Ada Dusta dalam Cerita ( SCA, Episode 2 )

Pukul lima lebih tiga puluh menit Arini baru sampai ke rumah. Ia melihat suami dan Anis anak ketiganya sedang asyik menyaksikan acara televisi di ruang tengah.

“ Sore sekali pulangnya Ma dari mana saja ?’ sapa suaminya ketika dengan manjanya Arini duduk di sampingnya sambil meneguk jus jeruk yang ada di atas meja.

“ Waaahh enak sekali jusnya, siapa yang buat nih? “ Arini malah tidak menjawab pertanyaan suaminya.

“ Aku yang buat, tapi bukan untuk mama itu untuk papa, kalau mama mau, buat saja sendiri” Anis anak bungsunya yang menjawab pertanyaan Arini. Arini hanya tersenyum, nada suara Anis seakan protes karena Arini pulang sore..

“ O..ya? tapi boleh kan Pa, mama minta dikit?” canda Arini, dikecupnya pipi suaminya.

“ Pertanyaanku belum dijawab. Mama dari mana kok pulang sampai sore begini? Sudah solat belum?’ suaminya

kembali mengulang pertanyaan yang sama.

“ Pap, mama kan lagi nggak solat, trus hari ini banyak sekali pekerjaan yang harus mama selesaikan. Coba saja dari buat perencanaan karya wisata, pendataan siswa berprestasi terus membuat laporan hasil loka karya dan out bond minggu kemarin , belum lagi harus mengajar di kelas. Waahh cape sekali jadinya. Trus kedatangan teman lagi” Arini menjelaskan panjang lebar tentang kegiatannya hari itu kepada suaminya.

“ Teman? Teman siapa dan dari mana?” selidik sang suami penuh rasa ingin tahu. Arini baru sadar kalau masalah kedatangan teman tak seharusnya diceritakan namun semua telah terlanjur meluncur dari mulutnya. Itu salah satu sifat Arini , ia tidak bisa berbohong apalagi pada suaminya. Ia bimbang akankah berterus terang saja? Aneh ada suara di relung hatinya yang jawabannya bertolak belakang dengan hati nuraninya. Suara itu begitu keras berteriak di telinga Arini, gaungnya menggema ke dinding hati bahkan sampai ke aliran darah yang ada dalam urat-urat nadinya, hingga mampu mengalahkan isi hati nuraninya. Getaran aneh yang ada di luar kekuasaan Arini untuk mengendalikannya.

“ Papa ingat Nanang yang dulu KKN bareng mama? Yang ngajarnya di Pasundan? Dia itulah yang datang” Arini sendiri terkejut dengan jawaban yang meluncur begitu saja dari mulutnya.

“ Ya…Tuhan, sejak kapan aku berbohong pada suami?’ hati kecilnya berbisik.

“ Mau apa dia?”

“ Ya biasa silaturahmi, dia juga ingin mutasi ke sekolah mama”

“ Mutasi ke sekolahmu? Aneh! Dia kan guru SMA, masa mau pindah ke SMP?”

Oups! Inilah kalau berbohong, cape rasanya, otak jadi bego begini tapi aku harus bisa meyakinkan suamiku. Hati Arini kembali berdalih.

“ Emang dari dulu Si Nanang itu aneh, seperti Papa nggak tahu saja” kata Arini sambil berjalan menuju kamarnya lalu keluar lagi dengan handuk di tangan terus berjalan menuju kamar mandi. Sengaja ia lakukan itu untuk menghindari introgasi lebih jauh dari suaminya. Entah kenapa untuk yang satu ini Arini tidak ingin suaminya tahu. Diam-diam ia juga berdoa mudah-mudahan Tuhan tidak mempertemukan suaminya dengan Si Nanang, paling tidak untuk waktu dekat ini.

“ Hati-hati Pap, jangan percaya begitu saja. Mama sekarang suka chatt, jangan-jangan dia kopdar dulu sama teman chattnya, lama-lama bisa jadi selingkuh tuh Pap!’ Anis yang dari tadi diam saja tiba-tiba menimpali.

Jantung Arini hampir saja copot. Ada-ada saja anak yang satu ini. Dia seolah punya mata batin yang tajam. Banyak orang bilang kalau Anis adalah duplikat Arini. Anis cerdas, terbuka, kalau bicara selalu apa adanya dan tak pernah takut oleh siapa pun. Dia juga paling suka ngritik orang apalagi pada Arini ibunya.

“ Ooo , jadi mama ini pantas ya punya selingkuhan? Wah asyiiikkk dong!’ canda Arini menutupi keterkejutannya.

“ Iiihh jijay banget!Awas aja kalau berani begitu! Lagian sapa juga yang naksir mama” Anis mendelik.

“ Sembarangan! Kalau iya ada gimana? Hayoohh gimana?”

“ Harus berhadapan denganku! Tak tahu malu!” tantang Anis.

“ Sudah! Sudah! Anak sama ibu sama saja bawelnya. Mama lagi kayak anak kecil saja. Sana cepat mandi lalu siapkan makan malam. Kita makan bersama setelah solat magrib ” kata suaminya sambil berdiri dari tempat duduknya lalu pergi ke musola diikuti oleh Anis. Sementara Arini bergegas pergi ke kamar mandi.

*

“ Assalamualaikum ,” sebuah suara menyapanya dengan lembut, ternyata Airlangga, anaknya yang sulung menyapa Arini yang sedang sibuk membuka lemari es, mencari bahan makanan yang bisa dimasak untuk makan malam.

“ Waaalaikusalam, kamu toh? Jam segini baru pulang, dari mana? Sana ikut si Papap ke mushola!”

“ Biasa Ma, latihan futsal untuk even liga pelajar, aku juga terpilih sebagai team debat dalam bahasa inggris Ma!” kata Airlangga bangga.“ Wow! Hebat dong anak mama, wah ini harus dirayakan!”O ya Ma,tadi Nuzul SMS, katanya pulangnya malam karena sibuk latihan buat konser tunggalnya nanti di Jakarta” Nuzul adalah anak kedua Arini.

“ Ya, mama juga tahu. Dia tadi siang telpon mama juga”

“ Trus sekarang Mama masak apa?”

“ Yang ada Cuma ikan kerapu dan brokoli, kita balado aja ya, brokolinya dicah pake saus tomat, enak lho!”

“ Aku nggak suka kerapu dibalado, udah digoreng mentega aja Ma!”

“ Eeeehh, kerapu itu enaknya di saos tiram! Saos tiram aja Ma!” Anis tiba-tiba saja ikut berbicara dari balik pintu mushola. Arini tidak menanggapinya ia sibuk membersihkan ikan kerapu dan melumurinya dengan perasan air jeruk nipis, dilanjutkan kemudian dengan memotong-motong sayur brokoli dan memilih tomat-tomat yang matang untuk dibuat saus. Dicarinya saus tiram dan mentega dalam lemari dapur. Beberapa siung bawang putih, bawang bombay, garam,merica semua dijadikan bumbu untuk masakannya.

“ Goreng mentega Ma” kata Airlangga.

“ Saos tiram!” Anis tak mau kalah

“ Goreng mentega, kata aku goreng mentega, goreng mentega. Kamu tuh anak kecil, harus nurut sama yang lebih tua!”

“ Yeehh, Kakak yang harus ngalah pada adiknya!” Anis tak mau kalah.

“ Ya, ampuuuunnn, makanan saja yang diributkan! Hayoh cepat solat! Langga, sekarang giliran kamu jadi imam!” Suaminya berteriak dari dalam mushola yang jaraknya memang tidak begitu jauh dari ruang makan dan dapur.

Airlangga tak menunggu perintah dua kali, dia bergegas membersihkan tubuhnya dan segera masuk ke mushola. Tak lama kemudian terdengar lantunan ayat-ayat suci alquran dikumandangkan oleh Airlangga. Begitu agung, syahdu mengalun seolah mengantar sang senja ke peraduan malam.

Diam-diam rasa bahagia menyelusup ke relung hati Arini. Ia merasa seolah mendengar suara dari surga ketika menyimak lantunan ayat suci dikumandangkan oleh Anaknya. Airlangga, remaja yang sebentar lagi menginjak dewasa, telah tumbuh menjadi laki-laki tampan yang cerdas, berprestasi, tak pernah meninggalkan solat dan sangat pintar mengaji. Ah ibu yang mana yang tidak bangga melihat anak-anaknya tumbuh menjadi anak-anak yang bisa dibanggakan.

Sejak SD, Airlangga selalu menjadi bintang kelas. Nuzul lain lagi, bakatnya di bidang musik dan olah raga membuatnya selalu sibuk dengan berbagai aktivitas di luar rumah.Beberapa kali dia menyumbangkan kejuaraan bagi sekolahnya. Nuzul selalu menjadi kebanggaan guru-guru dan juga kedua orang tuanya, terutama Arini ibunya.

Si bungsu Anis walaupun agak manja, dia dikenal sebagai salah seorang anak tercantik di sekolahnya. Selain itu dia sangat cerdas dan kreatif. Dia tak pernah menyusahkan orang tua. Anis sudah pintar mencari uang sendiri dengan keterampilan yang dimilikinya. Tulisan-tulisan Anis yang sering dimuat di majalah remaja, membuat Anis tak perlu minta uang jajan atau keperluan sekolah. Belum lagi kepiawaiannya dalam membuat gula-gula coklat yang sering dijual ke toko-toko atau kantin sekolahnya. Anis tak pernah membiarkan waktu berlalu begitu saja, selalu saja ada yang bisa dia kerjakan. Itulah mungkin yang membuat Anis lebih bisa bersikap mandiri dan tak segan mengritik ibunya.

“ Waaahhhh, kok kerapunya aneka rasa Ma? “ sapa suaminya sambil memeluk pinggang Arini dari belakang.

“Papa…kebiasaan ya, malu ah dilihat anak-anak, eh..sudah beres solatnya ? Yu kita makan ! Macam-macam ya ikannya, pesanan Airlangga dan Anisa kan berbeda”

“ Pesanan papa mana?” Tanya suaminya lagi, dikecupnya tengkuk Arini seolah dia tidak mendengar protes Arini untuk tidak bermesraan di depan anak-anak.

“ Lho, papa kan nggak pesan apa pun”

“ Papa minta cah brokoli pake saus tomat’

“ Ooohh, kalau itu dah mama buatkan, empingnya juga dah digoreng tuh, ada sambal hijau juga kesukaan papa”

“ Buahnya mana?”

“Hari ini tidak ada buah kan habis di jus sama si Anis. Jadi mama ganti aja dengan pudding caramel, nggak apa-apa kan?” Tanya Arini memohon.

“ Asyiiikk dong, hai anak-anak hayoh kita makan. Eh Ma, jangan lupa sisakan dulu buat Nuzul. Sepertinya dia tidak bisa makan malam bersama

“ Tenang sudah mama siapkan”

Mereka pun makan malam dengan akrabnya walaupun ada yang kurang karena ketidak hadiran Nuzul si tukang ngocol.

“ Langga, selesai makan nanti kamu cuci piring lalu ke Griya, persediaan makanan di lemari es sudah habis. Anis, besok tugasmu menyiapkan makan malam dan makan siang, jadi pukul satu siang kamu sudah harus ada di rumah. Untuk makan pagi , biar mama yang urus.” Seperti biasa Arini membagi tugas buat anak-anaknya. Kebiasaan itu sudah sejak lama diberlakukan tepatnya sejak mereka tidak lagi membutuhkan pembantu di rumah.

“ Nuzul apa tugasnya Ma?” Tanya Airlangga, anak itu selalu saja tak mau kalau tugasnya lebih berat dari adiknya, terutama Nuzul.

“ Tugas Nuzul membersihkan rumah dan pekarangan” jawab Arini.

“ Papa? “ suaminya ikut mengacungkan tangan dengan mimik yang lucu.

“ Tugas Papa cari uang yang banyak buat bekal liburan nanti “ Anis yang jawab.

“ Setujuuuuuu, liburan nanti kita ke Bromo ya Pap!” kata Airlangga semangat.

“ Oke, tapi kalian semua harus bisa meningkatkan atau paling tidak mempertahankan prestasi dalam semester ini”

“ Siap Bos! “ keduanya serempak menyepakati. Setelah kesepakatan dibuat mereka pun bubar dari ruang makan lalu berkumpul di ruang TV, menyaksikan acara malam itu sambil menunggu Nuzul pulang, namun pada akhirnya Nuzul menyampaikan pesan lewat telepon kalau malam ini dia tak bisa pulang karena menginap di rumah guru musiknya. Arini tak bisa mencegahnya Ia hanya berpesan agar Nuzul tidak lupa solat dan makan , sekaligus pula diingatkan kalau pukul lima pagi Nuzul harus sudah berada di rumah.Sebelum  Nuzul berangkat ke sekolah rumah dan pekarangan harus sudah bersih.

Malam pun kian merayap perlahan, dingin dan sunyi. Tak ada lagi suara televisi dari ruang tengah. Anak-anak telah terlelap dalam pelukan mimpi yang manis tentang liburan panjang yang sebentar lagi menjelang.

Hanya Arini yang masih terjaga. Ia baru saja selesai membuat rencana pembelajaran untuk esok. Badannya terasa pegal, perlahan dia masuk ke kamar. Dibukanya lemari pakaian, sehelai gaun tidur yang lembut dikeluarkannya dari dalam lemari lalu dipakainya, ah gaun yang manis, hadiah ulang tahun dari suaminya.

Jam di dinding berdentang sebelas kali. Malam kian sunyi, dari balik jendela kamar tampak sang bulan bersembunyi malu-malu sementara angin dengan lembut membelai pucuk-pucuk daun mangga yang sedang berbunga. Ada wangi melati dan sedap malam yang diam-diam menyelinap ke dalam kamar.

Di depan meja rias, Arini duduk termangu.Selamat malam Arini, sapanya sambil tersenyum pada bayangannya sendiri di cermin. Diambilnya milk cleanser, disapukannya dengan lembut ke wajahnya disusul kemudian dengan face tonic. Setelah itu olesan cream zaitun menyapu seluruh wajah dan lehernya yang jenjang, tercium wangi semerbak sari zaitun yang lembut . Dilanjutkan kemudian dengan mengoles sedikit liff balm ke bibirnya, setelah itu beralih ke rambut. Disikatnya dengan lembut rambutnya yang hitam panjang dan ikal. Terakhir disemprotkannya sedikit Sarah Jesica ke bagian belakang telinga dan pergelangan tangan.

Yang terakhir itu merupakan salah satu kebiasaan Arini yang sulit dihilangkan. Sejak kecil Arini tidak bisa tidur tanpa wewangian. Itu karena ulah neneknya yang mengatakan kalau tidur harus wangi, agar dijaga bidadari. Waktu kecil, Arini sangat ingin bertemu dengan bidadari yang kata neneknya sangat cantik dan baik hati. Kata neneknya pula, bidadari akan datang menemani kala kita tertidur lelap. Benar atau tidak cerita itu, bagi Arini sudah tidak penting lagi, yang jelas Arini sangat suka memakai wewangian menjelang tidur sampai saat ini. Anehnya kalau siang hari justru dia tidak menyukai wangi apa pun selain lotion.

Di tempat tidur, tampak suaminya sudah terlelap, seekor nyamuk nakal hinggap di pipi nya. Arini geram, dikibaskannya tangannya untuk mengusir si nyamuk nakal yang kontan terbang menjauh begitu melihat hentakan tangan Arini. Ada titik merah bekas gigitan nyamuk, di pipi suaminya, dikecupnya dengan lembut dan perlahan direbahkannya tubuhnya di samping suaminya. Matanya nanar melihat kemana gerangan sang nyamuk terbang, Arini ingin meremas nyamuk kurang ajar itu. Namun sang nyamuk telah terbang entah ke mana.

Dalam rebah, mata Arini sulit terpejam. Sesuatu tiba-tiba saja hadir mengganggu pikirannya. Andrea! Nama itu tiba-tiba muncul di kepalanya diikuti kemudian dengan bayangan wajahnya, senyumnya, pandangnya semua seakan menyatu dalam satu peristiwa tadi siang. Ah bayangan Andrea ketika tadi siang mereka ngobrol di café itu terus menari-nari dan bergelayut dalam benaknya. Pertemuan yang manis.

Pertama kali sejak pernikahannya, Arini ngobrol akrab berdua dengan laki-laki lain selain suaminya dalam acara makan siang pula. Untuk orang lain mungkin itu hal biasa tapi bagi Arini hal itu sangat luar biasa. Bisa juga dikatakan sebagai hal yang aneh! Lebih aneh lagi karena Arini tidak sedikitpun merasa bersalah atau menyesali keputusannya untuk bertemu dengan Andrea. Ah entah setan mana yang merasuki pikirannya, entah hukum mana yang mempengaruhinya. Arini seolah mengesampingkan satu hukum yang berlaku yaitu tidak dibenarkannya seorang wanita muslim, apalagi sudah bersuami berdekatan dengan laki-laki yang bukan muhrimnya karena hal itu bisa mendatangkan fitnah.

“Tolong jangan tanyakan itu padaku!” hatinya tiba-tiba saja berbisik lirih. Dia tak mau berperang dengan hati kecilnya karena dia sendiri tidak mengerti, kenapa dia begitu akrab dengan Andrea padahal mereka baru pertama bertemu. Entahlah, pertemuan dengan Andrea seolah membawa Arini ke dalam dunia indahnya dahulu yang sekian tahun telah terenggut waktu dan hampir dilupakannya. Bersama Andrea Arini merasa ada sesuatu yang hidup kembali dan berkobar di hatinya entah apa. Ada semangat dan gairah yang indah untuk menatap hari esok. Senyum Andrea adalah penawar kerinduan yang seolah datang merengkuh Arini dalam kehangatan. Kerinduan pada apa, pada siapa Arini tak tahu dan sulit untuk menjelaskannya.

Salahkah untuk semua itu? Inna amalu binniat. Tiba-tiba kalimat itu melintas dalam pikirannya. Kalimat yang sering didengar Arini dalam pengajian ibu-ibu di masjid. Ya apa pun yang dikerjakan seseorang bergantung pada niatnya. Kalimat itu telah membuat Arini sedikit merasa terlepas dari pikiran yang seolah menyudutkannya. Perlahan rasa kantuk pun mulai menyerang,diliriknya jam di dinding kamar, jarumnya tepat mengarah ke angka 12. Dari ruang tengah terdengar pula dentangan nyaring dua belas kali, suaranya menyeruak di tengah malam yang dingin. Bersamaan dengan itu, Arini pun rebah berselimut mimpi.

3 Tanggapan

  1. ehmm bagus sekali ceritanya…ada romantis juga nih….ditunggu sambungannya…jangan lama2 yah?…..

  2. Apa yang kami cari Arini..? itu barangkali pertanyaan yang akan terlontar bila melihat kondisi keluarganya yang demikian romantis, akrab, anak-anaknya berprestasi…. Tak ada yang kurang, bahkan cenderung Ideal. KAlau pun sampai Arini terjebak dalam lindu sang angin cinta, bukan kekecewaan atau sejenisnya yang menderong Arini membiarkan diri masuk dalam pusaran angin cinta tersebut. Rutinitas yang membelenggu? Mungkin…. atau iseng? rasanya tidak ditemukan karakter iseng pada diri Arini untuk iseng dalam hal besar seperti ini, cinta.
    Apakah sudah tidak ada lagi cinta pada suaminya? rasanya tidak juga, tidak ada gelagat itu…. terlalu romantis dan ideal kehidupan keluarga Arini untuk kehilangan cinta pada suaminya…
    Misteri cinta…. sedang bergulir dalam lembaran kehidupan Arini, walau masih samar-samar.
    Sangat menarik tuk terus disimak, bukan sekedar sebuah cerita, akan tetapi juga mengajari kita tentang riak gelombang dan misteri cinta. Sesuatu yang konon tidak ada dalam kamus apa pun, selain dalam lembar-lembar kehidupan manusia yang paling riil….. no reasons for love but love.
    ……………………

  3. Yah mungkin adanya dunia cyber, chat room dan YM sepertinya memberikan inspirasi kepada orang2 yang memang ahli menulis yang ahirnya membuahkan novel2 ini. Nggak tahu yah bener nggak pendapat saya….yah maklum saya ini orang yg tdk ada ilmu, cuma perasaan yang saya punyai….he he he….

Tinggalkan Balasan