SENANDUNG CINTA BUAT ARINI ( Episode Jumpa Pertama )

Baru saja Arini selesai menulis laporan, pintu ruangannya ada yang mengetuk.

” Masuk..” suara Arini lembut

” Siang Bu! ” dengan manisnya Bu Nuni memberi salam. Bu Nuni adalah salah seorang stafnya

di bagian kesiswaan.” Hai, ada apa Bu Nuni? ” sapa Arini dengan ramah.

” Ini Bu, masalah yang kemarin, sudah saya bicarakan dengan kepsek. Kesimpulannya

tetap saja begitu. Dia tetap minta buku yang dari dinas itu dibayar dari dana kesiswaan.”

” Gila! Itu kan tidak kita anggarkan? Buku itu urusan guru mata pelajarann bukan urusan kita.”

“Ya Bu, semua sudah saya jelaskan tapi kepsek tetap pada pendiriannya, saya juga

sudah mengatakan kalau OSIS masih banyak kegiatan”

” Berapa jumlah yang harus dikeluarkan Nun?”

” lima juta , Bu “

” Tuh uang sebesar itu kan bisa untuk lima atau enam kegiatan”

” Benar Bu, saya sudah katakan hal itu padanya, katanya kegiatan pun harus lebih diseleksi lagi.

Kegiatan keluar yang boleh diikuti hanya kegiatan untuk tingkat kota saja”

” Ya sudah lah, biar saya nanti yang akan berbicara padanya”

” Terimakasih Bu, Assalamualikum”

” Waalaikumsalam, terimakasih kembali atas laporannya ya”

Arini terdiam sebentar, matanya masih mengikuti langkah Bu Nuni yang baru saja

meninggalkan ruangannya. Diketuk-ketukannya ballpoin di tangan pada meja di depannya.

” Ini benar-benar keterlaluan!” gumamnya pada dirinya sambil berjalan menuju ruang kepala sekolah.

” ” Hai Bu Arini, ada apa menemui saya?” Tanya kepala sekolah ketika Arini sudah berada di hadapannya.

” Ada yang ingin saya bicarakan Bu. Ibu ada waktu buat saya? “

” O..tentu saja, silakan tentang apa Bu Arin?”

” Tentang buku yang di drop dari dinas itu Bu.”

” O Ya, terus kenapa? Itu kan sudah saya bicarakan dengan Bu Nuni.”

” Justru itu, saya ingin membicarakan tentang pembayarannya”

” Itu pun sudah saya bicarakan pula dengan Bu Nuni.”

” Nahh itu dia Bu, saya kemari karena Bu Nuni tidak bisa mengeluarkan uang tanpa acc saya”

” Lho kok begitu, saya kan sudah meminta pada Bu Nuni untuk mengeluarkan uang itu.

Saya kan pimpinan di sini?”

” Betul Bu, tapi ini organisasi. Bu Nuni staf saya, dia tidak mau mengambil keputusan

tanpa konfirmasi dengan saya”

” Kalau begitu ya tinggal di acc saja oleh Bu Arini, apa susahnya?”

” Di situlah letak masalahnya, saya tidak bisa menyetujuinya.Saya tidak setuju kalau

uang buku itu dibayar dari dana kesiswaan karena tidak ada hubungannya dengan

kegiatan kesiswaan. Menurut saya, buku itu lebih tepat diserahkan saja pada

bendahara komite atau dana perpustakaan karena erat kaitannya dengan kegiatan siswa di kelas.”

” Jadi menurut Bu Arin , Bu Arin tidak akan menyetujui pembayaran buku itu dari dana kesiswaan, begitu?”

” Begitulah Bu, kita juga kan tidak menganggarkannya, biasanya kan kalau untuk

kepentingan pembelajaran, ibu selalu membebankan kepada siswa.

Bagaimana kalau buku itu kita bebankan saja kepada siswa? “

” Itu sama saja dengan menghancurkan karir saya, Bu Arini tahu kan,

sejak ada Bos, kita tak bisa melakukan itu!”

” Kalau begitu bayar saja dari Bos, atau tidak perlu dibeli saja Bu? “

” Bu Arin, saya lebih tahu bagaimana cara menggunakan uang Bos.

Bu Arin juga pasti tahu apa akibatnya bila buku itu kita tolak. Dikemanakan wajah saya di MKS nanti”

” Begini saja Bu, bagaimana kalau kita gunakan saja dana taktis?”

Arini tiba-tiba saja teringat pada dana taktis yang tersimpan di kepsek.

Ya dana kesiswaan seluruhnya ada enam puluh juta rupiah, lima belas juta tersimpan di kepsek

sebagai dana taktis. Dana itu dikeluarkan bila ada pengeluaran darurat dan mendadak di luar program.

Ya semacam dana cadangan.

” Apa? Dana taktis? Bu Arin tahu dari mana tentang dana taktis?” kepsek terlihat kaget.

” Tentu saja Bu, tidak hanya saya tapi semua wakasek tahu tentang dana itu. Itu komitmen kami dengan kepsek lama, sebelum ibu datang ke sekolah ini sebagai PLT” tegas Arini, dilanjutkan dengan penjelasan panjang lebar mengenai penggunaan dana taktis yang menurut perkiraan Arini, kepsek baru belum tahu.

” Dana taktis sudah habis” nada bicaranya berubah agak tinggi tapi tanpa ekspresi.

” Habis Bu? Habis dipakai apa? Ini kan baru bulan September, perasaan belum ada kegiatan yang mendadak dan darurat? Mengapa Ibu tidak konsul dengan saya?”

” Habis dipakai untuk apa itu tanggung jawab saya, Lalu konsul dengan Bu Arini apa urusannya? Saya kan kepsek di sini, saya berhak membuat keputusan sendiri dan itu hak prerogatif saya sebagai pimpinan” suara kepsek terdengar semakin meninggi, sepertinya ada sesuatu yang tidak berkenan di hatinya atas sikap Arini.

” Betul Bu, Ibu adalah pimpinan di sini, tapi dana itu ada di bawah tanggung jawab saya sebagai wakasek kesiswaan, saya ikut bertanggung jawab atas penggunaannya dan saya pula nanti yang harus menandatangani laporan pertanggungjawaban di akhir kegiatan nanti, kepsek lama selalu bermusyawarah dulu bila akan menggunakan dana itu.” Tegas Arini mantap tapi tetap ada dalam kesopanannya.

” Jangan bandingkan saya dengan kepsek lama!’ Kepsek terlihat sangat emosional, dia berdiri dari duduknya sementara Arini dengan wajah yang tenang masih duduk dengan sopan di hadapannya.

Arini hanya tersenyum kecil melihat sikap kepsek.

” Bu, ini sekolah bukan kandang sapi, yang saya bicarakan bukan individu kepsek lama dan baru tapi manajemennya. Kita berbicara tentang manajemen sekolah. Komitmen di sekolah ini sudah seperti itu. Ibu tidak bisa mengambil kebijakan sendiri tanpa bermusyawarah terlebih dahulu dengan para wakasek”

” Cukup Bu Arini ! Silakan keluar dari ruangan saya” kepsek terlihat sangat marah, matanya sedikit memerah, ada garis kebencian dan kekesalan terlihat jelas pada wajahnya dan itu semua ditujukan pada Arini yang dianggapnya telah lancang.

” Terimakasih atas waktu yang ibu berikan. Assalamualaikum” Arini keluar ruangan dengan santai tidak terlepas senyuman yang selalu tersungging di bibirnya. Itulah Arini, senyum bagi dia adalah bahasa hati

Telinga Arini masih sempat mendengar kepsek ngomel-ngomel sendirian di ruangannya. Entah apa yang diucapkannya..

” Ada apa lagi Bu Arin? ” Kaur di ruang tatalaksana menyapa Arini yang baru saja keluar dari ruangan

kepsek.

” Tanya saja sendiri pada kepsek” di depan Kaur yang sudah sangat akrab dikenalnya, Arini tidak bisa menyembunyikan kekesalan hatinya. Kaur hanya tersenyum saja melihat Arini seperti itu. Ya semua orang di sekolah ini tahu siapa Arini. Dia adalah guru yang tak pernah takut oleh siapa pun.

Arini terus berjalan menuju ruang guru. Ia mencari komputer yang kosong di sana. Sayangnya tak ada satu pun. Ini jam pulang sekolah. Sejak dipasang jaringan internet di sekolah ini, sejak itu pula para guru gemar pulang agak telat. Mereka asyik dengan kesibukannya sendiri ngutak- ngatik komputer. Ada yang browsing tak sedikit pula yang chatting. Ya chatting menjadi kegiatan baru di sekolah ini setelah sebelumnya diramaikan oleh permainan bilyard yang ada di belakang ruang guru, atau tersedia pula key board bagi guru yang senang bernyanyi. Ah mana ada sekolah lain yang menyenangkan seperti ini, itu semua berkat jasanya kepsek lama yang sekarang sudah purnabakti.

Ya begitu pula halnya dengan Arini. Arini sudah lama akrab dengan internet. Benda yang satu ini langsung menjadi bagian yang penting dalam hidup Arini. Dia bisa menggali informasi sebanyak-banyaknya . Hal itu sangat menunjang sekali untuk profesi sampingannya sebagai penulis.

Seperti saat itu, begitu melihat komputer di ruang guru penuh, ia pun melangkah menuju ruang IT yang terletak di lantai dua. Ruangan berkarpet biru yang sejuk dan nyaman. Di sanalah Arini bisa bebas berselancar di internet. Ia pun sudah punya tempat tersendiri di sudut ruangan. Tak ada seorang pun yang berani menempati tempat itu. Tempat itu seolah sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dengan rutinitas Arini di sekolah. Ia betah ber jam-jam di ruangan itu.

Arini pun merasa lebih menyukai tempat itu dibanding ruangannya sendiri yang terletak di sebelah ruangan kepsek. Di ruangannya sendiri malah tak ada jaringan internet. Di sana hanya ada sebuah komputer kerja saja. Itu semua atas kesepakatan bersama antar wakasek untuk menjaga pandangan orang

Tentang kegiatan chatt di internet. Maklum sulit mengubah imajinasi orang tentang chatter yang selalu saja dikaitkan dengan hal yang kurang baik.

Benarkah hal itu? Bisa iya bisa tidak. Bagi Arini chatt bisa dijadikan pelampiasan segala perasaan yang berkecamuk di dalam hatinya. Seperti halnya saat ini. Ia ingin menumpahkan segala yang mengganjal di hatinya kepada siapa saja yang ada di room. Ia bisa memarahi siapa saja di sana . Arini akan semakin senang bila kemarahannya ditanggapioleh para chatter lain yang sama sekali tidak dikenalnya. Itulah salah satu kebiasaan Arini bila sedang kesal pada siapa pun, termasuk kesal pada kepala sekolah, seperti halnya saat ini. Kebiasaan yang jelek dan sangat aneh bila ditinjau dari etika chatting dan jalinan silaturahmi. Itu yang sering dikatakan sahabatnya, tapi Arini tidak peduli.

Dibukanya YM, ternyata hari ini rupanya jaringan kurang bagus. Arini hanya melihat seraut wajah bulat kuning sedang tertawa dan meloncat-loncat lucu sekali. Arini jadi teringat kata-katanya pada salah seorang teman mayanya, kalau mahluk kecil bulat itu adalah anaknya yang diberi nama Kay. Entah dari mana Arini mendapatkan nama itu karena tiba-tiba saja muncul di kepalanya ketika dia sedang bercakap-cakap dengan teman mayanya itu. Arini dengan sabar menunggu list terbuka.

List pun terbuka juga, Arini melihat beberapa nama dalam list nya menyala terang tapi dia tidakbermaksud untuk menyapa seorang pun di antara teman-temannya. Mouse ia gerakkan untuk mengarah ke chatt sebagai pintu masuk ke room. Tiba-tiba sebuah PM muncul di layar monitor ” Ha..ha..ha…akhirnya kamu muncul juga…” Arini tak jadi masuk ke room. Begitu ia melihat siapa pemilik PM yang tidak lain adalah seseorang dengan ID aandrea, teman yang sudah lama dan sangat akrab dikenalnya.

” Haii, apa kabar? Sudah lama ol?”

” Lumayan dah sepuluh menitan, aku menunggumu Arin!”

” O…ya? Arini tersenyum, entah kenapa , selalu saja ada rasa bahagia bila melihat ID ini menyala dan menyapanya dengan hangat.Lupalah ia pada semua kekesalan hatinya. Andrea telah membuat semuanya terasa menyenangkan.

” Hei Arin, kamu tahu tidak, aku tadi telepon ke sekolahmu katanya kamu sudah pulang. Aku tek percaya, makanya aku sabar aja menunggu kamu ol. Ha..ha..ha.. ternyata feelling aku benar, kamu belum pulang!”

” Wah, ini kejutan. Ada apa pake telpon aku ke sekolah?” Tanya Arini entah kenapa hatinya tiba-tiba saja cemas.

” Kejutan manis! Apalagi bila kamu tahu di mana aku sekarang..” jawab dari sebrang sana.

“Wahhh…katakan doong kamu ada di mana Andree” tulis Arini penuh rasa ingin tahu

” aku ada di warnet dekat sekolahmu’

‘ apa ? Jadi kamu ada di Camellia net? Warnet yang ada di depan sekolahku itu?” selidik Arini.

” Bener..banget! Kena kamu sekarang, aku ingin bertemu kamu Arin. Bagaimana caranya? Kamu datang ke sini atau aku yang datang ke sana? ” desak Andrea.

Dug! Jantung Arini berdegup kencang, aliran darahnya terasa berhenti. Nekat banget Si Andre, pake berani datang segala. Apa yang harus ia lakukan pada Andrea? Haruskah Andrea diperlakukan seperti Minami? Minami teman maya dari Osaka yang ngotot ingin bertemu Arini karena Arini sangat mirip kekasihnya yang telah tiada. Kontan saja Arini sangat ketakutan, ia tak menyangka Minami akan sejauh itu. Arini panik dan langsung mengarang cerita menyatakan seolah-olah Arini sudah mati.Trik itu berhasil, putuslah hubungan persahabatan Arini dan Minami.

Satu lagi Teguh. Ia juga ngotot ingin bertemu dengan Arini. Waktu berkata begitu, dia sudah berada di kota di sekitar lokasi tempat kerja Arini. Arini cepat berkelit dengan meminta maaf dan mengatakan dia sedang berada di luar kota. Ternyata triknya kali ini tak mempan buat Teguh. Teguh yang ahli teknologi sangat tahu kalau Arini berbohong. Dari note book yang selalu setia menemaninya , Teguh tahu kalau Arini masih berada di lokasi yang sama. Teguh marah, ia paling tidak suka dibohongi. Teguh pun memutuskan persahabatannya dengan Arini dan Arini sama sekali tidak merasa kehilangan.

Kini muncul Andrea dalam jarak yang hanya sekitar sepuluh meter dari sekolah tempat Arini bekerja. Duuh, bagaimana ini? Apa yang harus dilakukan?” Arini panik. Dia tak menyangka masalahnya akan sejauh ini. Selama chatt dia sama sekali tidak berharap untuk bertemu dengan siapa pun termasuk dengan Andrea yang sudah lebih kurang 5 bulan ini dikenalnya. Persahabatan yang diharapkan cukup hanya di dunia maya saja, kini malah akan dibawa ke dunia nyata. Ya sekarang masalahnya jadi seperti ini, Arini benar-benar bingung apa yang harus dia lakukan.

” Ariiiiiiinnnnnnnnnnnn, kenapa diaaaaammm..cepaaaatt jawab! Kamu ada di mana sekarang?” Andrea berteriak di PM, Arini semakin panik. Ia sama sekali tidak menyangka akan bertemu dengan sahabat mayanya secepat itu.

” Maaf..maaf, betul aku masih di sekolah. Aku diam karena nggak nyangka bakal ketemu kamu secepat ini. Iya..iya.., kamu aja yang ke sini ya Aku ada di ruang multimedia. Tanya saja pada satpam di depan, di mana ruang multimedia. Katakan kamu mo ketemu aku. Aku menunggumu di sini, ok?”

” Ok sayang, aku datang sekarang”

Arini tersenyum dipanggil sayang. Dalam hatinya berkata, pasti Andrea akan menyesal memanggil Arini dengan kata sayang. Setelah tahu siapa dirinya. Ya pasti Andrea menyangka kalau Arin itu wanita yang cantik, mempesona seperti yang sering dia ceritakan tentang wanita -wanita idolanya. Waah Arin sangat jauh dari sosok seperti itu. Arin tidak modis, tidak manis malah terkesan nyeleneh. Namun apa pun masalahnya keputusan untuk bertemu Andrea sudah dibuat. Ya Arini telah memutuskan untuk bertemu dengan Andrea. Ini semua harus diakhiri sebelum Andrea-Andrea lain bermunculan karena keisengan Arini di dunia maya. Dia pun bergegas ke luar menuju ruang multimedia yang masih berada di lantai dua juga.

Arini memang tak pernah berniat bertemu dengan teman-temannya di dunia maya. Arini merasa semua itu sudah tak pantas dia lakukan. Dia bukan wanita lajang dan usianya juga sudah tidak muda lagi. Apalagi teman-temannya di dunia maya pada umunya laki-laki semua yang keadaannya pun tidak jauh berbeda dengan Arini. Arini pun sulit untuk mamahami pertemanan macam apa yang terjadi antara dua orang dewasa lain jenis yang umumnya sudah berstatus istri atau suami. Atau itu hanya sebuah pemikiran dangkal Arini saja? Ah tak tahulah.

Namun kini ia tak kuasa berkata tidak pada Andrea. Orang yang satu ini terlalu baik untuk dibohongi dan ditolak kehadirannya. Biarlah, apa yang terjadi terjadilah. Arini harus berani menghadapinya.

” Bu Arin, ada tamu dari Jakarta mencari ibu” sebuah suara dari balik pintu tiba-tiba saja mengagetkan Arini.

” O..ya? Suruh masuk saja” jawab Arini tanpa melihat siapa yang berbicara tadi, ia sibuk mengotak-atik komputer yang ada di ruang multimedia. Di ruang itupun banyak juga guru-guru lain teman Arini yang sedang sibuk merancang model pembelajaran. Ada juga beberapa guru yng sedang asyik chatt. Arini bangkit dari duduknya setelah selesai mematikan komputernya. Baru saja dia membalikkan tubuhnya, seseorang tinggi tegap berdiri di depan pintu ruang multimedia, di antar oleh salah seorang teman guru.

” Bu Arini, ini ada yang mencari “

Arini tertegun melihat yang datang, dipersilakannya masuk dan duduk, sambil matanya tak lepas memeperhatikan tamu yang baru saja datang. Badannya tinggi tegap, berkumis tipis dengan senyuman yang selalu tersungging di bibirnya, menambah simpatik orang yang baru datang itu. Entah kenapa hati kecil Arini mengatakan kalau orang yang baru pertama dilihatnya itu adalah Andrea. Maka ia pun langsung menyapanya

” Haii, Andrea ya? Saya Arini” kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulut Arini. Ia sama sekali tidak berpikir bagaimana kalau salah. Begitulah Arini selalu super yakin pada dirinya, pada kata hatinya. Diulurkannya tangannya kepada sang tamu yang menyambutnya dengan hangat dan tidak lepas dari senyuman.

” Tadi pagi” kata si tamu dengan ramah.

” Haaiii Bu Arin, kok nggak dikenalkan niiihh” teman-temannya mengingatkan Arini, Arini baru sadar kalau di ruangan itu ada beberapa temannya. Arini tersipu sekaligus heran karena tak biasanya teman-temannya minta dikenalkan pada tamu yang datang buat Arini.

” Tentu doong, kenalkan nih teman lamaku waktu kuliah dulu” jawab Arini sekenanya. Ya masalahnya bisa jadi gawat, kalau mereka sampai tahu, yang datang itu teman chatt.Wah itu bisa jadi issue terheboh di sekolah apalagi bila yang melakukannya adalah salah seorang wakasek . Malum pandangan orang tentang chatter selalu miring apalagi pakai kopdar dengan lawan jenis pula.

Andrea duduk setelah berkenalan dengan teman-teman Arini. Selanjutnya Arini berpikir di mana tempat yang baik untuk berbincang-bincang dengan Andrea. Di ruangan itu rasanya tak mungkin, di ruang guru apalagi,di ruang pribadinya terkesan terlalu resmi, di rumah? Ah kurang enak kalau belum bicara dengan suami apalagi pada jam-jam begini suaminya masih di kantor. Ah tiba-tiba saja Arini teringat dalam salah satu pembicaraan Andrea di chatt, kalau dia sangat suka batagor. Senyum kecil pun tersungging di bibir Arini. Ya batagor Bandung yang terkenal itu kan buka cabang dekat sekolah Arini. Ya kesitulah Arini akan membawa Andrea. Berdua mereka pun ke luar dari gedung sekolah, menuju tempat penjual batagor.

Sayang sekali, hari ini Andrea kurang beruntung, si tukang batagor tidakberjualan. Akhirnya Arini membawa Andrea ke sebuah café mungil tak jauh dari tempat itu. Tempatnya cukup tenang dan terlindung dari pandangan orang-orang tapi tidak terkesan bersembunyi. Itu memang tempat langganan keluarga Arini bila kebetulan arini malas masak.

” Senang sekali bertemu denganmu”, Andrea membuka pembicaraan ketika mereka sampai di café dan memilih sebuah tempat di sudut ruangan yang nyaman. Sayup terdengar alunan musik pengiring makan siang yang lembut

” Ya, inilah aku teman mayamu, selama ini kamu hanya mengenal aku lewat pik yang kupasang di pm. Inilah aslinya, ancur kan?’ canda Arini.

” Ha..ha..ha… orang begini manis dibilang ancur! ‘Andrea tetap saja selalu memuji. Ya seperti itulah dia di dunia maya. Hangat , bersahabat sungguh tak berbeda dengan Andrea di dunia nyata.

” Rin, sebelumnya aku sama sekali nggak ada niat untuk menemuimu. Hanya saja aku ada urusan ke Bandung. Eh waktu aku nunggu mobil, aku melihat banyak anak-anak SMP lewat. Aku lihat dari identitas sekolahnya sepertinya itu siswa-siswa kamu. Ya langsung saja aku Tanya letak sekolahnya sekalian aku juga tanyakan kamu kepada mereka. Eh ternyata mereka semua mengenalmu dan jarak sekolahmu ternyata nggak jauh dari lokasi aku menunggu mobil. Ya udah aku coba aja mampir, abis ditelepon katanya dah pulang, tapi tadi aku lihat kamu ol. Ah senangnya aku ketemu sahabatku, gimana kamu juga senang nggak ketemu aku?” Andrea menjelaskan panjang lebar tentang bagaimana dia bisa sampai ke sekolah Arini.

Arini tersenyum saja mendengar Andrea bercerita. Ah orang ini sangat menyenangkan, dia benar-benar terbuka dan selalu berbicara apa adanya.

” Emang ada urusan apa kamu ke Bandung?.”

” Biasa laaahh Rin, kan aku dah cerita ke kamu tentang aku”

‘ Ooohh, nengok anakmu ya. Jadi rumahnya di komplek daerah sini ya? Kok bisa kebetulan begitu Dree?”

‘ Kamu nggak nyangka ya, emang dah jodoh kaleee” canda Andrea.

Arini pun tersenyum. Ya Andrea pernah cerita tentang perjalanan hidupAndrea yang pernah mengalami kegetiran dalam rumah tangganya, membuat Andrea harus berpisah dengan anak yang sangat dicintainya. Kini sang anak telah beranjak remaja, tinggal dengan nenek dari ibunya karena sang ibu menikah lagi dan tinggal di ibu kota. Sementara Andrea pun sudah beristri lagi dan sudah memiliki anak dari pernikahannya yang kedua. Namun begitu, sebagai seorang ayah ia tidak melepas tanggung jawabnya.Setiap bulan dengan telaten ia menjenguk buah hatinya. Ya itulah Andrea. Laki-laki tegar yang diam-diam dikagumi Arini dan kini telah berada di hadapannya. Lebih dari itu, ternyata Andrea pun masih satu alamamater dengannya. Dia pernah jadi ketua Hima di salah satu fakultas di kampus tempat Arini kuliah dulu.

Arini tidak menyangka seseorang yang selama ini begitu akrab di dunia maya, ternyata jauh lebih mempesona ketika bertemu di dunia nyata. Dunia nyata mungkin lebih bisa memvisualisasikan sosok dirinya yang tidak terhalangi oleh layar monitor. Kehangatannya, keterbukaannya, simpatik dan sopan santunnya semua terlihat jelas. Membuat Arini merasa betah berlama-lama ngobrol dengannya.

Selama ngobrol diselingi tawa dan canda, keduanya tak henti bertukar cerita. Yah mereka berdua seolah dua sahabat lama yang sekian puluh tahun tidak bertemu lalu dipertemukan kembali dalam situasi yang berbeda.

Tak terasa jarum waktu pun terus berjalan begitu cepat. Hidangan yang tersaji di atas meja pun sudah tinggal piring-piringnya saja. Arini melirik jam tangannya Wah sudah pukul lima sore. Ia pu melirik pada Andrea,

” Andree, kamu nggak kesorean pulang ke Jakarta?” ada kecemasan dalam nada kalimat yang diucapkannya.

” Aku nggak mau pulang, masih betah di sini ngobrol denganmu” goda Andrea. Arini mencibirkan bibirnya. Lalu tersenyum.

” Bukan begitu, istrimu di rumah pasti khawatir menunggumu, bukan aku nggak betah lama-lama ngobrol denganmu tapi aku khawatir kamu kemalaman di jalan. Jadi kamu musti pulang ya?”

‘ Oke, kalau begitu aku sekarang pulang. Terimakasih atas waktumu menemaniku makan siang di sini’ ujar Andrea tanpa lepas dari senyuman dan tatapan yang sulit diartikan maknanya oleh Arini. Sikapnya itu membuat rona merah di wajah arini. Arini merasa gamang ditatap seperti itu. Namun tidak dipungkiri ada desir hangat yang diam-diam menelusup ke relung hatinya yang paling dalam. Sebuah rasa yang entah dari mana datangnya dan baru kali itu dirasakan kembali oleh Arini setelah sekian lama, sejak pernikahannya dengan suaminya.

” Jangan pandangi aku seperti itu Andree! Aku tahu aku jelek!’ Arini pura-pura kesal. Andrea tidak mau mendengarnya, ia malah permisi ke toilet.

Arini pun pergi menemui kasir untuk membayar semua makanan dan minuman yang telah dipesannya. Sang kasir malah tersenyum dan mengatakan kalau semua makanan itu telah dibayar, lalu si kasir menyerahkan uang kembaliannya pada Arini. Sejenak Arini terdiam, dipandangnya sejumlah uang kembalian yang telah berada di tangannya. Tiba-tiba Andreea muncul. Arini langsung memberondongnya dengan sejumlah pertanyaan.

‘ Apa-apaan ini? Kamu tamuku, aku dong yang harusnya menjamu kamu.”

” Ooo tidak bisa Non, di mana -mana laki-laki dong yang harus nraktir! Jawab Andrea kalem

” Nyonya! Bukan Nona!” Arini meralat ucapan Andrea.

” Ups…salah ya, oke Nyonya, semua pesanan sudah saya bayar” canda Andrea sambil membungkukkan badannya, persis seperti seorang resepsionis hotel yang menghormat tamu istimewanya.

” Nggak lucu ah! Nih ambil kembaliannya. Jangan sekali-kali lagi begitu ya? Lain kali aku lho yang harus bayar” Arini sedikit kesal tapi tentu saja hal yang tak mungkin kalau mereka terus berdebat tentang siapa yang harus membayar makanan di awal pertemuan mereka.

” Kita lihat saja nanti.. Arinn, sekarang aku pamit. Ok aku harus naik jurusan apa dari sini?”

” Jalan kaki juga nyampai’ canda Arini

” Jangan gitu dooonng’ tawa Andrea. Arini pun mengantarkan Andrea ke tempat kendaraan yang akan membawanya ke stanplat bis.

Sebelum pergi Andrea menyalami tangan Arini, lama sekali.

” Terimakasih atas waktumu, hari yang sangat menyenangkan dan takan kulupakan. Aku pulang ya, awas kamu pun hati-hati di jalan. Salam buat keluargamu”

Arini hanya tersenyum dan mengangguk, kerongkongannya seolah tercekat dan sulit untuk berbicara lagi. Laki-laki ini benar-benar sangat bersahabat. Arini hanya memandang kepergiannya sampai mobil yang membawanya menghilang di tikungan jalan. Ada sesuatu yang terasa hilang dari genggaman, ada rasa yang seolah melayang terbawa oleh sepasang tangan yang begitu erat menjabatnya. Ah…ini perasaan macam apa?

6 Tanggapan

  1. hhhmmm… sangat menarik, dialektika yang sangat kontras antara “diri” sebagai insan pendidik yang sarat dengan label sebagi sosok “sempurna” yang tidak boleh melakukan sedikit pun kesalahan, dan di sisi lain sebagai sosok yang murni “perempuan” yang memiliki kepekaan rasa……, dan sedikit “nakal”, walau hanya di dunia maya… Persoalan norma yang dipertaruhkan dalam cerita ini, adalah karena status Arini, selain sebagai pendidik, dia juga sebagai perempuan yang telah menjadi istri dari seorang suami……

    cerita ini bisa membuka mata para pembaca dan masyarakat yang tidak berada di luar “dunia pendidikan” untuk emnyadari bahwa guru adalah juga manusia biasa yang memiliki rasa dan perasaan serta hasrat manusiawi seperti halnya manusia-manusia lainnya…..

    by the way…. cerita ini belum tuntas, jadi belum bisa dikomentari lebih lanjut dan tuntas….
    more than that…. ada karakter yang tetap kuat tertera dalam gaya cerita teh Reny…., yaoti pada “penyederhanaan” improvisasi dalam bercerita, selalu lugas dan langsung pada permasalahannya, akan tetapi sangat detil dalam alur pokok cerita.
    Hal yang semakin mantap dan kuat adalah pada konsistensi alur cerita, mungkin karena improvisasinya yang sedemikian disederhanakan. Penjelasan mendetil dr persoalan dunia pendidikan tampak lebih dominan, dibandingkan improvisasi dalam menggambarkan “imaji” dialog antara tokoh (Arini) dengan Andrea… Mungkin, karena seperti disebutkan penulis dalam pengantar cerita ini, kisah cinta Arini-Andrea hanya sekedar bumbu. Sangat disayangkan, dikhawatirkan cerita ini berubah menjadi laporan pandangan mata tentang aktivitias guru di sekolah beserta berbagai problematikanya…….
    ……. at all… for now….

  2. ralat…..
    cerita ini bisa membuka mata para pembaca dan masyarakat yang berada di luar “dunia pendidikan” untuk menyadari ***

  3. Ketika profesi penulis menjadi pilihan kita, ada yang harus kita pegang teguh, yaitu komitmen. Komitmen untuk apa? untuk keseriusan dalam menggeluti profesi ini (totalitas). Totalitas seorang penulis akan tergambar pada karyanya yang terdiri dari dua unsur (kulit dan isi), yang keduanya tidak boleh tidak harus matang dan final. Apalagi bila sebuah karya diciptakan untuk dikonsumsi oleh masyarakat umum.
    Untuk karya Bu Reni ini, saya tidak akan berbicara isi. Saya ingin membahas masalah kulit (cangkang), yang merupakan modal awal dan utama untuk seorang penulis.
    Karya ini tidak mengindahkan ejaan dan tanda baca. Ada 24 kalimat yang tidak diakhiri dengan tanda titik. Belum tanda koma, dan huruf-huruf yang seharusnya dimiringkan, terabaikan!
    Orang-orang yang kritis akan berpendapat: untuk hal yang sepele saja tidak teliti, bagaimana dengan hal-hal dan persoalan besar?
    Sekali lagi, untuk seorang penulis yang sudah berani go public atau mungkin go international, harus mau membuka-buka referensi, jangan malu bertanya pada ahlinya, dan jangan segan membuka-buka buku-buku panduan yang berhubungan dengan bidang kita.
    Dan karena kita juga seorang guru, kesalahan-kesalahan kita sekecil apa pun akan menular pada anak-anak didik kita, bila kita tidak berusaha memperbaikinya.

  4. Terimakasih atas komentarnya. Sungguh saya baru menyadarinya kalau saya terlalu berani mempublikasikan tulisan saya di media tanpa berpikir lebih jauh. Saya seharusnya tahu kalau komunitas pembaca media internet bukanlah orang sembarangan tapi orang-orang intelektual.

    Selama ini saya hanya berorientasi pada kata ‘ Senang Menulis’ menulis bagi saya adalah wisata jiwa sekaligus terapi hati. Makanya saya menulis apa yang saya lihat, apa yang saya rasakan, apa yang saya alami, apa yang ada dalam angan-angan atau mungkin saja apa yang ada dalam bayangan, yang semuanya saya tuangkan ke dalam cerita fiksi maupun non fiksi. ( he..he..he… bayangan kan adek kakak dengan angan-angan ) Ya. tanpa pernah sekalipun bermimpi untuk menjadi penulis profesional sekaliber Hamka, Pramudya Ananta Toor, Andrea Hirata atau Habiburahman.

    Ketika saya menulis, yang ada dipikiran saya, bukan saya sebagai apa atau siapa tapi saya harus menulis dan menulis. Motivasi saya hanyalah ucapan seorang sahabat, yang mengatakan :” Bila kamu ingin menulis, menulislah, biarkan pikiranmu mengalir seperti air. jangan berpikir tentang bagus atau tidaknya tulisanmu karena bila itu yang jadi acuan, maka takan lahir sebuah tulisan”.

    Sekali lagi, terimakasih atas semua koreksiannya, mudah-mudahan hal itu tidak terulang lagi dalam penulisan mendatang. Salam.

  5. Buat Kang Gibson

    Benar Kang, maksud saya juga seperti itu, ingin menulis sesuatu yang tidak ditulis oleh orang lain. Membaca komentar Akang, saya jadi termotivasi sekaligus jadi merenung kembali kalau cerita ini tidak boleh digarap asal-asalan. Makanya untuk misi itu saya mengambil latar cerita dari dunia yang saya pahami dengan baik.

    Waktu penerbitan per episode juga relatif lama, sehingga banyak teman-teman yang protes karena ingin cepat tahu kelanjutannya. Bahkan ada juga yang mengatakan kalau ide saya menulis ibarat ejakulasi dini ( Hii..hii..hii ada-ada saja yaa…) Makanya untuk semua itu saya mohon maaf, maklumlah saya banyak berpoligami dalam hal waktu. sebagian waktu saya harus terbagi untuk suami, anak-anak, para siswa, tugas-tugas saya di sekolah dan juga kejar-kejaran dengan dead line.

    yup, mudah-mudahan saja cerita ini menjadi sebuah cerita yang enak untuk dibaca, atau menjadi sebuah cerita yang menarik untuk dicaci. Bagi saya semua itu sangat berguna untuk pengalaman saya dalam dunia tulis menulis.

  6. manusia tampil, karena merasa belum sempurna dan ingin sempurna. manusia selalu berada dalam proses yang terus menjadi. kita melakukan sesuatu karena ingin menggenapkan…. menyempurnakan, bukan karena telah sempurna. itulah sebabnya, kenapa Tuhan memerintahkan kita untuk selalu belajar. oleh karena itu, kesalahan dan ketidaksempurnaan bukan alasan untuk diam dan tidak berbuat, dan juga untuk tidak mencoba hadir dalam kerumunan masyarakat dunia.
    Dalam menjalani hidup, kita berkarya bukanlah karena telah merasa bisa dan telah sempurna sempurna, akan tetapi keinginan untuk bisa dan sempurna serta selalu mencoba untuk selalu merealisasikannya dalam bentuk karya…. tak ada karya yang sempurna, selain karya Illahi….

    Wallahu’alam…

Tinggalkan Balasan