AKU MERINDUKANMU ARINI( SCBA episode 3 )

“Anak-anak, apa yang disampaikan temanmu tadi tentang puisi Chairil Anwar yang berjudul ‘ Derai-derai Cemara” sangat luar biasa, ayo siapa lagi yang akan mencoba menjelaskan isi puisi Chairil yang lain?” tanya Arini yang sedang asyik dengan kegiatan pembelajaran di dalam kelas.

“ Saya Bu” seorang anak laki-laki jangkung yang duduk di belakang mengangkat tangannya.

“ Bagus! Puisi apa yang akan kamu ceritakan Feby?”

“ Senja di Pelabuhan Kecil”

“ Silakan berdiri di depan, bacakan terlebih dahulu puisi itu dengan baik”

SENJA DI PELABUHAN KECIL

Ini kali tiada yang mencari cinta

Di antara gudang rumah tua pada cerita

Tiang serta temali

Kapal perahu tiada berlaut

Mempercaya diri maut berpaut

Gerimis mempercepat kelam

Kelepak elang menyinggung muram

Desir hari lari berenang

Menemu bujuk pangkal akanan

Tidak bergerak, tanah dan air tidur hilang ombak

Aku sendiri berjalan menyisir semenanjung

Masih pengap harap

Sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan

Dari pantai keempat sedu penghabisan

Bisa terdekap

Suara Feby mengalun indah, kadang tenang, kadang meloncat, kadang lembut kadang menghentak bagai sebuah simfoni hati yang hanyut dalam irama jiwa. Feby, salah seorang siswa terbaik di kelas itu yang pernah menjuarai lomba baca puisi tingkat kota, kepiawaiannya sudah tidak diragukan lagi. Maka tak heran bila tepuk tangan seisi kelas bergemuruh untuk Feby. Arini tersenyum bangga. Bangga pada muridnya yang pintar membaca puisi.

“ Kamu tetap hebat Feb! “ puji Arini

“ Sekarang silakan kamu ceritakan isi puisi itu dengan bahasamu sendiri dan yang lain, menyimak dengan baik. Komentar dan pertanyaan, diberikan bila Feby sudah selesai membaca dan menjelaskan isinya. Pertanyaan dibagi ke dalam dua termin, setiap termin diberikan kepada empat orang penanya atau pemberi saran. Pertanyaan, saran dan jawaban yang baik akan mendapat satu bintang dari ibu. Silakan kalian kumpulkan bintang sebanyak mungkin untuk mengisi nilai apresiasi sastra! Mengerti semua? “ Arini menjelaskan panjang lebar aturan kegiatan pembelajaran kepada para siswanya di dalam kelas.

“ Namun awas! Pertanyaan atau saran yang tidak sesuai dengan isi permasalahan akan mendapat pengurangan bintang, kalau tidak mau melepaskan bintangnya maka sebagai gantinya harus rela dihukum. Hukumannya menari atau bernyanyi! Bagi yang tidak setuju silakan angkat tangan dan kemukakan dengan argumentasi yang jelas!” Arini menambahkan penjelasannya. Semua murid bersorak gembira tanda setuju pada aturan main kegiatan pembelajaran siang itu.

Pembelajaranpun dimulai dengan pembentukan kelompok yang bertugas sebagai penanya, pemberi saran, penyanggah dan juga penilai. Arini membagikan format penilaian kepada setiap kelompok. Itulah cara Arini memberi nilai, selalu melibatkan siswa dalam menentukan penilaian. Dia akan senang bila hasil penilaian siswanya tidak jauh berbeda dengan hasil penilaian dirinya. Semua itu sengaja dilakukan agar dapat meningkatkan motivasi siswa dalam belajar, lebih jauhnya melatih siswa untuk bersikap obyektif dan bertanggung jawab.

Gelak tawa renyah gembira terdengar dari dalam kelas mengalahkan bel yang berbunyi nyaring menandakan jam pelajaran bahasa Indonesia sudah harus berakhir. Arini bergegas membereskan buku-buku, menutup note book dan mematikan LCD. Anak-anak di kelas menekuk wajahnya seolah menyatakan ketidaksetujuannya pada teriakan bel karena masih betah belajar dengan Arini.

“ Anak-anak, kita cukupkan sampai di sini saja ya, lusa kita akan belajar mengubah puisi menjadi drama.”

“ Bu, nanti dramanya kita pentaskan di pekan apresiasi seni ya Bu?” Syifa yang duduk di kursi terdepan mengajukan usul.

“ Usul yang bagus! Kalian siapkan saja nanti. Oh ya Bahtiar, puisi-puisi terbaik karya teman-temanmu yang ibu berikan kemarin, sudah kamu publikasikan di website kita?”

“ Sudah Bu, bahkan sekalian saya kirimkan ke redaksi majalah remaja, langsung lewat e-mail”

“ Terimakasih kalau begitu, mudah-mudahan ada yang dimuat lagi dari kelas ini, oh ya selamat pada kalian yang artikelnya telah dimuat di koran minggu ini”

“ Bu, Jumat sore ibu kami tunggu di De Cost” Sri sang ketua murid menimpali

“ Ada acara apa pake acara ke De Cost segala? “

“ Makan-makan Bu, Dian, Syifa, Sri dan Rizki mau nraktir, kan artikel Syifa, Dian juga cerpen Rizki dan Sri di muat di koran dan majalah”

“ Waaahh asyyiikk dong, iya insyaallah Ibu datang, sekarang Ibu pergi yaa, assalamualaikum!” Arini pun ke luar dari kelas diiringi ucapan salam dan tatapan murid-muridnya yang seolah ingin menahan Arini untuk tetap berada di dalam kelas.

Di luar, ia berpapasan dengan Bu Nuni yang mau masuk pada pelajaran berikutnya di kelas sebelah.

“ Cantik sekali Ibu hari ini! Eh tahu nggak Bu? Kecantikan seorang wanita itu hanya ada dua penyebabnya. Pertama bila dia sedang jatuh cinta, kedua bila dia sangat dicintai !” Bu Nuni menggoda Arini.

“ Bisa aja Bu Nuni ini, pasti ada maunya niiihhhh” canda Arini

“ Nggak kok Bu, emang bener Ibu cantik! Oh ya Bu, buku itu jadinya dibayar sama bendahara komite!” suara Bu Nuni sedikit direndahkan.

“ Baguslah, namun siap-siaplah kita kena sanksi di awal tahun ajaran baru nanti!” Arini mengingatkan Bu Nuni.

“ Siapa takut? Lagian mudah-mudahan saja Kepsek definitif segera datang! Bisa ancur sekolah kalau dipegang terus oleh dia!” tegas Bu Nuni.

“ Kalau ternyata dia dikukuhkan jadi Kepsek definitif?”

“ Kita kasih pelajaran aja, biar dia tahu siapa kita”

“ Hush! Hati-hati kalau bicara, dinding di sekolah ini bisa dengar!”

“ Emang aku pikirin? “ kelakar Bu Nuni sambil masuk ke dalam kelas. Arini hanya mengedipkan sebelah matanya sebagai balasan atas ucapan Bu Nuni. Tanpa disadari kelakuan mereka berdua dilihat oleh anak-anak yang kebetulan ke luar kelas untuk mengikuti pelajaran olah raga. Malunya Arini.

Bubar sekolah, Arini baru keluar dari mushola, bergegas memasuki ruang guru, tumben ada komputer nganggur, dihampirinya salah satu komputer di ruang itu. Dipijitnya tombol komputer maka terpampanglah di layar monitor data file yang berisi arsip kegiatan pembelajaran. Satu demi satu berkas pekerjaan siswa yang sudah dinilainya dimasukkannya ke dalam file. Beres memasukan nilai di kliknya jaringan yang mengarah ke internet. Dibukanya yahoo mail untuk mengecek surat yang rencananya akan dikirim oleh penerbit pada hari itu. Biasa, surat pernyataan diterima tidaknya naskah yang dikirim dua minggu yang lalu. Ternyata tak ada surat untuknya selain beberapa tugas siswa yang salah masuk,yang seharusnya ke mailing list malah masuk ke emailnya.

Tiba-tiba matanya menangkap sebuah tulisan berjudul “ Aku Merindukanmu Arin…” tertulis dengan jelas pada subjek e-mail. Penasaran dibaca siapa pengirimnya, ternyata Andrea.Ada getar halus merasuki seluruh hatinya, dibukanya dengan penuh penasaran. Andrea mengirim e-mail? Mau apa dia?

Arin, apa kabarmu hari ini?

Aku baik-baik saja. Kamu tahu aku senang sekali dengan pertemuan kita kemarin siang itu. Aku tidak tahu kenapa begitu. Kamu berjalan di sampingku, duduk dan makan siang bersamaku, aku betul-betul sangat bahagia. Tak kusangka aku akan bertemu dengan orang semanis dan sebaik kamu. Sungguh kamu orang termanis yang pernah kutemui!

Arin, tahukah kamu? Aku paling tidak suka bila ada perempuan mepet-mepet ke aku. Aku paling tidak suka itu! Anehnya kok denganmu malah aku yang mepet-mepet ke kamu dan aku membiarkan kamu juga mepet-mepet ke aku. Ada apa denganku Arin?

Malamnya aku tidak bisa tidur karena wajahmu tidak mau hilang dari ingatanku. Aku kadang tersenyum sendiri mengingat semua itu. Ah betapa indahnya pertemuan kita. Aku merasa seolah bertemu kembali dengan kekasihku dulu yang lama tidak bertemu karena dipisahkan oleh sang waktu yang kejam. Arin apakah semua ini cinta? Apakah kamu juga merasakan hal yang sama denganku?

Aku merindukanmu Arin, aku merindukan kembali pertemuan-pertemuan kita. Sungguh aku sayang kamu!

Rinduku

Andrea

Serasa ingin meledak dadanya waktu Arini selesai membaca surat Andrea. Ada getar indah di hatinya yang sekuat hati ditepisnya jauh-jauh. Perasaan apakah ini? Sadarkah kamu Arini kalau kamu sama sekali tidak pantas mempunyai perasaan itu?Hatinya terus berkata seolah protes pada apa yang dirasakannya saat itu.

Tanpa disadarinya, dibukanya yahoo messenger, terlihat ID Andrea menyala terang,belum disapa personal mesagenya sudah muncul duluan di layar monitor.

“ Hai manis apa kabar? Dari tadi aku menunggumu!’ sapa Andrea.

“ Aku baik-baik saja,kamu bagaimana?Jam berapa sampai di rumah? “

“ Aku juga sehat berkat doamu, aku sampai di rumah jam 8 malam. Eh sudah kamu baca e-mailku?”

“ Baru saja, terimakasih ya, maaf belum kubalas kan aku baru saja on line”

“ Sibuk ya, Rin sejujurnya kukatakan, baru kali ini aku temui orang semanis kamu”

“ Mulai lagi ya! Aku tidak suka digombali Andree!”

“ Eeehhh siapa lagi yang gombal, orang ngomong apa adanya kok!”

“ Ha…ha..ha.., aku baru denger orang seusiaku dibilang manis untung nggak pake kata hitam, bisa bahaya tuh!Entar hilang manisnya tinggal hitamnya. Ah kamu ini ada-ada saja Dree, kamunya aja kali yang baru ketemu manusia! Jangan becanda kamu Andre!”

“ Arin, aku sama sekali tidak becanda! Aku tahu kita berdua sudah tidak muda lagi, tapi kita kan belum terlalu tua untuk jatuh cinta ”

“ Cinta? Kamu jatuh cinta? Jatuh cinta pada siapa?”

“ Jangan pura-pura bego Arin! Aku jatuh cinta padamu! Sejak kita bertemu di dunia maya aku sudah menyukaimu. Pertemuan kita kemarin semakin meyakinkanku kalau aku jatuh cinta padamu, aku sangat menyayangimu, siapa pun dirimu Arin”

“ Andree….Andree, kamu sadar nggak siih kalau kamu itu sudah beristri dan aku sudah bersuami? Masa kamu jatuh cinta padaku . Ngaco kamu Andre!”

“ Emang salah kalau kita jatuh cinta?”

“ Salah sekali! ”

“ Teori siapa yang mengatakan kalau kita jatuh cinta itu salah? Hayo… teori siapa?”

“ Tak ada teori Andree yang ada hanyalah logika! Kita harus berpikir logis”

“ Sejak kapan cinta mengenal logika? Cinta itu absurd Arin, absurd!”

“ Aku tahu Andree,selain cinta itu absurd, cinta pun bisa membuat yang benar jadi salah yang salah jadi benar. Kita tidak boleh dipermainkan oleh perasaan itu, kita bukan anak kemarin sore Andree”

“ Arin, terserah apa katamu namun aku sangat menyayangimu dari lubuk hatiku yang paling dalam, tolong jangan kamu tanyakan kenapa aku menyayangimu. Kini ijinkan aku bertanya padamu dan kumohon kamu menjawab dengan jujur,apakah kamu menyayangiku? Apakah kamu merasakan hal yang sama denganku? Jawab Arin”

Arini terdiam ditanya seperti itu oleh Andrea. Dia ingin berteriak, ingin menjerit melawan kata hatinya yang bertentangan dengan isi kepalanya.

“Buzzzz!”tulisan merah terlihat berulang-ulang menandakan Andrea butuh jawaban dengan segera.

“Jawab segera Arin..” Andrea tak sabar.

“ Buzzzz! Buzzz!” tulisan berhuruf merah itu kembali dikirim berulang-ulang.

“ Arin sedang apa kamu? Kok diam saja, kalau kamu tidak suka pada pertanyaanku, ya lupakan saja!”

Tulisan Andrea terus masuk ke PM nya, Arini tetap membisu. Tangannya tak sanggup lagi untuk menulis.Ia bingung harus menjawab apa. Padahal apa susahnya menulis ya atau tidak. Ah tidak sesederhana itu, kali ini perasaan Arini tidak sedang bisa diajak bermain-main apalagi bergombal ria. Ada beban yang menghimpit hatinya entah kenapa ia merasa jawaban ya atau tidak yang ia tulis nanti harus bisa dipertanggungjawabkannya di kemudian hari.

Kini pikiran Arini jadi melayang ke masa lalu. Sejak kecil kehidupan Arini sangat akrab dengan laki-laki. Dia anak perempuan satu-satunya dari keluarga Antawirya. Ketiga adiknya laki-laki semua, pembantu rumah, sopir ayahnya juga pengurus kebun semuanya laki-laki. Menginjak remaja, Arini yang tomboy lebih mudah berteman akrab dengan laki-laki dari pada perempuan karena itu Arini tahu betul sifat laki-laki. Maka ketika bertemu Andrea, Arini langsung bisa menebak kalau Andrea bukan tipe laki-laki gombal perayu wanita. Dari sorot matanya, Andrea adalah tipe laki-laki yang selalu siap mempertanggungjawabkan segala yang dilakukannya. Andrea juga bukan tipe laki-laki asal bicara, dia tahu sekali dengan apa yang dia katakan dan itu pasti sudah dipertimbangkan dengan matang. Pengalaman hidup telah mengajarkannya begitu.

Ingin Arini menulis kalau dia pun merasakan hal yang sama dengan Andrea. Ia pun sebenarnya ingin bercerita kalau semalam wajah Andrea menari-nari dalam benaknya. Namun hati kecilnya tetap mengatakan kalau ia tak pantas berkata seperti itu. Dunia pasti akan menertawakannya!

Akhirnya ia hanya menulis “ Andree, aku off dulu yaa, see you next time, bye!” dan tanpa menunggu jawaban, Arini langsung sign out.

Ia duduk termenung di depan komputer, hatinya gelisah resah. Teringat kembali pada Andrea. Senyumnya, keramahannya, keterbukaannya, kehangatannya, ah Andrea kenapa hati Arini jadi bernyanyi? Perasaan rindu diam-diam menyelinap dalam kalbunya, ingin sekali Arini membuka kembali list nya, ia tahu, pasti Andrea kecewa dengan kelakuannya yang pergi begitu saja, pasti Andrea sedang menunggunya namun sekuat hati Arini menepisnya, menepis segala perasaan rindu yang hampir memecahkan dadanya. Pergilah kamu sejauh mungkin Andre, kita tak mungkin saling mencintai. Tak terasa ada setitik air bening menggayut di sudut mata Arini.

Satu Tanggapan

  1. ehmmmm …begitulah daya tarik antara dua sejoli yang bisa saja kita katakan CINTA.. Cinta tidak pandang usia, cinta datang dari hati, semua dapat merasakannya. tapi cinta Arini dan Andrea disini harus hati2 karena mereka semuanya sudah tidak sendiri lagi…..Apakah penulis bisa menjalinkan cinta yg bahagia antara Arini dan Andrea tanpa merusak rumah tangga mereka?…tunggu saja cerita lanjutan nya……

Tinggalkan Balasan