembul indah dari cupnya, masih kenyal masih terlihat kencang menantang. Perutnya ramping tak terlihat selulit ataupun lipatan, ah siapa yang mengira kalau dari perut ramping itu telah lahir tiga bayi yang kini ketiganya akan menginjak dewasa. Tubuhnya masih seindah biola, kulitnya begitu halus terawat. Indah sekali. Arini tersenyum kecil. Baru kali ini Arini menyadari kalau ia masih memikat. Baru kali ini Arini menyadari kalau semua itu kadang menimbulkan iri hati teman-teman sebayanya bahkan teman yang usianya di bawah dia. Ah Madame de Suga, terimakasih atas inpirasinya! Arini berbisik lirih.
Madame de Suga? Ya itu adalah judul sebuah lukisan yang di dalamnya melukiskan keindahan tubuh telanjang mantan istri presiden RI pertama di usianya yang ke-60. Arini membaca artikel itu dua puluh tahun yang lalu di sebuah majalah wanita kesayangannya. Lukisan itu dihujat habis-habisan karena mencemarkan nama bangsa. Namun Arini sangat mengaguminya, ia tak henti berdecak kagum memandang lukisan itu.Di usia 60 tahun tubuh istri mantan presiden itu masih sangat indah, kulitnya laksana pualam. Tak ada goresan sedikitpun.Benar-benar hebat! Wanita mana di dunia ini yang tidak menginginkan hal itu? Diam-diam Arini yang waktu itu masih berusia dua puluhan mengikrarkan dirinya untuk mengikuti perawatan tubuh yang dilakukan mantan istri presiden pertama RI itu.Dia mencari dari berbagai artikel di majalah wanita ibu kota.
Mandi lulur teratur, disiplin dalam perawatan wajah minimalis, masker payudara seminggu sekali, tahan napas kalau berjalan atau berbicara, sit up 10 kali bila bangun tidur, selalu minum air putih, banyak makan buah-buahan dan sayuran, jangan menyimpan iri hati, dendam dan kebencian ,selalu gunakan bra yang pas dan nyaman, tidak memakai CD yang ketat, senam secara teratur, dan banyak lagi hal lainnya yang harus dilakukan. Itulah yang Arini dapatkan dari artikel-artikel yang dibacanya.
Kini, usia Arini sudah tidak muda lagi,namun orang yang tidak tahu pastilah tidak akan percaya. Arini masih tetap terlihat muda, itu yang selalu dikatakan mantan murid-muridnya yang sudah berkeluarga. Bahkan teman-temannya banyak yang mengatakan kalau sang waktu tak mampu menegur Arini dengan kalimat “ Kau tampak tua dan lelah, kulit terbakar matahari”
Arini tersenyum kecil mengingat salah seorang teman kerjanya mengucapkan kalimat yang diambil dari lirik lagunya Ebiet G Ade itu.Ada-ada saja. Ah, apakah semua itu karena Madame de Suga? Ha..ha..ha… langit dan bumi akan runtuh bila Arini membandingkan dirinya dengan lukisan itu. Sungguh tak tahu diri, jangan-jangan itu gejala awal penyakit narsis yang banyak di derita oleh orang-orang yang sedang jatuh cinta. Disusul kemudian dengan sikap posesif. Mengerikan!
Jatuh cinta? Pertanyaan aneh itu kembali muncul di kepalanya. Ya! Sejak kapan Arini senang berlama-lama memandang dirinya di cermin, hayoo sejak kapan? Sejak kenal dengan Andrea kan? Hayoo jawab dengan jujur! Kata hatinya kembali mengajaknya berdialog. Bukankah berdiri lama-lama di cermin hanya banyak dilakukan oleh orang-orang yang sedang jatuh cinta?Ah jangan-jangan Arini sedang jatuh cinta pada Andrea! Jangan-jangan Arini menerima cinta Andrea, bukankah tadi dia telah menulis e-mail sebagai jawaban atas surat Andrea?
Andrea! Lagi-lagi Andrea! Huh, kenapa laki-laki itu begitu banyak menyita waktu Arini untuk selalu memikirkannya, mengingatnya. Tapi sedang apa dia malam ini? Apakah sedang tidur memeluk istrinya atau sedang memikirkan Arini? Arini membayangkan bagaimana Andrea tidur, apakah masih tetap menarik seperti waktu dia terjaga? Apakah Andrea kalau tidur senang memeluk guling seperti halnya Arini? Apakah istrinya marah kalau Andrea memeluk guling seperti suami Arini yang tidak suka kalau Arini tidur memeluk guling, makanya di tempat tidurnya, guling adalah benda yang tidak boleh ada.
Satu lagi apakah tidur Andrea ngorok? Iiihhh Arini paling tidak suka pada orang yang tidurnya ngorok. Ya Tuhan, mudah-mudahan Andrea tidak termasuk ke dalam spesies itu! Namun kalau pun iya, apa urusannya dengan Arini? Walaaahhh kenapa Andrea kembali menjadi topik penting dalam pikirannya malam ini? Ada apa dengan dirinya?
“ Mama, ada apa berdiri terus di depan cermin? Ini sudah malam, hayo tidur” sebuah suara menegurnya dengan lembut. Arini terkejut ia tidak tahu sejak kapan suaminya melihat dia mematung di depan cermin. Ya, Arini sama sekali tidak menyadari kalau sejak masuk ke kamar tadi, suaminya sempat terjaga. Segera Arini menghampirinya, lalu merebahkan diri di sampingnya. Sebuah kecupan lembut diberikan sang suami di pipi dan kening Arini, kemudian melanjutkan kembali lelap tidurnya yang terganggu oleh Arini. Arini membalikan tubuhnya, dipandanginya wajah tenang suaminya lekat-lekat. Dia masih tampan seperti dulu, tak ada yang berubah.Hatinya pun sebening wajahnya.
Sang suami adalah mantan kekasih yang sangat disayanginya, ah tahukah suaminya kalau saat ini ada sebuah hati yang lain di dalam hati Arini? Marahkan dia bila hal itu diceritakan? Tidak! Suaminya tidak boleh tahu, hatinya pasti akan terluka, lagi pula Arini belum yakin apakah perasaan yang ada di hatinya pada Andrea itu adalah cinta? Bisa saja hanya sebuah pesona sesaat yang wajar terjadi dalam sebuah dinamika kehidupan.
Bukankah suaminya juga dulu pernah mengalami hal itu? Ya,Arini tiba-tiba teringat pada sebuah foto wanita bergaun merah yang sedang bergelayut manja di tangan suaminya. Foto itu dia temukan secara tidak sengaja ketika sedang membereskan lemari di rumah mertuanya. Dilihat dari tahun dan bulan yang tertera di foto, jelas foto itu dibuat empat tahun sejak pernikahan Arini, berarti hal itu terjadi dalam masa pernikahannya.
Siapa wanita itu dan kenapa fotonya ada dalam lemari di rumah mertuanya, kenapa tidak disimpan saja di rumah mereka? Pertanyaan itulah yang muncul di kepala Arini dan jawabannya ada pada wajah pucat suaminya ketika Arini meminta penjelasan darinya. Dilanjutkan kemudian dengan sebuah tamparan keras suaminya di pipi Arini ketika Arini berkeras meminta kejelasan hubungan suaminya dengan perempuan itu. Tamparan pertama dalam pernikahannya dan itu sudah cukup membuat hatinya hancur berkeping-keping. Itu cukup satu kali terjadi dalam hidupnya. Kebencian pada suamipun mendadak muncul di hatinya.
Marah, kecewa, semua berkecamuk dalam hati Arini saat itu. Seorang wanita lain telah hadir dalam hati suaminya. Arini tidak cemburu, sama sekali tidak! Dia hanya kecewa.Tak disangka laki-laki yang dipilih sebagai teman hidupnya tega menghianatinya.Dia merasa bumi akan runtuh menimpanya, hilang keseimbangan hidupnya. Dia yang saat itu baru saja melahirkan anak keduanya tidak terima diperlakukan seperti itu. Dia menangis dan mengunci diri di dalam kamar.
Dari luar kamar terdengar bayinya menangis keras minta diberi ASI. Arini tak mau mendengarnya, ia merasa bukan lagi sebagai seorang ibu tapi sebagai seorang wanita yang terluka hatinya. Suaminya menggedor-gedor pintu kamar diselingi bujukan mertuanya, Arini tetap diam mengunci dirinya. Dia tak peduli pada siapapun termasuk pada bayinya sendiri. Ia tidak mau menyusui bayi dari seorang laki-laki yang tega menghianatinya.
Tangisan bayi terdengar semakin keras memecahkan kesunyian malam. Terdengar ada sesuatu yang dibantingkan ke lantai entah apa. Ibu mertuanya menangis memohon pada Arini agar mau menyusui anaknya. Sudah sepuluh jam lebih Arini mengunci diri di dalam kamar. Sudah berpuluh kali bayinya dicoba diberi susu dalam botol tapi selalu menolak.Tiba-tiba pintu kamar didobrak dengan paksa, suaminya berdiri di depan pintu sambil menggendong bayinya. Memandang tajam pada Arini yang sedang berbaring di tempat tidur dengan pandangan lurus kaku ke langit-langit kamar.
“ Kamu boleh marah padaku tapi jangan bunuh anakku” tegas suaminya.
“ Berikan saja anak itu pada kekasihmu! Dia bukan anakku!” balas Arini ketus
“ Arini! Kamu ibunya! Sadarkah kamu? Tak ada seorang ibu yang tega membunuh anaknya sendiri kecuali dia gila Arini! Ayo susui bayimu”
“ Dia benihmu yang kau tanam dirahimku! Aku menyesal telah melahirkannya! Biarkan dia mati! Itu lebih baik dari pada dewasa nanti dia menjadi laki-laki yang tega menghianati istrinya. Aku tidak mau memiliki anak seperti itu.!”
Wajah suaminya mengejang, kata-kata Arini begitu telak menampar dirinya. Dia baru sadar kalau Arini adalah perempuan keras kepala yang sulit ditundukkan oleh apa pun. Namun bayi dalam gendongannya adalah darah dagingnya yang harus diselamatkan, jiwa dan nyawa bayi berusia tiga puluh hari itu ada dalam puting susu ibunya yang kini telah berubah menjadi seekor singa betina yang siap membunuh siapa saja tanpa belas kasihan. Haruskah dia bersimpuh dan bersujud di depan Arini, haruskah dia pertaruhkan egonya demi anaknya?
“ Arin anakku, ibu mohon susui anakmu, ibu mohon Nak, demi Allah, susui anakmu, dia tidak berdosa Arin, jangan membuat Allah murka dengan kelakuanmu. Lihatlah betapa lemahnya anakmu, dari sore tadi dia hanya minum air putih dan madu yang ibu oleskan ke bibirnya, dia tidak mau diberi susu botol Nak.” Ibu mertuanya yang dari tadi berdiri di belakang suaminya tiba-tiba saja ikut bicara.
Mendengar nama Allah disebut mertuanya, hati Arini mulai goyah.
“ Arin, bunuhlah aku kalau itu membuat hatimu lega namun tolong selamatkan nyawa anak ini. Biar aku saja yang menggatikannya mati, tolong Arin, demi Allah aku bersumpah tidak akan mengulangi perbuatanku, percayalah padaku Arin.” Suaminya mengiba dan terus memohon pada Arini agar mau menyusui bayinya.
Dengan hati-hati suaminya memberanikan diri mendekati Arini dan meletakkan bayi yang sedang menangis itu di samping Arini. Arini tetap diam, dibiarkannya bayi itu tetap menangis. Perlahan ibu mertua dan suaminya meninggalkan Arini dengan bayinya, mereka berdua berharap-harap cemas memohon agar Tuhan menyadarkan Arini.
Tangisan bayi semakin lama semakin lemah, mulutnya mencari-cari puting susu ibunya, dadanya terlihat turun naik. Arini memandangnya dengan air mata yang sejak tadi membanjiri pipinya. Kebencian pada suami dan kecintaan pada sang bayi dua hal yang begitu signifikan berkecamuk dalam hatinya. Berperang melawan hati nuraninya. Setan dan malaikat berbisik di telinganya. Suara tangis bayi semakin lama semakin melemah. Matanya yang jernih memandang Arini,seolah berkata “ Mama, sejahat itukah padaku? Kalau aku mati surga tempatku tapi neraka bagimu! Tidak takutkah Mama pada murka Allah?”
Sekali lagi nama Allah disebut lewat mata si bayi dan gemanya di hati Arini, lebih dari kalimat yang diteriakan suaminya atau permohonan yang dikemukakan ibu mertuanya. Suara hati si bayi jauh merasuk ke dalam jiwanya, ke sel-sel darahnya hingga akhirnya sampai ke titik nadir, pusat segala rasa seorang wanita yaitu nurani seorang ibu!
Perlahan Arini bangkit, dipandangnya bayi lemah itu, dibelainya kepala sang bayi dengan lembut, diangkatnya tubuh mungil itu, didekapkan ke dadanya. Perlahan dan lembut mulut mungil itu mengisap puting susunya. Lemah dan sangat lemah. Arini mengusap-usap buah dadanya yang terasa mengeras karena sepuluh jam lebih air susunya tidak dikeluarkan. Semakin lama isapan bayi semakin kuat, seolah tenaganya untuk mengisap sudah terkumpul kembali. Matanya lekat memandang ibunya yang memandangnya dengan linangan air mata. Tanganya yang mungil meraba-raba dada Arini. Diam-diam Arini merasa menyesal telah membiarkannya tersiksa. Kenapa bayinya yang harus menjadi korban? Ah untung saja Tuhan menyadarkannya, kalau saja terjadi sesuatu pada bayinya, Arini pasti tak bisa memaafkan dirinya seumur hidupnya. Apalagi bila waktu itu Arini tahu kalau si bayi kelak tumbuh menjadi anak yang penuh talenta dan sarat akan prestasi. Ya bayi itu adalah Nuzul anak keduanya yang hampir saja mati terbunuh karena dehidrasi akibat ibunya tidak mau memberinya ASI.
Hikmah dari peristiwa itu besar sekali dalam kehidupan pernikahan Arini. Suaminya betul-betul menepati janjinya meninggalkan perempuan itu dan menjadi suami yang sangat setia sampai saat ini.
“ Arin belum tidur juga? Apa yang sedang kau pikirkan?” suaminya kembali menegurnya dia terjaga lagi dari tidurnya dan melihat Arini yang berbaring di sisnya, masih saja belum tidur.
“ Papa yang kupikirkan!” jawab Arini sekenanya
“ Emang kenapa ?” suaminya membalikkan tubuhnya menghadap Arini. Dipijitnya hidung Arini dengan lembut.
“ Hayooohhh katakan kenapa papa jadi pikiranmu?”
“ Tidur melulu! Nggak mikirin istrinya!”
“ Ha..ha..ha…, kan tuan putri sedang tidak boleh diganggu, sedang perboden, makanya cari aman saja dengan tidur duluan. Abis suka nggak tahan!” kelakar suaminya.
“ Kata siapa lagi perboden, dah bebas hambatan kok!” canda Arini manja.
“ Waahh yang bener? Kenapa nggak bilang dari tadi sore? Tahu begitu takan kubiarkan kamu menulis terus di kamar kerjamu” diraihnya tubuh Arini. Didekapnya dengan sepenuh kasih sayang.
Arini bergelinjang-gelinjang, seperti biasa ia selalu begitu dan itu semakin menggemaskan suaminya. Arini kadang menjelma menjadi Sahara yang menjanjikan berjuta petualangan cinta yang membara, namun terkadang pula menjadi oase yang menyejukkan hati. Lain waktu ia bisa juga jadi kuda binal yang sulit dikendalikan.
Seperti saat ini, secepat kilat ia membalikkan tubuhnya membelakangi suaminya, suaminya kembali meraih tubuhnya . Kaki Arini menendang-nendang. Pergumulan yang tidak seimbang pun terjadi, Arini kecil harus berhadapan dengan tubuh besar suaminya. Hal itu membuat Arini benar-benar tidak berdaya, pakaiannya berhamburan entah jatuh di mana dan ketika mulutnya akan berbicara, suaminya telah terlebih dahulu mengulum bibirnya.
Malam semakin larut, angin malam tetap bersenandung di pucuk daun, mendekap malam yang pekat tiada berbintang. Seekor cecak melompat jatuh sebelum sempat mengintip tubuh Arini yang bersimbah peluh, tergolek indah di samping suaminya yang lelap dalam lelah. Malam tanpa bintang mengantarkan Arini ke peraduannya. Namun sebelum sampai di gerbang lelap,masih sempat terpikir nama Andrea di benak Arini. Apakah Andrea juga seperkasa suaminya? Dasar Gila! Arini pun rebah!
Filed under: Uncategorized | 2 Komentar »

