Andrea tertegun, dipandanginya note book yang ada di hadapannya. Tampak di layar monitor beberapa personal message berdatangan menyapanya. Tak satupun yang dibalasnya. Hatinya risau dan bingung. Pikirannya pada Arini. Kenapa Arini tidak mau menjawab pertanyaannya? Kenapa Arini tiba-tiba pergi dan menutup pembicaraan begitu saja? Adakah yang salah dari sikapnya?
Arini! Ah…dalam enam bulan terakhir nama itu selalu mengisi relung jiwanya. Tak diundang tak diharapkan. Dia datang begitu saja mengetuk hatinya yang paling dalam. Menggetarkan jiwanya, meresahkan tidurnya. Berapa kali ia bertanya pada hatinya perasaan apa sebenarnya yang bersemayam di hatinya itu? Cintakah atau hanya suka?
Andrea merasakan ada sesuatu yang lain di mata Arini ketika pandangan mereka sempat bertemu. Laki-laki mana pun akan tahu arti pandangan itu. Tatapan lembut bersahabat. Tatapan yang menyimpan ketenangan, kehangatan dan harapan.Ah, harapan macam mana pula itu? Misteri! Namun sebagai laki-laki ia harus bersikap terbuka. Ia tak bisa menyimpan sesuatu yang sifatnya masih samar. Ia perlu tahu karena di hatinya pun telah lama tersimpan perasaan khusus yang entah apa namanya. Persaan khusus buat Arini yang tidak bisa ia berikan kepada teman yang lain. Untuk itu ia perlu menyatakan langsung isi hatinya secara terbuka . Namun tak disangka Arini tak seperti yang diduga.
Perempuan dimana-mana juga sama. Selalu sulit di duga. Bicara berbelit-belit. Padahal apa susahnya bilang iya atau tidak, habis perkara! Arini…Arini, apa sebenarnya yang ada di hatimu? Andrea terus bertanya pada dirinya sendiri. Ia lebih suka keterusterangan dari pada permainan teka-teki. Namun mana ada perempuan di dunia ini yang mudah untuk dimengerti.
Arini, nama itu pertama kali dia kenal lewat dunia maya. Keceriannya, keterbukaannya dalam setiap pembicaraan membuatnya merasa sangat dekat. Semakin lama pertemanan semakin memikat. Arini yang cerdas enak diajak bicara soal apa saja. Dari masalah pendidikan, politik, budaya, sastra, ekonomi, teknologi, otomotif sampai ke masalah paling konyol sekali pun, bila dibicarakan dengan Arini selalu nyambung.
Satu hal yang tidak disukai Arini yaitu berbicara soal sex cyber, inilah bedanya Arini dengan teman-teman chatnya yang lain. Arini hangat, bersahabat tapi sopan. Dia lah satu-satunya wanita dalam list Andrea yang selalu disapanya dengan sopan dan penuh kasih sayang serta persahabatan. Hal itu pulalah yang membuat hatinya ingin bertemu agar bisa melihat lebih dekat bagaimana sosok Arini di dunia nyata.
Keinginannya itu kesampaian. Waktu Andrea ada keperluan ke Bandung, ia tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia nekat menemui Arini tanpa konfirmasi terlebih dahulu. Itu sengaja ia lakukan agar bisa membuat kejutan.
Sebuah pertemuan yang manis. Andrea sama sekali tidak menyesal dengan pertemuan itu. Ternyata Arini jauh lebih menarik dari yang ia bayangkan sebelumnya. Tubuhnya ramping, senyumnya manis, sikapnya sangat ramah dan menyenangkan. Ada getar lembut di hatinya ketika pertama kali menjabat tangan Arini. Entah kenapa hatinya begitu bahagia ketika berjalan berdua sambil bertukar cerita, dilanjutkan kemudian dengan makan siang bersama. Ada ketenangan yang merasuk ke dalam hatinya. Walau di lubuk hatinya yang paling dalam ada pertanyaan yang tak terjawab. Untuk apa ia melakukan semua itu? Pantaskah itu dia lakukan? Ya, menemui seorang perempuan yang sudah bersuami? Sementara dia sendiri sudah beristri? Istri yang muda dan jelita, yang telah memberinya dua orang anak yang sangat lucu. Untuk apa ia ingin bertemu dengan Arini?
Tak ada satu pun jawaban untuk pertanyaan itu.
“ Arini. Arini kau seolah mengembalikan gairah darah mudaku di masa lalu. Pertemuan denganmu seolah memutar kembali kenanganku di masa lalu, membawaku ke masa-masa terindah dalam hidupku. Kau ibarat seorang kekasih yang pernah hilang ditelan waktu, kini muncul kembali dalam cerita hidupku, kembali dalam pelukanku. Ah tentu saja takan kulepaskan lagi, kau akan tetap di sisiku. Ya Tuhan kumohon jangan salahkan aku bila aku menyayanginya, bila aku mungkin mencintainya” bisik hati Andrea sambil mengklik sign out pada list YM nya.
Hari telah beranjak senja, dibereskannya kertas-kertas kerja yang berserakan di atas mejanya. Hari ini banyak sekali pekerjaan yang harus dia lakukan. Tubuhnya lelah dan pegal-pegal karena terlalu banyak duduk. Ah sepertinya menyenangkan sekali bila Arini berada disampingnya saat ini. Menemaninya minum es jeruk, bahkan memijit tengkuk dan keningnya, ah! Arini lagi, Arini lagi! Kenapa nama itu begitu lekat dalam hatinya!
Andrea mengumpat dirinya sendiri. Dicobanya membuang jauh-jauh bayangan Arini dari lubuk hatinya. Andrea mencoba mengkonsentrasikan pikirannya ke rumah. Matanya lurus ke badan jalan, sementara tangannya memegang stir, jalanan seperti biasa macet dan macet. Ah! Inilah Jakarta, diam-diam dia menyesali kenapa tadi pakai bawa mobil segala. Ia bayangkan istri dan anaknya menunggu di rumah dengan segala kerinduan. Perlahan, kerinduan pada istri dan anaknya pun mulai merayapi hatinya. Kerinduan pada Si Kecil, kerinduan pada Si Sulung dan tentu saja kerinduan pada kehangatan istri yang selalu setia mendampinginya.
“ Abang sudah pulang, cape ya? Aku siapkan air hangat untuk mandimu ya?” sapaan lembut sang istri menyambutnya dari balik pintu ketika Andrea tiba di rumah. Seperti biasa sang istri bergelayut manja di lengannya. Andrea tersenyum, dikecupnya kening sang istri.
“ Anak-anak sepertinya sudah tidur ya? Kok sepi sekali?”
“ Sudah sejam yang lalu, nuggu papinya pulang tahunya kemalaman”
“ Maafkan aku, hari ini di kantor banyak sekali pekerjaan. Tapi anak-anak nggak nakal kan?”
“ Ah nggak nakal bagaimana? Hari ini hp ku dibanting Yuri, terus adiknya dicubit” istrinya mengadukan polah anak-anaknya hari itu. Andrea tersenyum, kedua anaknya laki-laki masih balita. Dua anak hasil pernikahannya yang kedua. Anaknya dari pernikah pertama kini sudah menginjak remaja. Wajahnya sangat mirip dirinya waktu muda.
“ Ha..ha..ha…, ada-ada saja polah Yuri. Kamu harus tahu sayang, dia itu sangat butuh perhatianmu. Kamu tidak memarahinya kan? Biar nanti aku belikan lagi hp yang baru untukmu” jawab Andrea sambil terus melangkah menuju kamar anaknya. Dipandanginya wajah mungil yang sedang tidur nyenyak itu. Perlahan dihampirinya, dikecupnya dengan lembut kening Yuri. Anak itu tidur begitu tenang, begitu damai, senyum kecil tersungging di bibirnya seolah dia sedang bermimpi bermain dalam asuhan seribu bidadari surga.
“ Kamu menunggu papi pulang ya? Maafkan papi sayang, tak bisa menggendongmu dan mengajakmu jalan-jalan sore karena papi pulang malam. Papi janji hari minggu kita ke puncak lagi ya?” bisiknya lirih pada anaknya yang sedang terlelap tidur.
“Makan dulu Bang?” istrinya tiba-tiba saja sudah berada di sampingnya.
“ Tentu saja, tapi Abang mau mandi dulu” Andrea pun bergegas ke kamar mandi. Tak lama kemudian keduanya sudah berada di meja makan.
“ Masakanku hari ini bagaiman Bang? Enak nggak? Kok makannya sedikit sih nggak seperti biasanya?” sapa istrinya ketika mereka sudah berada di meja makan. Andrea terkejut, istrinya seolah tahu kalau pikirannya tidak sedang pada makanan yang dikunyahnya. Andrea tersenyum lalu mencoba menenangkan istrinya dengan kata-kata yang sangat manis.
“Tidak sayang, masakanmu enak sekali, hanya mungkin Abang baru tadi sore makan di kantor. Jadi masih belum terlalu lapar”
Ah, hampir saja! Pikir Andrea dan memang benar pikirannya saat itu tidak sedang pada istrinya apalagi pada masakannya atau makanan yang dikunyahnya. Arini ya sekali lagi Arini. Pikirannya kembali pada Arini. Bayangan perempuan itu kembali muncul dan hadir di meja makannya di wajah istrinya, di dinding rumahnya ah lengkapnya di segala yang dilihatnya.
Bayangan Arini terus mengikutinya sampai ke tempat tidurnya. Bayangan itu tidur di sampingnya, mencumbunya, merengkuhnya dengan lembut. Mengalunkan lagu cinta dan kerinduan. Membawa angan Andrea melayang jauh ke langit biru, terbang ke atas awan yang berarak indah. Baru tersadar ketika tubuh bersimbah peluh, dalam lelah, dalam rebah. Ia rengkuh tubuh istrinya dan mendekapnya dalam dadanya, dalam peluknya. Betapa ia sangat mencintainya. Sungguh, seandainya bisa, ia ingin membuang jauh-jauh bayangan Arini. Ia mencoba beberapa kali meyakinkan dirinya kalau Arini hanyalah teman maya sama seperti teman-teman lainnya. Ia mencoba meneguhkan hatinya kalau wanita satu-satunya yang ada dalam jiwanya hanyalah istrinya! Sayang sekuat itu Andrea berusaha sekuat itu pula hati kecilnya berkata, kalau ia tidak dapat mengingkari, seorang wanita lain telah hadir dalam hatinya dan tersimpan indah di sudut hatinya yang lain di belahan jiwanya yang lain. Wanita itu adalah Arini.
“Arini, biarlah waktu yang akan membawamu kembali pergi dariku…..sebagaimana waktu pula yang membawamu hadir dalam hidupku. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan, namun aku yakin kita akan menjadi teman yang baik. Akan kuusahakan untuk bisa seperti itu.” Bisik Andrea pada hatinya sendiri.
DIarsipkan di bawah: Uncategorized

Ehm…tak ada yang saya bisa tuliskan hanya ini….itulah cinta…….