<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>LAZUARDI HATI</title>
	<atom:link href="http://renik.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://renik.wordpress.com</link>
	<description>Kata Hati Bernyanyi</description>
	<lastBuildDate>Fri, 05 Mar 2010 04:01:51 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='renik.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>LAZUARDI HATI</title>
		<link>http://renik.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://renik.wordpress.com/osd.xml" title="LAZUARDI HATI" />
	<atom:link rel='hub' href='http://renik.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>KISI-KISI HATI ( Episode 5 )</title>
		<link>http://renik.wordpress.com/2008/08/27/kisi-kisi-hati-episode-5/</link>
		<comments>http://renik.wordpress.com/2008/08/27/kisi-kisi-hati-episode-5/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 Aug 2008 06:28:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>renik</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://renik.wordpress.com/?p=34</guid>
		<description><![CDATA[Malam merayap dalam kelam sunyi. Bisikan angin mencumbu pucuk daun sawo terasa halus membelai. Mendesir laksana cumbu bidadari pada sang dewa yang membujuknya agar bisa diturunkan ke bumi. Semerbak melati dan mawar yang bermekaran seolah ikut menambah syahdunya malam. Sayup lembut terdengar alunan Mozart dari kamar Arini. Sementara di dalam kamar, Arini sudah lebih dari [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=renik.wordpress.com&amp;blog=1231860&amp;post=34&amp;subd=renik&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   false false false        MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;   &lt;![endif]--><!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:IN;} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --><!--[if gte mso 10]&gt; &lt;!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} --> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Malam merayap dalam kelam sunyi. Bisikan angin mencumbu pucuk daun sawo terasa halus membelai. Mendesir laksana cumbu bidadari pada sang dewa yang membujuknya agar bisa diturunkan<span> </span>ke bumi. Semerbak melati dan mawar yang bermekaran seolah ikut menambah syahdunya malam. Sayup lembut terdengar alunan Mozart dari kamar Arini.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Sementara di dalam kamar, Arini<span> </span>sudah lebih dari setengah jam yang lalu duduk mematung di depan kaca riasnya. Kata-kata Bu Nuni dan Andrea tadi siang, terngiang-ngiang terus di telinganya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">“ Wanita terlihat cantik hanya ada dua penyebabnya, satu bila dia sedang jatuh cinta dan kedua bila dia sangat dicintai” Arini merenungkan kembali kata-kata itu. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">“ Benarkah aku cantik seperti kata Bu Nuni? Benarkah aku manis seperti kata Andrea? Kalau iya berarti aku sedang jatuh cinta? Cinta? Hai cermin bisakah kau jelaskan padaku tentang cinta?” Hatinya bertanya pada bayangannya di cermin, seolah Arini ingin meyakinkan kalau semua yang dikatakan temannya itu hanya untuk menyenangkan hatinya saja.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"><span> </span>Ingin rasanya ia memiliki cermin ajaib seperti yang ada dalam dongeng masa kecilnya. Ingin rasanya Arini bertanya pada Sang Cermin tentang kebenaran kata-kata temannya itu. Ah mengapa baru kali ini Arini merasakan betapa inginnya cerita tentang Cermin Ajaib itu menjadi nyata.Baru kali ini pula Arini merasakan betapa cermin menjadi hal yang terpenting malam ini.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Sayang, Sang Cermin tetap membisu. Ia hanya bisa memantulkan bayangan Arini tanpa bisa berkata sepatah kata pun atau jangankan berkata, bersuara saja tidak bisa.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Arini lurus memandang bayangannya, mencoba untuk tersenyum. Tampak olehnya seraut wajah lembut keibuan. Kata Anis itu wajah ibu tiri, Arini tersenyum kecil mengingat apa yang dikatakan anak bungsunya yang bawel itu. Arini yakin sebenarnya Anis sangat sayang padanya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Arini berdiri, dipandanginya seluruh tubuhnya di depan cermin. Rambutnya dibiarkan terurai sampai ke punggung. Perlahan dibukanya gaun tidur pembalut tubuhnya, tampak payudaranya yang berkamisol mini, menyembul indah dari cupnya, masih kenyal masih terlihat kencang menantang. Perutnya ramping tak terlihat selulit ataupun lipatan, ah siapa yang mengira kalau dari perut ramping itu telah lahir tiga bayi yang kini ketiganya akan menginjak dewasa. Tubuhnya masih seindah biola, kulitnya begitu halus terawat. Indah sekali. Arini tersenyum kecil. Baru kali ini Arini menyadari kalau ia masih memikat. Baru kali ini Arini menyadari kalau semua itu kadang menimbulkan iri hati teman-teman sebayanya bahkan teman yang usianya di bawah dia. Ah Madame de Suga, terimakasih atas inpirasinya! Arini berbisik lirih.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Madame de Suga? Ya itu adalah judul sebuah lukisan yang di dalamnya melukiskan keindahan tubuh telanjang mantan istri presiden RI pertama di usianya yang ke-60. Arini membaca artikel itu dua puluh tahun yang lalu di sebuah majalah wanita kesayangannya. Lukisan itu dihujat habis-habisan karena mencemarkan nama bangsa. Namun Arini sangat mengaguminya, ia tak henti berdecak kagum memandang lukisan itu.Di usia 60 tahun tubuh istri mantan presiden itu masih sangat indah, kulitnya laksana pualam. Tak ada goresan sedikitpun.Benar-benar hebat! Wanita mana di dunia ini yang tidak menginginkan hal itu? Diam-diam Arini yang waktu itu masih berusia dua puluhan mengikrarkan dirinya untuk mengikuti perawatan tubuh yang dilakukan mantan istri presiden pertama RI itu.Dia mencari dari berbagai artikel di majalah wanita ibu kota.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Mandi lulur teratur, disiplin dalam perawatan wajah minimalis, masker payudara seminggu sekali, tahan napas kalau berjalan atau berbicara, sit up 10 kali bila bangun tidur, selalu minum air putih, banyak makan buah-buahan dan sayuran, jangan menyimpan iri hati, dendam dan kebencian ,selalu gunakan bra yang pas dan nyaman, tidak memakai CD yang ketat, senam <span> </span>secara teratur, dan banyak lagi hal lainnya yang harus dilakukan. Itulah yang Arini dapatkan dari artikel-artikel yang dibacanya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Kini,<span> </span>usia Arini sudah tidak muda lagi,namun orang yang tidak tahu pastilah tidak akan percaya. Arini masih tetap terlihat muda, itu yang selalu dikatakan mantan murid-muridnya yang sudah berkeluarga. Bahkan teman-temannya banyak yang mengatakan kalau sang waktu tak mampu menegur Arini dengan kalimat “ Kau tampak tua dan lelah, kulit terbakar matahari”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Arini tersenyum kecil mengingat salah seorang teman kerjanya mengucapkan kalimat yang diambil dari lirik lagunya Ebiet G Ade itu.Ada-ada saja. Ah, apakah semua itu karena Madame de Suga? Ha..ha..ha&#8230; langit dan bumi akan runtuh bila Arini membandingkan dirinya dengan lukisan itu. Sungguh tak tahu diri, jangan-jangan itu gejala awal penyakit narsis yang banyak di derita oleh orang-orang yang sedang jatuh cinta. Disusul kemudian dengan sikap posesif. Mengerikan!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Jatuh cinta? Pertanyaan aneh itu kembali muncul di kepalanya. Ya! Sejak kapan Arini senang berlama-lama memandang dirinya di cermin, hayoo sejak kapan? Sejak kenal dengan Andrea kan? Hayoo jawab dengan jujur! Kata hatinya kembali mengajaknya berdialog. Bukankah berdiri lama-lama di cermin hanya banyak dilakukan oleh orang-orang yang sedang jatuh cinta?Ah jangan-jangan Arini sedang jatuh cinta pada Andrea! Jangan-jangan Arini menerima cinta Andrea, bukankah tadi dia telah menulis e-mail sebagai jawaban atas surat Andrea?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Andrea! Lagi-lagi Andrea! Huh, kenapa laki-laki itu begitu banyak menyita waktu Arini untuk selalu memikirkannya, mengingatnya. Tapi sedang apa dia malam ini? Apakah sedang tidur memeluk istrinya atau sedang memikirkan Arini? Arini membayangkan bagaimana Andrea tidur, apakah masih tetap menarik seperti waktu dia terjaga? Apakah<span> </span>Andrea kalau tidur senang memeluk guling seperti halnya Arini? Apakah istrinya marah kalau Andrea memeluk guling seperti suami Arini yang tidak suka kalau Arini tidur memeluk guling, makanya di tempat tidurnya, guling adalah benda yang tidak boleh ada.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Satu lagi apakah tidur Andrea ngorok? Iiihhh Arini paling tidak suka pada orang yang tidurnya ngorok. Ya Tuhan, mudah-mudahan Andrea tidak termasuk ke dalam spesies itu! Namun kalau pun iya, apa urusannya dengan Arini? Walaaahhh <span> </span>kenapa Andrea kembali menjadi topik penting dalam pikirannya malam ini? Ada apa dengan dirinya?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">“ Mama, ada apa berdiri terus di depan cermin? Ini sudah malam, hayo tidur” sebuah suara menegurnya dengan lembut. Arini terkejut ia tidak tahu sejak kapan suaminya melihat dia mematung di depan cermin. Ya, Arini sama sekali tidak menyadari kalau sejak masuk ke kamar tadi, suaminya sempat terjaga. Segera Arini menghampirinya, lalu merebahkan diri<span> </span>di sampingnya. Sebuah kecupan lembut diberikan sang suami di pipi<span> </span>dan kening Arini, kemudian melanjutkan kembali lelap tidurnya yang terganggu oleh Arini. Arini membalikan tubuhnya, dipandanginya wajah tenang suaminya lekat-lekat. Dia masih tampan seperti dulu, tak ada yang berubah.Hatinya pun sebening wajahnya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Sang suami adalah mantan kekasih yang sangat disayanginya, ah tahukah suaminya kalau saat ini ada sebuah hati yang lain di dalam hati Arini? Marahkan<span> </span>dia bila hal itu diceritakan? Tidak! Suaminya tidak boleh tahu, hatinya pasti akan terluka, lagi pula Arini belum yakin apakah perasaan yang ada di hatinya pada Andrea itu adalah cinta? Bisa saja hanya sebuah pesona sesaat yang wajar terjadi dalam sebuah dinamika kehidupan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Bukankah suaminya juga dulu pernah mengalami hal itu? Ya,Arini tiba-tiba teringat pada<span> </span>sebuah foto wanita bergaun merah yang sedang bergelayut manja di tangan suaminya. Foto itu dia temukan secara tidak sengaja ketika sedang membereskan lemari di rumah mertuanya. Dilihat dari tahun dan bulan yang tertera di foto, jelas foto itu dibuat empat tahun sejak pernikahan Arini, berarti hal itu terjadi dalam masa pernikahannya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"><span> </span>Siapa wanita itu dan kenapa fotonya ada dalam lemari di rumah mertuanya, kenapa tidak disimpan saja di rumah mereka? Pertanyaan itulah yang muncul di kepala Arini dan jawabannya ada pada wajah pucat suaminya ketika Arini meminta penjelasan darinya. Dilanjutkan kemudian dengan sebuah tamparan keras suaminya di pipi Arini ketika Arini berkeras meminta kejelasan hubungan suaminya dengan perempuan itu. Tamparan pertama dalam pernikahannya dan itu sudah cukup membuat hatinya hancur berkeping-keping. Itu cukup satu kali terjadi dalam hidupnya. Kebencian pada suamipun mendadak muncul di hatinya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Marah, kecewa, semua berkecamuk dalam hati Arini saat itu. Seorang wanita lain telah hadir dalam hati suaminya. Arini tidak cemburu, sama sekali tidak! Dia hanya kecewa.Tak disangka laki-laki yang dipilih sebagai teman hidupnya tega menghianatinya.Dia merasa bumi akan runtuh menimpanya, hilang keseimbangan hidupnya. Dia yang saat itu baru saja melahirkan anak keduanya tidak terima diperlakukan seperti itu. Dia menangis dan mengunci diri di dalam kamar.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"><span> </span>Dari luar kamar terdengar bayinya menangis keras minta diberi ASI. Arini tak mau mendengarnya, ia merasa bukan lagi sebagai seorang ibu tapi sebagai seorang<span> </span>wanita yang terluka hatinya. Suaminya menggedor-gedor pintu kamar diselingi bujukan mertuanya, Arini tetap diam mengunci dirinya. Dia tak peduli pada siapapun termasuk pada bayinya sendiri. Ia tidak mau menyusui bayi dari seorang laki-laki yang tega menghianatinya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Tangisan bayi terdengar semakin keras memecahkan kesunyian malam. Terdengar ada sesuatu yang dibantingkan ke lantai entah apa. Ibu mertuanya menangis memohon pada Arini agar mau menyusui anaknya. Sudah sepuluh jam lebih Arini mengunci diri di dalam kamar. Sudah berpuluh kali bayinya dicoba diberi susu dalam botol tapi selalu menolak.Tiba-tiba pintu kamar didobrak dengan paksa, suaminya berdiri di depan pintu sambil menggendong bayinya. Memandang tajam pada Arini yang sedang berbaring di tempat tidur dengan pandangan lurus kaku ke langit-langit kamar.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">“ Kamu boleh marah padaku tapi jangan bunuh anakku” tegas suaminya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">“ Berikan saja anak itu pada kekasihmu! Dia bukan anakku!” balas Arini ketus</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">“ Arini! Kamu ibunya! Sadarkah<span> </span>kamu? Tak ada seorang ibu yang tega membunuh anaknya sendiri kecuali dia gila Arini! Ayo susui bayimu”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">“ Dia benihmu yang kau tanam dirahimku! Aku menyesal telah melahirkannya! Biarkan dia mati! Itu lebih baik dari pada dewasa nanti dia menjadi laki-laki yang tega menghianati istrinya. Aku tidak mau memiliki anak seperti itu.!”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Wajah suaminya mengejang, kata-kata Arini begitu telak menampar dirinya. Dia baru sadar kalau Arini adalah perempuan keras kepala yang sulit ditundukkan oleh apa pun. Namun bayi dalam gendongannya adalah darah dagingnya yang harus diselamatkan, jiwa dan nyawa bayi berusia tiga puluh hari itu ada dalam puting susu ibunya yang kini telah berubah menjadi seekor singa betina yang siap membunuh siapa saja tanpa belas kasihan. Haruskah dia bersimpuh dan bersujud di depan Arini, haruskah dia pertaruhkan egonya demi anaknya?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">“ Arin anakku, ibu mohon susui anakmu, ibu mohon Nak, demi Allah, susui anakmu, dia tidak berdosa Arin, jangan membuat Allah murka dengan kelakuanmu. Lihatlah betapa lemahnya anakmu, dari<span> </span>sore tadi dia hanya minum air putih dan madu yang ibu oleskan ke bibirnya, dia tidak mau diberi susu botol Nak.” Ibu mertuanya yang dari tadi berdiri di belakang suaminya tiba-tiba saja ikut bicara.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Mendengar nama Allah disebut mertuanya, hati Arini mulai goyah.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">“ Arin, bunuhlah aku kalau itu membuat hatimu lega namun tolong selamatkan nyawa anak ini. Biar aku saja yang menggatikannya mati, tolong Arin, demi Allah aku bersumpah tidak akan mengulangi perbuatanku, percayalah padaku Arin.” Suaminya mengiba dan terus memohon pada Arini agar mau menyusui bayinya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Dengan hati-hati suaminya memberanikan diri mendekati Arini dan meletakkan bayi yang sedang menangis itu di samping Arini. Arini tetap diam, dibiarkannya bayi itu tetap menangis. Perlahan ibu mertua dan suaminya meninggalkan Arini dengan bayinya, mereka berdua berharap-harap cemas memohon agar Tuhan menyadarkan Arini.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Tangisan bayi semakin lama semakin lemah, mulutnya mencari-cari puting susu ibunya, dadanya terlihat turun naik. Arini memandangnya dengan air mata yang sejak tadi membanjiri pipinya. Kebencian pada suami dan kecintaan pada sang bayi dua hal yang begitu signifikan berkecamuk dalam hatinya. Berperang melawan hati nuraninya. Setan dan malaikat berbisik di telinganya. Suara tangis bayi semakin lama semakin melemah. Matanya yang jernih memandang Arini,seolah berkata “ Mama, sejahat itukah padaku? Kalau aku mati surga tempatku tapi neraka bagimu! Tidak takutkah Mama pada murka Allah?”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Sekali lagi nama Allah disebut lewat mata si bayi dan gemanya di hati Arini, lebih dari<span> </span>kalimat yang diteriakan suaminya atau permohonan yang dikemukakan ibu mertuanya. Suara hati si bayi jauh merasuk ke dalam jiwanya, ke sel-sel darahnya hingga akhirnya sampai ke titik nadir, pusat segala rasa seorang wanita yaitu nurani seorang ibu!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Perlahan<span> </span>Arini bangkit, dipandangnya bayi lemah itu, dibelainya kepala sang bayi dengan lembut, diangkatnya tubuh mungil itu, didekapkan ke dadanya. Perlahan dan lembut mulut mungil itu mengisap puting susunya. Lemah dan sangat lemah. Arini mengusap-usap buah dadanya yang terasa mengeras karena sepuluh jam lebih air susunya tidak dikeluarkan. Semakin lama isapan bayi semakin kuat, seolah tenaganya untuk mengisap sudah terkumpul kembali. Matanya lekat memandang ibunya yang memandangnya dengan linangan air mata. Tanganya yang mungil meraba-raba dada Arini. Diam-diam Arini merasa menyesal telah membiarkannya tersiksa. Kenapa bayinya yang harus menjadi korban? Ah untung saja Tuhan menyadarkannya, kalau saja terjadi sesuatu pada bayinya, Arini pasti tak bisa memaafkan dirinya seumur hidupnya. Apalagi bila waktu itu Arini tahu kalau si bayi kelak<span> </span>tumbuh menjadi anak yang penuh talenta dan sarat akan prestasi. Ya bayi itu adalah Nuzul anak keduanya yang hampir saja mati terbunuh karena dehidrasi akibat ibunya tidak mau memberinya ASI. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Hikmah dari peristiwa itu besar sekali dalam kehidupan pernikahan Arini. Suaminya betul-betul menepati janjinya meninggalkan perempuan itu dan menjadi suami yang sangat setia sampai saat ini.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">“ Arin belum tidur juga? Apa yang sedang kau pikirkan?” suaminya kembali menegurnya dia terjaga lagi dari tidurnya dan melihat Arini yang berbaring di sisnya, masih saja belum tidur.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">“ Papa yang kupikirkan!” jawab Arini sekenanya</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">“ Emang kenapa ?” suaminya membalikkan tubuhnya menghadap Arini. Dipijitnya hidung Arini dengan lembut.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">“ Hayooohhh katakan <span> </span>kenapa papa jadi pikiranmu?”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">“ Tidur melulu! Nggak mikirin istrinya!”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">“ Ha..ha..ha&#8230;, kan tuan putri sedang tidak boleh diganggu, sedang perboden, makanya cari aman saja dengan tidur<span> </span>duluan. Abis suka nggak tahan!” kelakar suaminya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">“ Kata siapa lagi perboden, dah bebas hambatan kok!” canda Arini manja.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">“ Waahh yang bener? Kenapa nggak bilang dari tadi sore? Tahu begitu takan kubiarkan kamu menulis terus di kamar kerjamu” diraihnya tubuh Arini. Didekapnya dengan sepenuh kasih sayang.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Arini bergelinjang-gelinjang, seperti biasa ia selalu begitu dan itu semakin menggemaskan suaminya. Arini kadang menjelma menjadi Sahara yang menjanjikan berjuta petualangan cinta yang membara, namun terkadang pula menjadi oase yang menyejukkan hati. Lain waktu ia bisa juga jadi kuda binal yang sulit dikendalikan. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Seperti saat ini, secepat kilat ia membalikkan tubuhnya membelakangi suaminya, suaminya kembali meraih tubuhnya . Kaki Arini menendang-nendang. Pergumulan yang tidak seimbang pun terjadi, Arini kecil harus berhadapan dengan tubuh besar suaminya. Hal itu membuat Arini benar-benar tidak berdaya, pakaiannya berhamburan entah jatuh di mana dan ketika mulutnya akan berbicara, suaminya telah terlebih dahulu mengulum bibirnya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Malam semakin larut, angin malam tetap bersenandung di pucuk daun, mendekap malam yang pekat tiada berbintang. Seekor cecak melompat jatuh sebelum sempat mengintip tubuh Arini yang bersimbah peluh, tergolek indah di samping suaminya yang lelap dalam lelah. Malam tanpa bintang mengantarkan Arini ke peraduannya. Namun sebelum sampai di gerbang lelap,masih sempat terpikir nama Andrea di benak Arini. Apakah Andrea juga seperkasa suaminya? Dasar Gila! Arini pun rebah!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/renik.wordpress.com/34/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/renik.wordpress.com/34/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/renik.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/renik.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/renik.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/renik.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/renik.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/renik.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/renik.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/renik.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/renik.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/renik.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/renik.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/renik.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/renik.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/renik.wordpress.com/34/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=renik.wordpress.com&amp;blog=1231860&amp;post=34&amp;subd=renik&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://renik.wordpress.com/2008/08/27/kisi-kisi-hati-episode-5/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">renik</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>CINTA dalam Angan-angan(SCBA Episode 4 )</title>
		<link>http://renik.wordpress.com/2008/07/28/cinta-dalam-angan-anganscba-episode-4/</link>
		<comments>http://renik.wordpress.com/2008/07/28/cinta-dalam-angan-anganscba-episode-4/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Jul 2008 01:50:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>renik</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://renik.wordpress.com/?p=31</guid>
		<description><![CDATA[Andrea tertegun, dipandanginya note book yang ada di hadapannya. Tampak di layar monitor beberapa personal message berdatangan menyapanya. Tak satupun yang dibalasnya. Hatinya risau dan bingung. Pikirannya pada Arini. Kenapa Arini tidak mau menjawab pertanyaannya? Kenapa Arini tiba-tiba pergi dan menutup pembicaraan begitu saja? Adakah yang salah dari sikapnya? Arini! Ah&#8230;dalam enam bulan terakhir nama [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=renik.wordpress.com&amp;blog=1231860&amp;post=31&amp;subd=renik&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   false false false        MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;   &lt;![endif]--></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Andrea tertegun, dipandanginya note book yang ada di hadapannya. Tampak di layar monitor beberapa personal message berdatangan menyapanya. Tak satupun yang dibalasnya. Hatinya risau dan bingung. Pikirannya pada Arini. Kenapa Arini tidak mau menjawab pertanyaannya? Kenapa Arini tiba-tiba pergi dan menutup pembicaraan begitu saja? Adakah yang salah dari sikapnya?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Arini! Ah&#8230;dalam enam bulan terakhir nama itu selalu mengisi relung jiwanya. Tak diundang tak diharapkan. Dia datang begitu saja mengetuk hatinya yang paling dalam. Menggetarkan jiwanya, meresahkan tidurnya. Berapa kali ia bertanya pada hatinya perasaan apa sebenarnya yang bersemayam di hatinya itu? Cintakah atau hanya suka?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Andrea merasakan ada sesuatu yang lain di mata Arini ketika pandangan mereka sempat bertemu. Laki-laki mana pun akan tahu arti pandangan itu. Tatapan lembut bersahabat. Tatapan yang menyimpan ketenangan, kehangatan dan harapan.Ah, harapan macam mana pula itu? Misteri! Namun sebagai laki-laki ia harus bersikap terbuka. Ia tak bisa menyimpan sesuatu yang sifatnya masih samar. Ia perlu tahu karena di hatinya pun telah lama tersimpan perasaan khusus yang entah apa namanya. Persaan khusus buat Arini yang tidak bisa ia berikan kepada teman yang lain. Untuk itu ia perlu <span> </span>menyatakan langsung isi hatinya secara terbuka . Namun tak disangka Arini tak seperti yang diduga.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Perempuan dimana-mana juga sama. Selalu sulit di duga. Bicara berbelit-belit. Padahal apa susahnya bilang iya atau tidak, habis perkara! Arini&#8230;Arini, apa sebenarnya yang ada di hatimu? Andrea terus bertanya pada dirinya sendiri. Ia<span> </span>lebih suka keterusterangan dari pada permainan teka-teki. Namun mana ada perempuan di dunia ini yang mudah untuk dimengerti.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Arini, nama itu pertama kali dia kenal lewat dunia maya. Keceriannya, keterbukaannya dalam setiap pembicaraan membuatnya merasa sangat dekat. Semakin lama pertemanan semakin memikat. Arini yang cerdas enak diajak bicara soal apa saja. Dari masalah pendidikan, politik, budaya, sastra, ekonomi, teknologi, otomotif sampai ke masalah paling konyol sekali pun, bila dibicarakan dengan Arini<span> </span>selalu nyambung.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Satu hal yang tidak disukai Arini yaitu berbicara soal sex cyber, inilah bedanya Arini dengan teman-teman chatnya yang lain. Arini hangat, bersahabat tapi sopan. Dia lah satu-satunya wanita dalam list Andrea yang selalu disapanya dengan sopan dan penuh kasih sayang serta persahabatan. Hal itu pulalah yang membuat hatinya ingin bertemu agar bisa melihat lebih dekat bagaimana sosok Arini di dunia nyata.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Keinginannya itu kesampaian. Waktu Andrea ada keperluan ke Bandung, ia tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia nekat menemui Arini tanpa konfirmasi terlebih dahulu. Itu sengaja ia lakukan agar bisa membuat kejutan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Sebuah pertemuan yang manis. Andrea sama sekali tidak menyesal dengan pertemuan itu. Ternyata Arini jauh lebih menarik dari yang ia bayangkan sebelumnya. Tubuhnya ramping, senyumnya manis, sikapnya sangat ramah dan menyenangkan. Ada getar lembut di hatinya ketika pertama kali menjabat tangan Arini. Entah kenapa hatinya begitu bahagia ketika berjalan berdua sambil bertukar cerita, dilanjutkan kemudian dengan makan siang bersama. Ada ketenangan yang merasuk ke dalam hatinya. Walau di lubuk hatinya yang paling dalam ada pertanyaan yang tak terjawab. Untuk apa ia melakukan semua itu? Pantaskah itu dia lakukan? Ya, menemui seorang perempuan yang sudah bersuami? Sementara dia sendiri sudah beristri? Istri yang muda dan jelita, yang telah memberinya dua orang anak yang sangat lucu. Untuk apa ia ingin bertemu dengan Arini?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Tak ada satu pun jawaban untuk pertanyaan itu.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">“ Arini. Arini kau seolah mengembalikan gairah darah mudaku di masa lalu. Pertemuan denganmu seolah memutar kembali kenanganku di masa lalu, membawaku ke masa-masa terindah dalam hidupku. Kau ibarat seorang kekasih yang pernah hilang ditelan waktu, kini muncul kembali dalam cerita hidupku, kembali dalam pelukanku. Ah tentu saja takan kulepaskan lagi, kau akan tetap di sisiku. Ya Tuhan kumohon jangan<span> </span>salahkan aku bila aku menyayanginya, bila aku mungkin mencintainya”<span> </span>bisik hati Andrea sambil mengklik sign out pada list YM nya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Hari telah beranjak senja, dibereskannya kertas-kertas kerja yang berserakan di atas mejanya. Hari ini banyak sekali pekerjaan yang harus dia lakukan. Tubuhnya lelah dan pegal-pegal karena terlalu banyak duduk. Ah sepertinya menyenangkan sekali bila Arini berada disampingnya saat ini. Menemaninya minum es jeruk, bahkan memijit tengkuk dan keningnya, ah! Arini lagi, Arini lagi! Kenapa nama itu begitu lekat dalam hatinya!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Andrea mengumpat dirinya sendiri. Dicobanya membuang jauh-jauh bayangan Arini dari lubuk hatinya. Andrea mencoba mengkonsentrasikan pikirannya ke rumah. Matanya lurus ke badan jalan, sementara tangannya memegang stir, jalanan seperti biasa macet dan macet. Ah! Inilah Jakarta, diam-diam dia menyesali kenapa tadi pakai bawa mobil segala.  Ia bayangkan istri dan anaknya menunggu di rumah dengan segala kerinduan. Perlahan, kerinduan pada istri dan anaknya pun mulai merayapi<span> </span>hatinya. Kerinduan pada Si Kecil, kerinduan pada Si Sulung dan tentu saja kerinduan pada kehangatan istri yang selalu setia mendampinginya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">“ Abang sudah pulang, cape ya? Aku siapkan air hangat untuk mandimu ya?” sapaan lembut sang istri menyambutnya dari balik pintu ketika Andrea tiba di rumah. Seperti biasa sang istri bergelayut manja di lengannya. Andrea tersenyum, dikecupnya kening sang istri.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">“ Anak-anak sepertinya sudah tidur ya? Kok sepi sekali?”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">“ Sudah sejam yang lalu, nuggu papinya pulang tahunya kemalaman”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">“ Maafkan aku, hari ini di kantor banyak sekali pekerjaan. Tapi anak-anak nggak nakal kan?”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">“ Ah nggak nakal bagaimana? Hari ini hp ku dibanting Yuri, terus adiknya dicubit” istrinya mengadukan polah anak-anaknya hari itu. Andrea tersenyum, kedua anaknya laki-laki masih balita. Dua anak hasil pernikahannya yang kedua. Anaknya dari pernikah pertama kini sudah menginjak remaja. Wajahnya sangat mirip dirinya waktu muda.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">“ Ha..ha..ha&#8230;, ada-ada saja polah Yuri. Kamu harus tahu sayang, dia itu sangat butuh perhatianmu. Kamu tidak memarahinya kan? Biar nanti aku belikan lagi hp yang baru untukmu” jawab Andrea sambil terus melangkah menuju kamar anaknya. Dipandanginya wajah mungil yang sedang tidur nyenyak itu. Perlahan dihampirinya, dikecupnya dengan lembut kening Yuri. Anak itu tidur begitu tenang, begitu damai, senyum kecil tersungging di bibirnya seolah dia sedang bermimpi bermain dalam asuhan seribu bidadari surga.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">“ Kamu menunggu papi pulang ya? Maafkan papi sayang, tak bisa menggendongmu dan mengajakmu jalan-jalan sore karena papi pulang malam. Papi janji hari minggu kita ke puncak lagi ya?” bisiknya lirih pada anaknya yang sedang terlelap tidur.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">“Makan dulu Bang?” istrinya tiba-tiba saja sudah berada di sampingnya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">“ Tentu saja, tapi Abang mau mandi dulu” Andrea pun bergegas ke kamar mandi. Tak lama kemudian keduanya sudah berada di meja makan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">“ Masakanku hari ini bagaiman Bang? Enak nggak? Kok makannya sedikit sih nggak seperti biasanya?” sapa istrinya ketika mereka sudah berada di meja makan. Andrea terkejut, istrinya seolah tahu kalau pikirannya tidak sedang pada makanan yang dikunyahnya. Andrea tersenyum lalu mencoba menenangkan istrinya dengan kata-kata yang sangat manis.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">“Tidak sayang, masakanmu enak sekali, hanya mungkin Abang baru tadi sore makan di kantor. Jadi masih belum terlalu lapar”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Ah, hampir saja! Pikir Andrea dan memang benar pikirannya saat itu tidak sedang pada istrinya apalagi pada masakannya atau makanan yang dikunyahnya. Arini ya sekali lagi Arini. Pikirannya kembali pada Arini. Bayangan perempuan itu kembali muncul dan hadir di meja makannya di wajah istrinya, di dinding rumahnya ah lengkapnya di segala yang dilihatnya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Bayangan Arini terus mengikutinya sampai ke tempat tidurnya. Bayangan itu tidur di sampingnya, mencumbunya, merengkuhnya dengan lembut. Mengalunkan lagu cinta dan<span> </span>kerinduan. Membawa angan Andrea melayang jauh ke langit biru, terbang ke atas awan yang berarak indah. Baru tersadar ketika tubuh bersimbah peluh, dalam lelah, dalam rebah. Ia<span> </span>rengkuh tubuh istrinya dan mendekapnya dalam dadanya, dalam peluknya. Betapa ia sangat mencintainya. Sungguh, seandainya bisa, ia ingin membuang jauh-jauh bayangan Arini. Ia mencoba beberapa kali meyakinkan dirinya kalau Arini hanyalah teman maya sama seperti teman-teman lainnya. Ia mencoba meneguhkan hatinya kalau wanita satu-satunya yang ada dalam jiwanya hanyalah istrinya! Sayang sekuat itu Andrea berusaha sekuat itu pula hati kecilnya berkata, kalau ia tidak dapat mengingkari, seorang wanita lain telah hadir dalam hatinya dan tersimpan indah di sudut hatinya yang lain di belahan jiwanya yang lain. Wanita itu adalah Arini.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">“Arini, biarlah waktu yang akan membawamu kembali pergi dariku&#8230;..sebagaimana waktu pula yang membawamu hadir dalam hidupku. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan, namun aku yakin kita akan menjadi teman yang baik. Akan kuusahakan untuk bisa seperti itu.” Bisik Andrea pada hatinya sendiri.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/renik.wordpress.com/31/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/renik.wordpress.com/31/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/renik.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/renik.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/renik.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/renik.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/renik.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/renik.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/renik.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/renik.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/renik.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/renik.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/renik.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/renik.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/renik.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/renik.wordpress.com/31/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=renik.wordpress.com&amp;blog=1231860&amp;post=31&amp;subd=renik&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://renik.wordpress.com/2008/07/28/cinta-dalam-angan-anganscba-episode-4/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">renik</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>AKU MERINDUKANMU ARINI( SCBA episode 3 )</title>
		<link>http://renik.wordpress.com/2008/07/07/aku-merindukanmu-arini-scba-episode-3/</link>
		<comments>http://renik.wordpress.com/2008/07/07/aku-merindukanmu-arini-scba-episode-3/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Jul 2008 08:20:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>renik</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://renik.wordpress.com/?p=23</guid>
		<description><![CDATA[“Anak-anak, apa yang disampaikan temanmu tadi tentang puisi Chairil Anwar yang berjudul ‘ Derai-derai Cemara” sangat luar biasa, ayo siapa lagi yang akan mencoba menjelaskan isi puisi Chairil yang lain?” tanya Arini yang sedang asyik dengan kegiatan pembelajaran di dalam kelas. “ Saya Bu” seorang anak laki-laki jangkung yang duduk di belakang mengangkat tangannya. “ [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=renik.wordpress.com&amp;blog=1231860&amp;post=23&amp;subd=renik&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><span><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>“Anak-anak, apa yang disampaikan temanmu tadi<span> </span>tentang puisi Chairil Anwar yang berjudul<span> </span>‘ Derai-derai Cemara” sangat luar biasa, ayo siapa lagi yang akan mencoba </span><span lang="IN">menjelaskan isi puisi Chairil yang lain?” tanya Arini yang sedang asyik dengan kegiatan pembelajaran di dalam kelas.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">“ Saya Bu”<span> </span>seorang anak laki-laki jangkung yang duduk di belakang mengangkat tangannya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">“ Bagus! Puisi apa yang akan kamu ceritakan Feby?”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">“ Senja di Pelabuhan Kecil”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">“ Silakan berdiri di depan, bacakan terlebih dahulu puisi itu dengan baik”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"><span> </span>SENJA DI PELABUHAN KECIL</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"><span> </span>Ini kali tiada yang mencari cinta</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Di antara gudang rumah tua pada cerita</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Tiang serta temali</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Kapal perahu tiada berlaut</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Mempercaya diri maut berpaut</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Gerimis mempercepat kelam</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Kelepak elang menyinggung muram</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Desir hari lari berenang</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Menemu bujuk pangkal akanan</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Tidak bergerak, tanah dan air tidur hilang ombak</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Aku sendiri berjalan menyisir semenanjung</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Masih pengap harap</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Dari pantai keempat sedu penghabisan </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Bisa terdekap</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Suara Feby mengalun indah, kadang tenang, kadang meloncat, kadang lembut kadang menghentak bagai sebuah simfoni hati yang hanyut dalam irama jiwa. Feby, salah seorang siswa terbaik di kelas itu yang pernah menjuarai lomba baca puisi tingkat kota, kepiawaiannya sudah tidak diragukan lagi. Maka tak heran bila tepuk tangan seisi kelas bergemuruh untuk Feby. Arini tersenyum bangga. Bangga pada muridnya yang pintar membaca puisi.</span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">“ Kamu tetap hebat Feb! “ puji Arini</span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">“ Sekarang silakan kamu ceritakan isi puisi itu dengan bahasamu sendiri dan yang lain, menyimak dengan baik. Komentar dan pertanyaan, diberikan bila Feby sudah selesai membaca dan menjelaskan isinya. Pertanyaan dibagi ke dalam dua termin, setiap termin diberikan kepada empat orang penanya atau pemberi saran. Pertanyaan, saran dan jawaban yang baik akan mendapat satu bintang dari ibu. Silakan kalian kumpulkan bintang sebanyak mungkin untuk mengisi nilai apresiasi sastra! Mengerti semua? “ Arini menjelaskan panjang lebar aturan kegiatan pembelajaran kepada para siswanya di dalam kelas. </span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">“ Namun awas! Pertanyaan atau saran yang tidak sesuai dengan isi permasalahan akan mendapat pengurangan bintang, kalau tidak mau melepaskan bintangnya maka sebagai gantinya harus rela dihukum. Hukumannya menari atau bernyanyi! Bagi yang tidak setuju silakan angkat tangan dan kemukakan dengan argumentasi yang jelas!” Arini menambahkan penjelasannya. Semua murid bersorak gembira tanda setuju pada aturan main kegiatan pembelajaran siang itu.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Pembelajaranpun dimulai dengan pembentukan kelompok yang bertugas sebagai penanya, pemberi saran, penyanggah dan juga penilai. Arini membagikan format penilaian kepada setiap kelompok. Itulah cara Arini memberi nilai, selalu melibatkan siswa dalam menentukan penilaian. Dia akan senang bila hasil penilaian siswanya tidak jauh berbeda dengan hasil penilaian dirinya. Semua itu sengaja dilakukan agar dapat meningkatkan motivasi siswa dalam belajar, lebih jauhnya melatih siswa untuk bersikap obyektif dan bertanggung jawab.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Gelak tawa renyah gembira terdengar dari dalam kelas mengalahkan bel yang berbunyi nyaring menandakan jam pelajaran bahasa Indonesia sudah harus berakhir. Arini bergegas membereskan buku-buku, menutup note book dan mematikan LCD. Anak-anak di kelas menekuk wajahnya seolah menyatakan ketidaksetujuannya pada teriakan bel karena masih betah belajar dengan Arini.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"><span> </span>“ Anak-anak, kita cukupkan sampai di sini saja ya, lusa kita akan belajar mengubah puisi menjadi drama.”</span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">“ Bu, nanti dramanya kita pentaskan di pekan apresiasi seni ya Bu?” Syifa yang duduk di kursi terdepan mengajukan usul.</span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">“ Usul yang bagus! Kalian siapkan saja nanti. Oh ya Bahtiar, puisi-puisi terbaik karya teman-temanmu yang ibu berikan kemarin, sudah kamu publikasikan di website kita?”</span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">“ Sudah Bu, bahkan sekalian saya kirimkan ke redaksi majalah remaja, langsung lewat e-mail”</span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">“ Terimakasih kalau begitu, mudah-mudahan ada yang dimuat lagi dari kelas ini, oh ya selamat pada kalian yang artikelnya telah dimuat di koran minggu ini”</span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">“ Bu, Jumat sore ibu kami tunggu di <em>De Cost</em>” Sri sang ketua murid menimpali</span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">“ Ada acara apa pake acara ke <em>De Cost </em>segala? “ </span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">“ Makan-makan Bu, Dian, Syifa, Sri dan Rizki mau nraktir, kan artikel Syifa, Dian juga cerpen Rizki dan Sri di muat di koran dan majalah”</span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">“ Waaahh asyyiikk dong, iya insyaallah Ibu datang, sekarang Ibu pergi yaa, assalamualaikum!”<span> </span>Arini pun ke luar dari kelas diiringi ucapan salam dan tatapan murid-muridnya yang seolah ingin menahan Arini untuk tetap berada di dalam kelas.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Di luar, ia berpapasan dengan Bu Nuni yang mau masuk pada pelajaran berikutnya di kelas sebelah.</span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">“ Cantik sekali Ibu hari ini! Eh tahu nggak Bu? Kecantikan seorang wanita itu hanya ada dua penyebabnya. Pertama bila dia sedang jatuh cinta, kedua bila dia sangat dicintai !” Bu Nuni menggoda Arini. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">“ Bisa aja Bu Nuni ini, pasti ada maunya niiihhhh” canda Arini</span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">“ Nggak kok Bu, emang bener Ibu cantik! Oh ya Bu, buku itu jadinya dibayar sama bendahara komite!” suara Bu Nuni sedikit direndahkan.</span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">“ Baguslah, namun siap-siaplah kita kena sanksi di awal tahun ajaran baru nanti!”<span> </span>Arini mengingatkan Bu Nuni.</span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">“ Siapa takut? Lagian mudah-mudahan saja Kepsek definitif segera datang! Bisa ancur sekolah kalau dipegang terus oleh dia!” tegas Bu Nuni.</span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">“ Kalau ternyata dia dikukuhkan jadi Kepsek definitif?”</span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">“ Kita kasih pelajaran aja, biar dia tahu siapa kita”</span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">“ Hush! Hati-hati kalau bicara, dinding di sekolah ini bisa dengar!”</span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">“ Emang aku pikirin? “ kelakar Bu Nuni sambil masuk ke dalam kelas. Arini hanya mengedipkan sebelah matanya sebagai balasan atas ucapan Bu Nuni. Tanpa disadari kelakuan mereka berdua dilihat oleh anak-anak yang kebetulan ke luar kelas untuk mengikuti pelajaran olah raga. Malunya Arini.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Bubar sekolah, Arini baru keluar dari mushola, bergegas memasuki ruang guru, tumben ada komputer nganggur, dihampirinya salah satu komputer di ruang itu. Dipijitnya tombol komputer maka terpampanglah di layar monitor data file yang berisi arsip kegiatan pembelajaran. Satu demi satu berkas pekerjaan siswa yang sudah dinilainya dimasukkannya ke dalam file. Beres memasukan nilai di kliknya jaringan yang mengarah ke internet. Dibukanya yahoo mail untuk mengecek surat yang rencananya akan dikirim oleh penerbit pada hari itu. Biasa, surat pernyataan diterima tidaknya naskah yang dikirim dua minggu yang lalu. Ternyata tak ada surat untuknya selain beberapa tugas siswa yang salah masuk,yang seharusnya ke mailing list malah masuk ke emailnya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Tiba-tiba matanya menangkap sebuah tulisan berjudul “ Aku Merindukanmu Arin&#8230;” tertulis dengan jelas pada subjek e-mail. Penasaran dibaca siapa pengirimnya, ternyata Andrea.Ada getar halus merasuki seluruh hatinya, dibukanya dengan penuh penasaran. Andrea mengirim e-mail? Mau apa dia?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-size:14pt;">Arin, apa kabarmu hari ini?</span></em></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-size:14pt;">Aku baik-baik saja. Kamu tahu aku senang sekali dengan pertemuan kita kemarin siang itu. Aku tidak tahu kenapa begitu. Kamu berjalan di sampingku, duduk dan makan siang bersamaku, aku betul-betul sangat bahagia. Tak kusangka aku akan bertemu dengan orang semanis<span> </span>dan sebaik kamu. Sungguh kamu orang termanis yang pernah kutemui!</span></em></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-size:14pt;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-size:14pt;">Arin, tahukah kamu? Aku paling tidak suka bila ada perempuan mepet-mepet ke aku. Aku paling tidak suka itu! Anehnya kok denganmu malah aku yang mepet-mepet ke kamu dan aku membiarkan kamu juga mepet-mepet ke aku. Ada apa denganku Arin?</span></em></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-size:14pt;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-size:14pt;">Malamnya aku tidak bisa tidur karena wajahmu tidak mau hilang dari ingatanku. Aku kadang tersenyum sendiri mengingat semua itu. Ah betapa indahnya pertemuan kita. Aku merasa seolah bertemu kembali dengan kekasihku dulu yang lama tidak bertemu karena dipisahkan oleh sang waktu yang kejam. Arin apakah semua ini cinta? Apakah kamu juga merasakan hal yang sama denganku?</span></em></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-size:14pt;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-size:14pt;">Aku merindukanmu Arin, aku merindukan kembali pertemuan-pertemuan kita. Sungguh aku sayang kamu!</span></em></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-size:14pt;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-size:14pt;">Rinduku</span></em></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-size:14pt;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-size:14pt;">Andrea</span></em></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Serasa ingin meledak dadanya waktu Arini selesai membaca surat Andrea. Ada getar indah di hatinya yang sekuat hati ditepisnya jauh-jauh. Perasaan apakah ini? Sadarkah kamu Arini kalau kamu sama sekali tidak pantas mempunyai perasaan itu?Hatinya<span> </span>terus berkata seolah protes pada apa yang dirasakannya saat itu.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Tanpa disadarinya, dibukanya yahoo messenger, terlihat ID Andrea menyala terang,belum disapa personal mesagenya sudah muncul duluan di layar monitor.</span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span>“ Hai manis apa kabar? Dari tadi aku menunggumu!’ sapa Andrea.</span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span>“ Aku baik-baik saja,kamu bagaimana?Jam berapa sampai di rumah? “</span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span>“ Aku juga sehat berkat doamu, aku sampai di rumah jam 8 malam. Eh sudah kamu baca e-mailku?”</span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span>“ Baru saja, terimakasih ya, maaf belum<span> </span>kubalas kan aku baru saja on line”</span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span>“ Sibuk ya,<span> </span>Rin sejujurnya kukatakan, baru kali ini aku temui orang semanis kamu”</span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span>“ Mulai lagi ya! Aku tidak suka digombali Andree!”</span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span>“ Eeehhh siapa lagi yang gombal, orang ngomong apa adanya kok!”</span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span>“ Ha…ha..ha.., aku baru denger orang seusiaku dibilang manis untung nggak pake kata hitam, <span> </span>bisa bahaya tuh!Entar hilang manisnya tinggal hitamnya. Ah kamu ini ada-ada saja Dree, kamunya aja kali yang baru ketemu manusia! Jangan becanda kamu Andre!”</span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span>“ Arin, aku sama sekali tidak becanda! Aku tahu kita berdua sudah tidak muda lagi, tapi kita kan belum terlalu tua untuk jatuh cinta ”</span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span>“ Cinta? Kamu jatuh cinta? Jatuh cinta pada siapa?”</span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span>“ Jangan pura-pura bego Arin!<span> </span>Aku jatuh cinta padamu! Sejak kita bertemu di dunia maya aku sudah menyukaimu. Pertemuan kita kemarin semakin meyakinkanku kalau aku jatuh cinta padamu, aku sangat menyayangimu, siapa pun dirimu Arin”</span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span>“ Andree….Andree,<span> </span>kamu sadar nggak siih kalau kamu itu sudah beristri dan aku sudah bersuami? Masa kamu jatuh cinta padaku . Ngaco kamu Andre!”</span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span>“ Emang salah kalau kita jatuh cinta?”</span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span>“ Salah sekali! ”</span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span>“ Teori siapa yang mengatakan kalau kita jatuh cinta itu salah? Hayo… teori siapa?”</span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span>“ Tak ada teori Andree yang ada hanyalah logika! Kita harus berpikir logis”</span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span>“ Sejak kapan cinta mengenal logika? Cinta itu absurd Arin, absurd!”</span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span>“ Aku tahu Andree,selain cinta itu absurd, cinta pun bisa membuat yang benar jadi salah yang salah jadi benar. Kita tidak boleh dipermainkan oleh perasaan itu, kita bukan anak kemarin sore Andree”</span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span>“ Arin, terserah apa katamu namun aku sangat menyayangimu dari lubuk hatiku yang paling dalam, tolong jangan kamu tanyakan kenapa aku menyayangimu. Kini ijinkan aku bertanya padamu dan kumohon kamu menjawab dengan jujur,apakah kamu menyayangiku? Apakah kamu merasakan hal yang sama denganku? Jawab Arin”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Arini terdiam ditanya seperti itu oleh Andrea. Dia ingin berteriak, ingin menjerit melawan kata hatinya yang bertentangan dengan isi kepalanya.</span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span>“Buzzzz!”tulisan merah terlihat berulang-ulang menandakan Andrea butuh jawaban dengan segera.</span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span>“Jawab segera Arin..” <span> </span>Andrea tak sabar.</span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span>“ Buzzzz! Buzzz!” tulisan berhuruf merah itu kembali dikirim berulang-ulang.</span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span>“ Arin sedang apa kamu? Kok diam saja, kalau kamu tidak suka pada pertanyaanku, ya lupakan saja!”</span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span><span> </span>Tulisan Andrea terus masuk ke PM nya, Arini tetap membisu. Tangannya tak sanggup lagi untuk menulis.Ia bingung harus menjawab apa. Padahal apa susahnya menulis ya atau tidak. Ah tidak sesederhana itu, kali ini perasaan Arini tidak sedang bisa diajak bermain-main apalagi bergombal ria. Ada beban yang menghimpit hatinya entah kenapa ia merasa jawaban ya atau tidak <span> </span>yang ia tulis nanti harus bisa dipertanggungjawabkannya di kemudian hari.</span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span><span> </span>Kini pikiran Arini jadi melayang ke masa lalu. Sejak kecil kehidupan Arini sangat akrab dengan laki-laki. Dia anak perempuan satu-satunya dari keluarga Antawirya. Ketiga adiknya laki-laki semua, pembantu rumah, sopir ayahnya juga pengurus kebun<span> </span>semuanya laki-laki. Menginjak remaja, Arini yang tomboy lebih mudah berteman akrab dengan laki-laki dari pada perempuan karena itu Arini tahu betul sifat laki-laki. Maka ketika bertemu Andrea, Arini langsung bisa menebak kalau Andrea bukan tipe laki-laki gombal perayu wanita. Dari sorot matanya, Andrea adalah tipe laki-laki yang selalu siap mempertanggungjawabkan segala yang dilakukannya. Andrea juga bukan tipe laki-laki asal bicara, dia tahu sekali dengan apa yang dia katakan dan itu pasti sudah dipertimbangkan dengan matang. Pengalaman hidup telah mengajarkannya begitu.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span> </span>Ingin Arini<span> </span>menulis kalau dia pun merasakan hal yang sama dengan Andrea. Ia pun sebenarnya ingin bercerita kalau semalam wajah Andrea menari-nari dalam benaknya. Namun hati kecilnya tetap mengatakan kalau ia tak pantas berkata seperti itu. Dunia pasti akan menertawakannya!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Akhirnya ia hanya menulis “<span> </span>Andree, aku off dulu yaa, see you next time, bye!” dan tanpa menunggu jawaban, Arini langsung sign out.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Ia duduk termenung di depan komputer, hatinya gelisah resah. Teringat kembali pada Andrea. Senyumnya, keramahannya, keterbukaannya, kehangatannya, ah Andrea kenapa hati Arini jadi bernyanyi? Perasaan rindu diam-diam menyelinap dalam kalbunya, ingin sekali Arini membuka kembali list nya, ia tahu, pasti Andrea kecewa dengan kelakuannya yang pergi begitu saja, pasti Andrea sedang menunggunya namun sekuat hati Arini menepisnya, menepis segala perasaan rindu yang hampir memecahkan dadanya. Pergilah kamu sejauh mungkin Andre, kita tak mungkin saling mencintai. Tak terasa ada setitik air bening menggayut di sudut mata Arini.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/renik.wordpress.com/23/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/renik.wordpress.com/23/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/renik.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/renik.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/renik.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/renik.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/renik.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/renik.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/renik.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/renik.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/renik.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/renik.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/renik.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/renik.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/renik.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/renik.wordpress.com/23/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=renik.wordpress.com&amp;blog=1231860&amp;post=23&amp;subd=renik&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://renik.wordpress.com/2008/07/07/aku-merindukanmu-arini-scba-episode-3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">renik</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PENGANTAR PENULIS</title>
		<link>http://renik.wordpress.com/2008/06/27/pengantar-penulis-2/</link>
		<comments>http://renik.wordpress.com/2008/06/27/pengantar-penulis-2/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Jun 2008 06:20:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>renik</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://renik.wordpress.com/?p=20</guid>
		<description><![CDATA[Senandung Cinta Buat Arini, tulisan ini merupakan karya fiksi pertama penulis dalam bentuk cerita bersambung. rencananya akan dijadikan sebuah novel. Layaknya sebuah novel pasti di dalamnya ada kisah. Kisah kehidupan manusia yang mungkin terjadi pada siapa saja. Tokoh utama cerita ini adalah Arini. Seorang guru yang sangat mencintai profesinya. Namun sistem birokrasi yang masih menganut [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=renik.wordpress.com&amp;blog=1231860&amp;post=20&amp;subd=renik&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Senandung Cinta Buat Arini, tulisan ini merupakan karya fiksi pertama penulis dalam bentuk cerita bersambung. rencananya akan dijadikan sebuah novel. Layaknya sebuah novel pasti di dalamnya ada kisah. Kisah kehidupan manusia yang mungkin terjadi pada siapa saja.</p>
<p>Tokoh utama cerita ini adalah Arini. Seorang guru yang sangat mencintai profesinya. Namun sistem birokrasi yang masih menganut &#8221; Oke Bos&#8221; membuat karirnya yang seharusnya cemerlang, selalu terhambat oleh sistem yang ada di lingkungan tempat dia bekerja.</p>
<p>Namun semua itu tidak membuat Arini patah semangat, justru sebaliknya. Ia semakin menemukan jati dirinya. Ibarat air yang dibendung di satu tempat namun melalui celah yang ada ia mengalir ke tempat lain.</p>
<p>Cerita ini berlatar dunia maya dan nyata  dalam paduan kisah antara romantik dan epik&#8230;yang dipadu dalam sebuah imajinasi penulis&#8230;tertarikah Selamat membaca&#8230;kritik dan saran sangat penulis harapkan&#8230;.</p>
<p>Bagi Arini hidup adalah sebuah dinamika, susah senang harus diterima dengan lapang dada. Karir dan jabatan baginya hanyalah sebuah asesoris. Tertarik dilirik tidak tertarik ya dibiarkan saja. Cerita ini diwarnai pula oleh dunia cyber yang saat ini sudah marak memasuki sekolah-sekolah. Keterlibatan Arini di dunia cyber malah mempertemukannya dengan seorang sahabat berdarah Jawa Batak yang tanpa disadari ikut mewarnai kisah hidupnya.</p>
<p>Sahabat yang dikenalnya lewat dunia maya ini, ternyata diam-diam mencintai Arini. Dilatarbelakangi oleh perbedaan budaya dan keyakinan, cinta pun terjalin di luar kehendak keduanya. Namun pada akhirnya, keduanya menyadari kalau cinta mereka hanyalah fatamorgana belaka.</p>
<p>Cerita ini mungkin akan terasa lebih mirip paparan kisah dunia pendidikan dengan segala problematika yang ada di dalamnya dari pada sebuah kisah cinta. Memang itulah tujuan penulisan cerita ini. Kisah cinta dalam cerita ini hanyalah pemanis agar tidak terkesan monoton. Namun bagus atau tidaknya sebuah cerita tentu saja bukan wewewang penulis untuk menilainya. Hak pembacalah untuk memberi pujian atau kritikan bagi cerita ini.</p>
<p>Cerita ini hanyalah fiktif belaka, maka bila ada pembaca yang memiliki kesamaan nama atau karakter dengan tokoh atau para pelaku yang ada di dalam cerita ini, itu hanya kebetulan saja. Jadi sama sekali di luar pengetahuan penulis.</p>
<p>Akhirnya, selamat membaca , mudah-mudahan ada hikmah yang bisa dipetik.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/renik.wordpress.com/20/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/renik.wordpress.com/20/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/renik.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/renik.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/renik.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/renik.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/renik.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/renik.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/renik.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/renik.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/renik.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/renik.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/renik.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/renik.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/renik.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/renik.wordpress.com/20/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=renik.wordpress.com&amp;blog=1231860&amp;post=20&amp;subd=renik&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://renik.wordpress.com/2008/06/27/pengantar-penulis-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">renik</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ada Dusta dalam Cerita ( SCA, Episode 2 )</title>
		<link>http://renik.wordpress.com/2008/06/12/ada-dusta-dalam-cerita-sca-episode-2/</link>
		<comments>http://renik.wordpress.com/2008/06/12/ada-dusta-dalam-cerita-sca-episode-2/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Jun 2008 03:51:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>renik</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://renik.wordpress.com/?p=16</guid>
		<description><![CDATA[Pukul lima lebih tiga puluh menit Arini baru sampai ke rumah. Ia melihat suami dan Anis anak ketiganya sedang asyik menyaksikan acara televisi di ruang tengah. “ Sore sekali pulangnya Ma dari mana saja ?’ sapa suaminya ketika dengan manjanya Arini duduk di sampingnya sambil meneguk jus jeruk yang ada di atas meja. “ Waaahh [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=renik.wordpress.com&amp;blog=1231860&amp;post=16&amp;subd=renik&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]&amp;gt;  Normal 0   false false false        MicrosoftInternetExplorer4  &amp;lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&amp;gt;   &amp;lt;![endif]--><!--[if !mso]&amp;gt;--></p>
<p class="MsoNormal"><span>Pukul lima lebih tiga puluh menit Arini baru sampai ke rumah. Ia melihat suami dan Anis anak ketiganya sedang asyik menyaksikan acara televisi di ruang tengah. </span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span>“ Sore sekali pulangnya Ma dari mana saja ?’<span> </span>sapa suaminya ketika dengan manjanya Arini duduk di sampingnya sambil meneguk jus jeruk yang ada di atas meja.</span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span>“ Waaahh<span> </span>enak sekali jusnya, siapa yang buat nih? “<span> </span>Arini malah tidak menjawab pertanyaan suaminya.</span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span>“ Aku yang buat, tapi bukan untuk mama itu untuk papa, kalau mama mau, buat saja sendiri” Anis anak bungsunya<span> </span>yang menjawab pertanyaan Arini. Arini hanya tersenyum,<span> </span>nada suara Anis seakan<span> </span>protes karena Arini pulang sore..</span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span>“ O..ya? tapi boleh kan Pa, mama minta dikit?” canda Arini, dikecupnya pipi suaminya.</span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span>“ Pertanyaanku belum dijawab. Mama dari mana kok pulang sampai sore begini? Sudah solat belum?’ suaminya</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>kembali mengulang pertanyaan yang sama.</span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span>“ Pap, mama kan lagi nggak solat, trus hari ini banyak sekali pekerjaan yang harus mama selesaikan. Coba saja dari buat perencanaan karya wisata, pendataan siswa berprestasi<span> </span>terus membuat laporan hasil loka karya dan out bond minggu kemarin , belum lagi harus mengajar di kelas. Waahh cape sekali jadinya. Trus kedatangan teman lagi” Arini menjelaskan panjang lebar tentang kegiatannya hari itu kepada suaminya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>“ Teman?<span> </span>Teman siapa dan dari mana?” selidik sang suami penuh rasa ingin tahu. Arini <span> </span>baru sadar kalau masalah kedatangan teman tak seharusnya diceritakan namun semua telah terlanjur meluncur dari mulutnya. Itu salah satu sifat Arini , ia tidak bisa berbohong apalagi pada suaminya. Ia bimbang akankah berterus terang saja? Aneh ada suara di relung hatinya yang jawabannya bertolak belakang dengan hati nuraninya. Suara itu begitu keras berteriak di telinga Arini, gaungnya menggema ke dinding hati bahkan sampai ke aliran darah yang ada dalam urat-urat nadinya, hingga mampu mengalahkan isi hati nuraninya. Getaran aneh yang ada di luar kekuasaan Arini untuk mengendalikannya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>“ Papa ingat Nanang yang dulu KKN bareng mama? Yang ngajarnya di Pasundan? Dia itulah yang datang”<span> </span>Arini sendiri terkejut dengan jawaban yang meluncur begitu saja dari mulutnya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span> </span>“ Ya…Tuhan, sejak kapan aku berbohong pada suami?’ hati kecilnya berbisik.</span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span>“ Mau apa dia?”</span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span>“ Ya biasa silaturahmi, dia juga ingin mutasi ke sekolah mama”</span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span>“ Mutasi ke sekolahmu? Aneh! Dia kan guru SMA, masa mau pindah ke SMP?”</span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span>Oups! Inilah kalau berbohong, cape rasanya, otak jadi bego begini tapi aku harus bisa meyakinkan suamiku. Hati Arini kembali berdalih.</span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span>“ Emang dari dulu Si Nanang itu aneh, seperti Papa nggak tahu saja” kata Arini sambil berjalan menuju kamarnya lalu keluar lagi dengan handuk di tangan terus berjalan menuju kamar mandi. Sengaja ia lakukan itu untuk menghindari introgasi lebih jauh dari suaminya. Entah kenapa untuk yang satu ini Arini tidak ingin suaminya tahu. Diam-diam ia juga berdoa mudah-mudahan Tuhan tidak mempertemukan suaminya dengan Si Nanang, paling tidak untuk waktu dekat ini.</span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span>“ Hati-hati Pap, jangan percaya begitu saja. Mama sekarang suka chatt, jangan-jangan dia kopdar dulu sama teman chattnya, lama-lama bisa jadi selingkuh tuh Pap!’ Anis yang dari tadi diam saja tiba-tiba menimpali.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Jantung Arini hampir saja copot. Ada-ada saja anak yang satu ini. Dia seolah punya mata batin yang tajam. Banyak orang bilang kalau Anis adalah duplikat Arini. Anis cerdas, terbuka, kalau bicara selalu apa adanya dan tak pernah takut oleh siapa pun. Dia juga paling suka ngritik orang apalagi pada Arini ibunya.</span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span>“ Ooo , jadi mama ini pantas ya punya selingkuhan? Wah asyiiikkk dong!’ canda Arini menutupi keterkejutannya.</span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span>“ Iiihh jijay banget!Awas aja kalau berani begitu! Lagian sapa juga yang naksir mama” Anis mendelik.</span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span>“ Sembarangan! Kalau iya ada gimana? Hayoohh gimana?”</span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span>“ Harus berhadapan denganku! Tak tahu malu!” tantang Anis.</span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span>“ Sudah! Sudah! Anak sama ibu sama saja bawelnya. Mama lagi kayak anak kecil saja. Sana cepat mandi lalu siapkan makan malam. Kita makan bersama setelah solat magrib ”<span> </span>kata suaminya sambil<span> </span>berdiri dari tempat duduknya lalu pergi ke musola diikuti oleh Anis. Sementara Arini bergegas pergi ke kamar mandi. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span> </span>*</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>“ Assalamualaikum ,” sebuah suara menyapanya dengan lembut, ternyata Airlangga, <span> </span>anaknya yang sulung menyapa Arini yang sedang sibuk membuka lemari es, mencari bahan makanan yang bisa dimasak untuk makan malam.</span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span>“ Waaalaikusalam, kamu toh? Jam segini baru pulang, dari mana? Sana ikut si Papap ke mushola!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;"><span>“ Biasa Ma, latihan futsal untuk even liga pelajar, aku juga terpilih sebagai team debat dalam bahasa inggris Ma!” kata Airlangga bangga.“ Wow! Hebat dong anak mama, wah ini harus dirayakan!”O ya Ma,tadi Nuzul SMS, katanya pulangnya malam karena sibuk latihan buat konser tunggalnya nanti di Jakarta”<span> </span>Nuzul adalah anak kedua Arini.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>“ Ya, mama juga tahu. Dia tadi siang telpon mama juga”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>“ Trus sekarang Mama masak apa?”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>“ Yang ada Cuma ikan kerapu dan brokoli, kita balado aja ya, brokolinya dicah pake saus tomat, enak lho!”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>“ Aku nggak suka kerapu dibalado, udah digoreng mentega aja Ma!”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>“ Eeeehh, kerapu itu enaknya di saos tiram! Saos tiram aja Ma!” Anis tiba-tiba saja ikut berbicara dari balik pintu mushola. Arini tidak menanggapinya ia sibuk membersihkan ikan kerapu dan melumurinya dengan perasan air jeruk nipis, dilanjutkan kemudian dengan memotong-motong sayur brokoli dan memilih tomat-tomat yang matang untuk dibuat saus. Dicarinya saus tiram dan mentega dalam lemari dapur. Beberapa siung bawang putih, bawang bombay, garam,merica semua dijadikan bumbu untuk masakannya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span>“ Goreng mentega<span> </span>Ma”<span> </span>kata Airlangga.</span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span>“ Saos tiram!” Anis tak mau kalah</span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span>“ Goreng mentega, kata aku goreng mentega, </span><span lang="IN">goreng</span><span> mentega. Kamu tuh anak kecil, harus nurut sama yang lebih tua!”</span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span>“ Yeehh, Kakak yang harus ngalah pada adiknya!” Anis tak mau kalah.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>“ Ya, ampuuuunnn, makanan saja yang diributkan! Hayoh cepat solat! Langga, sekarang giliran kamu jadi imam!” Suaminya berteriak dari dalam mushola yang jaraknya memang tidak begitu jauh dari ruang makan dan dapur.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Airlangga tak menunggu perintah dua kali, dia bergegas membersihkan tubuhnya dan segera<span> </span>masuk ke mushola. Tak lama kemudian terdengar lantunan ayat-ayat suci alquran dikumandangkan oleh Airlangga. Begitu agung, syahdu mengalun seolah mengantar sang senja ke peraduan malam.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Diam-diam rasa bahagia menyelusup ke relung hati Arini. Ia merasa seolah mendengar suara dari surga ketika menyimak lantunan ayat suci dikumandangkan oleh Anaknya. Airlangga, remaja yang sebentar lagi menginjak dewasa, telah tumbuh menjadi laki-laki tampan yang cerdas, berprestasi, tak pernah meninggalkan solat dan sangat pintar mengaji. Ah ibu yang mana yang tidak bangga melihat anak-anaknya tumbuh menjadi anak-anak yang bisa dibanggakan. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Sejak</span><span> SD</span><span>, Airlangga selalu menjadi bintang kelas. Nuzul lain lagi, bakatnya di bidang musik dan olah raga membuatnya selalu sibuk dengan berbagai aktivitas di luar rumah.Beberapa kali dia menyumbangkan kejuaraan bagi sekolahnya. Nuzul selalu menjadi kebanggaan guru-guru dan juga kedua orang tuanya, terutama Arini ibunya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Si bungsu Anis walaupun agak manja, dia dikenal sebagai salah seorang anak tercantik di sekolahnya. Selain itu dia sangat cerdas dan kreatif. Dia tak pernah menyusahkan orang tua. Anis sudah pintar mencari uang sendiri dengan keterampilan yang dimilikinya. Tulisan-tulisan Anis yang sering dimuat di majalah remaja, membuat Anis tak perlu minta uang jajan atau keperluan sekolah. Belum lagi kepiawaiannya dalam membuat gula-gula coklat yang sering dijual ke toko-toko atau kantin sekolahnya. Anis tak pernah membiarkan waktu berlalu begitu saja, selalu saja ada yang bisa dia kerjakan. Itulah mungkin yang membuat Anis lebih bisa bersikap mandiri dan tak segan mengritik ibunya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>“ Waaahhhh, kok kerapunya<span> </span>aneka rasa Ma? “ sapa suaminya sambil memeluk pinggang Arini dari belakang.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>“Papa…kebiasaan ya, malu ah dilihat anak-anak, <span> </span>eh..sudah beres solatnya ? Yu kita makan !<span> </span>Macam-macam ya ikannya, pesanan Airlangga dan Anisa kan berbeda” </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>“ Pesanan papa mana?” Tanya suaminya lagi, dikecupnya tengkuk Arini seolah dia tidak mendengar protes Arini untuk tidak bermesraan di depan anak-anak.</span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span>“ Lho, papa kan nggak pesan apa pun” </span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span>“ Papa minta cah brokoli pake saus tomat’</span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span>“ Ooohh, kalau itu dah mama buatkan, empingnya juga dah digoreng tuh, ada sambal hijau juga kesukaan papa”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>“ Buahnya mana?” </span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span>“Hari ini tidak ada buah kan habis di jus sama si Anis. Jadi mama ganti aja dengan pudding caramel, nggak apa-apa kan?” Tanya Arini memohon.</span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span>“ Asyiiikk<span> </span>dong, hai anak-anak hayoh kita makan. Eh Ma, jangan lupa sisakan dulu buat Nuzul. Sepertinya dia tidak bisa makan malam bersama<span> </span>“</span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span>“ Tenang sudah mama siapkan”</span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span>Mereka pun makan malam dengan akrabnya walaupun ada yang kurang karena ketidak hadiran Nuzul si tukang ngocol.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>“ Langga, selesai makan nanti kamu cuci piring lalu ke Griya, persediaan makanan di lemari es sudah habis. Anis, besok tugasmu menyiapkan makan malam dan makan siang, jadi pukul satu siang kamu sudah harus ada di rumah. Untuk makan pagi , biar mama yang urus.” Seperti biasa Arini membagi tugas buat anak-anaknya. Kebiasaan itu sudah sejak lama diberlakukan tepatnya sejak mereka tidak lagi membutuhkan pembantu di rumah.</span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span>“ Nuzul apa tugasnya Ma?” Tanya Airlangga, anak itu selalu saja tak mau kalau tugasnya lebih berat dari adiknya, terutama Nuzul.</span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span>“ Tugas Nuzul membersihkan rumah dan pekarangan” jawab Arini.</span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span>“ Papa? “ suaminya ikut mengacungkan tangan dengan mimik yang lucu.</span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span>“ Tugas Papa cari uang yang banyak buat bekal liburan nanti “ Anis yang jawab.</span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span>“ Setujuuuuuu, liburan nanti kita ke Bromo ya Pap!”<span> </span>kata Airlangga semangat.</span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span>“ Oke, tapi kalian semua harus bisa meningkatkan atau paling tidak mempertahankan prestasi dalam semester ini” </span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span>“ Siap Bos! “ keduanya serempak menyepakati. Setelah kesepakatan dibuat mereka pun bubar dari ruang makan lalu berkumpul di ruang TV, menyaksikan acara malam itu sambil menunggu Nuzul pulang, namun pada akhirnya<span> </span>Nuzul menyampaikan pesan lewat telepon kalau malam ini dia tak bisa pulang karena menginap di rumah guru musiknya. Arini tak bisa mencegahnya Ia hanya berpesan agar Nuzul tidak lupa solat dan makan , sekaligus pula diingatkan kalau pukul lima pagi Nuzul harus sudah berada di rumah.Sebelum  Nuzul berangkat ke sekolah rumah dan pekarangan harus sudah bersih.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Malam pun kian merayap perlahan, dingin dan sunyi. Tak ada lagi suara televisi dari ruang tengah. Anak-anak telah terlelap dalam pelukan mimpi yang manis tentang liburan panjang yang sebentar lagi menjelang. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Hanya Arini yang masih terjaga. Ia baru saja selesai membuat rencana pembelajaran untuk esok. Badannya terasa pegal, perlahan dia masuk ke kamar. Dibukanya lemari pakaian, sehelai gaun tidur yang lembut dikeluarkannya dari dalam lemari lalu dipakainya, ah gaun yang manis, hadiah ulang tahun dari suaminya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Jam di dinding <span> </span>berdentang<span> </span>sebelas<span> </span>kali. Malam kian sunyi, dari balik jendela kamar tampak sang bulan bersembunyi malu-malu sementara angin dengan lembut membelai pucuk-pucuk daun mangga yang sedang berbunga. Ada wangi melati dan sedap malam yang diam-diam menyelinap ke dalam kamar.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Di depan meja rias, Arini duduk termangu.Selamat malam Arini, sapanya sambil tersenyum pada bayangannya sendiri di cermin. Diambilnya milk cleanser, disapukannya dengan lembut ke wajahnya disusul kemudian dengan face tonic. Setelah itu olesan cream zaitun menyapu seluruh wajah dan lehernya yang jenjang, tercium wangi semerbak<span> </span>sari zaitun yang lembut . Dilanjutkan kemudian dengan mengoles sedikit liff balm ke bibirnya, setelah itu beralih ke rambut. Disikatnya dengan lembut rambutnya yang hitam panjang dan ikal. Terakhir disemprotkannya sedikit Sarah Jesica ke bagian belakang telinga dan pergelangan tangan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Yang terakhir itu merupakan salah satu kebiasaan Arini yang sulit dihilangkan. Sejak kecil Arini tidak bisa tidur tanpa wewangian. Itu karena ulah neneknya yang mengatakan kalau tidur harus wangi, agar dijaga bidadari. Waktu kecil, Arini sangat ingin bertemu dengan bidadari yang kata neneknya sangat cantik dan baik hati. Kata neneknya pula, bidadari akan datang menemani kala kita tertidur lelap. Benar atau tidak cerita itu, bagi Arini sudah tidak penting lagi, yang jelas Arini sangat suka memakai wewangian menjelang tidur sampai saat ini. Anehnya kalau siang hari justru dia tidak menyukai wangi apa pun selain lotion.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Di tempat tidur, tampak suaminya sudah terlelap, seekor nyamuk<span> </span>nakal hinggap di pipi nya. Arini geram, dikibaskannya tangannya untuk mengusir si nyamuk nakal yang kontan terbang menjauh begitu melihat hentakan tangan Arini. Ada titik merah bekas gigitan nyamuk, di pipi suaminya, dikecupnya dengan lembut dan<span> </span>perlahan direbahkannya tubuhnya di samping suaminya. Matanya nanar melihat kemana gerangan sang nyamuk terbang, Arini ingin meremas nyamuk kurang ajar itu. Namun sang nyamuk telah terbang entah ke mana.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Dalam rebah, mata Arini sulit terpejam. Sesuatu tiba-tiba saja hadir mengganggu pikirannya. Andrea! Nama itu tiba-tiba muncul di kepalanya diikuti kemudian dengan bayangan wajahnya, senyumnya, pandangnya semua seakan menyatu dalam satu peristiwa tadi siang. Ah bayangan Andrea ketika tadi siang mereka ngobrol di café itu terus menari-nari <span> </span>dan bergelayut dalam benaknya. Pertemuan yang manis.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Pertama kali sejak pernikahannya, Arini ngobrol akrab berdua dengan laki-laki lain selain suaminya dalam acara makan siang pula. Untuk orang lain mungkin itu hal biasa tapi bagi Arini hal itu sangat luar biasa. Bisa juga dikatakan sebagai hal yang aneh! Lebih aneh lagi<span> </span>karena Arini tidak sedikitpun merasa bersalah atau menyesali keputusannya untuk bertemu dengan Andrea. Ah entah setan mana yang merasuki pikirannya, entah hukum mana yang mempengaruhinya. Arini<span> </span>seolah mengesampingkan satu hukum yang berlaku yaitu tidak dibenarkannya seorang wanita muslim, apalagi sudah bersuami berdekatan dengan laki-laki yang bukan muhrimnya karena hal itu bisa mendatangkan fitnah.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>“Tolong jangan tanyakan itu padaku!” hatinya tiba-tiba saja berbisik lirih. Dia tak mau berperang dengan hati kecilnya karena dia sendiri tidak mengerti, kenapa dia begitu akrab dengan Andrea padahal mereka baru pertama bertemu. Entahlah, pertemuan dengan Andrea seolah membawa Arini ke dalam dunia indahnya dahulu yang sekian tahun telah terenggut waktu dan hampir dilupakannya. Bersama Andrea Arini merasa ada sesuatu yang hidup kembali dan berkobar di hatinya entah apa. Ada semangat dan gairah yang indah untuk menatap hari esok. Senyum Andrea adalah penawar kerinduan yang seolah datang merengkuh Arini dalam kehangatan. Kerinduan pada apa, pada siapa Arini tak tahu dan sulit untuk menjelaskannya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Salahkah untuk semua itu? Inna amalu binniat. Tiba-tiba kalimat itu melintas dalam pikirannya. Kalimat yang sering didengar Arini dalam pengajian ibu-ibu di masjid. Ya apa pun yang dikerjakan seseorang bergantung pada niatnya. Kalimat itu telah<span> </span>membuat Arini sedikit merasa terlepas dari pikiran yang seolah menyudutkannya. Perlahan rasa kantuk pun mulai menyerang,diliriknya jam di dinding kamar, jarumnya tepat mengarah ke angka 12. Dari ruang tengah terdengar pula dentangan nyaring dua belas kali, suaranya menyeruak di tengah malam yang dingin. Bersamaan dengan itu, Arini pun rebah berselimut mimpi.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/renik.wordpress.com/16/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/renik.wordpress.com/16/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/renik.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/renik.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/renik.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/renik.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/renik.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/renik.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/renik.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/renik.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/renik.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/renik.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/renik.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/renik.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/renik.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/renik.wordpress.com/16/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=renik.wordpress.com&amp;blog=1231860&amp;post=16&amp;subd=renik&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://renik.wordpress.com/2008/06/12/ada-dusta-dalam-cerita-sca-episode-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">renik</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>SENANDUNG CINTA BUAT ARINI ( Episode Jumpa Pertama )</title>
		<link>http://renik.wordpress.com/2008/04/25/senandung-cinta-buat-arini-episode-jumpa-pertama/</link>
		<comments>http://renik.wordpress.com/2008/04/25/senandung-cinta-buat-arini-episode-jumpa-pertama/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Apr 2008 05:40:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>renik</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://renik.wordpress.com/?p=13</guid>
		<description><![CDATA[Baru saja Arini selesai menulis laporan, pintu ruangannya ada yang mengetuk. &#8221; Masuk..&#8221; suara Arini lembut &#8221; Siang Bu! &#8221; dengan manisnya Bu Nuni memberi salam. Bu Nuni adalah salah seorang stafnya di bagian kesiswaan.&#8221; Hai, ada apa Bu Nuni? &#8221; sapa Arini dengan ramah. &#8221; Ini Bu, masalah yang kemarin, sudah saya bicarakan dengan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=renik.wordpress.com&amp;blog=1231860&amp;post=13&amp;subd=renik&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img style="vertical-align:middle;" src="http://img143.imageshack.us/img143/4308/pertemuanlk1.jpg" alt="" /></p>
<p>Baru saja Arini selesai menulis laporan, pintu ruangannya ada yang mengetuk.</p>
<p>&#8221; Masuk..&#8221; suara Arini lembut</p>
<p>&#8221; Siang Bu! &#8221; dengan manisnya Bu Nuni memberi salam. Bu Nuni adalah salah seorang stafnya</p>
<p>di bagian kesiswaan.&#8221; Hai, ada apa Bu Nuni? &#8221; sapa Arini dengan ramah.</p>
<p>&#8221; Ini Bu, masalah yang kemarin, sudah saya bicarakan dengan kepsek. Kesimpulannya</p>
<p>tetap saja begitu. Dia tetap minta buku yang dari dinas itu dibayar dari dana kesiswaan.&#8221;</p>
<p>&#8221; Gila! Itu kan tidak kita anggarkan? Buku itu urusan guru mata pelajarann bukan urusan kita.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya Bu, semua sudah saya jelaskan tapi kepsek tetap pada pendiriannya, saya juga</p>
<p>sudah mengatakan kalau OSIS masih banyak kegiatan&#8221;</p>
<p>&#8221; Berapa jumlah yang harus dikeluarkan Nun?&#8221;</p>
<p>&#8221; lima juta , Bu &#8220;</p>
<p>&#8221; Tuh uang sebesar itu kan bisa untuk lima atau enam kegiatan&#8221;</p>
<p>&#8221; Benar Bu, saya sudah katakan hal itu padanya, katanya kegiatan pun harus lebih diseleksi lagi.</p>
<p>Kegiatan keluar yang boleh diikuti hanya kegiatan untuk tingkat kota saja&#8221;</p>
<p>&#8221; Ya sudah lah, biar saya nanti yang akan berbicara padanya&#8221;</p>
<p>&#8221; Terimakasih Bu, Assalamualikum&#8221;</p>
<p>&#8221; Waalaikumsalam, terimakasih kembali atas laporannya ya&#8221;</p>
<p>Arini terdiam sebentar, matanya masih mengikuti langkah Bu Nuni yang baru saja</p>
<p>meninggalkan ruangannya. Diketuk-ketukannya ballpoin di tangan pada meja di depannya.</p>
<p>&#8221; Ini benar-benar keterlaluan!&#8221; gumamnya pada dirinya sambil berjalan menuju ruang kepala sekolah.</p>
<p>&#8221; &#8221; Hai Bu Arini, ada apa menemui saya?&#8221; Tanya kepala sekolah ketika Arini sudah berada di hadapannya.</p>
<p>&#8221; Ada yang ingin saya bicarakan Bu. Ibu ada waktu buat saya? &#8220;</p>
<p>&#8221; O..tentu saja, silakan tentang apa Bu Arin?&#8221;</p>
<p>&#8221; Tentang buku yang di drop dari dinas itu Bu.&#8221;</p>
<p>&#8221; O Ya, terus kenapa? Itu kan sudah saya bicarakan dengan Bu Nuni.&#8221;</p>
<p>&#8221; Justru itu, saya ingin membicarakan tentang pembayarannya&#8221;</p>
<p>&#8221; Itu pun sudah saya bicarakan pula dengan Bu Nuni.&#8221;</p>
<p>&#8221; Nahh itu dia Bu, saya kemari karena Bu Nuni tidak bisa mengeluarkan uang tanpa acc saya&#8221;</p>
<p>&#8221; Lho kok begitu, saya kan sudah meminta pada Bu Nuni untuk mengeluarkan uang itu.</p>
<p>Saya kan pimpinan di sini?&#8221;</p>
<p>&#8221; Betul Bu, tapi ini organisasi. Bu Nuni staf saya, dia tidak mau mengambil keputusan</p>
<p>tanpa konfirmasi dengan saya&#8221;</p>
<p>&#8221; Kalau begitu ya tinggal di acc saja oleh Bu Arini, apa susahnya?&#8221;</p>
<p>&#8221; Di situlah letak masalahnya, saya tidak bisa menyetujuinya.Saya tidak setuju kalau</p>
<p>uang buku itu dibayar dari dana kesiswaan karena tidak ada hubungannya dengan</p>
<p>kegiatan kesiswaan. Menurut saya, buku itu lebih tepat diserahkan saja pada</p>
<p>bendahara komite atau dana perpustakaan karena erat kaitannya dengan kegiatan siswa di kelas.&#8221;</p>
<p>&#8221; Jadi menurut Bu Arin , Bu Arin tidak akan menyetujui pembayaran buku itu dari dana kesiswaan, begitu?&#8221;</p>
<p>&#8221; Begitulah Bu, kita juga kan tidak menganggarkannya, biasanya kan kalau untuk</p>
<p>kepentingan pembelajaran, ibu selalu membebankan kepada siswa.</p>
<p>Bagaimana kalau buku itu kita bebankan saja kepada siswa? &#8220;</p>
<p>&#8221; Itu sama saja dengan menghancurkan karir saya, Bu Arini tahu kan,</p>
<p>sejak ada Bos, kita tak bisa melakukan itu!&#8221;</p>
<p>&#8221; Kalau begitu bayar saja dari Bos, atau tidak perlu dibeli saja Bu? &#8220;</p>
<p>&#8221; Bu Arin, saya lebih tahu bagaimana cara menggunakan uang Bos.</p>
<p>Bu Arin juga pasti tahu apa akibatnya bila buku itu kita tolak. Dikemanakan wajah saya di MKS nanti&#8221;</p>
<p>&#8221; Begini saja Bu, bagaimana kalau kita gunakan saja dana taktis?&#8221;</p>
<p>Arini tiba-tiba saja teringat pada dana taktis yang tersimpan di kepsek.</p>
<p>Ya dana kesiswaan seluruhnya ada enam puluh juta rupiah, lima belas juta tersimpan di kepsek</p>
<p>sebagai dana taktis. Dana itu dikeluarkan bila ada pengeluaran darurat dan mendadak di luar program.</p>
<p>Ya semacam dana cadangan.</p>
<p>&#8221; Apa? Dana taktis? Bu Arin tahu dari mana tentang dana taktis?&#8221; kepsek terlihat kaget.</p>
<p>&#8221; Tentu saja Bu, tidak hanya saya tapi semua wakasek tahu tentang dana itu. Itu komitmen kami dengan kepsek lama, sebelum ibu datang ke sekolah ini sebagai PLT&#8221; tegas Arini, dilanjutkan dengan penjelasan panjang lebar mengenai penggunaan dana taktis yang menurut perkiraan Arini, kepsek baru belum tahu.</p>
<p>&#8221; Dana taktis sudah habis&#8221; nada bicaranya berubah agak tinggi tapi tanpa ekspresi.</p>
<p>&#8221; Habis Bu? Habis dipakai apa? Ini kan baru bulan September, perasaan belum ada kegiatan yang mendadak dan darurat? Mengapa Ibu tidak konsul dengan saya?&#8221;</p>
<p>&#8221; Habis dipakai untuk apa itu tanggung jawab saya, Lalu konsul dengan Bu Arini apa urusannya? Saya kan kepsek di sini, saya berhak membuat keputusan sendiri dan itu hak prerogatif saya sebagai pimpinan&#8221; suara kepsek terdengar semakin meninggi, sepertinya ada sesuatu yang tidak berkenan di hatinya atas sikap Arini.</p>
<p>&#8221; Betul Bu, Ibu adalah pimpinan di sini, tapi dana itu ada di bawah tanggung jawab saya sebagai wakasek kesiswaan, saya ikut bertanggung jawab atas penggunaannya dan saya pula nanti yang harus menandatangani laporan pertanggungjawaban di akhir kegiatan nanti, kepsek lama selalu bermusyawarah dulu bila akan menggunakan dana itu.&#8221; Tegas Arini mantap tapi tetap ada dalam kesopanannya.</p>
<p>&#8221; Jangan bandingkan saya dengan kepsek lama!&#8217; Kepsek terlihat sangat emosional, dia berdiri dari duduknya sementara Arini dengan wajah yang tenang masih duduk dengan sopan di hadapannya.</p>
<p>Arini hanya tersenyum kecil melihat sikap kepsek.</p>
<p>&#8221; Bu, ini sekolah bukan kandang sapi, yang saya bicarakan bukan individu kepsek lama dan baru tapi manajemennya. Kita berbicara tentang manajemen sekolah. Komitmen di sekolah ini sudah seperti itu. Ibu tidak bisa mengambil kebijakan sendiri tanpa bermusyawarah terlebih dahulu dengan para wakasek&#8221;</p>
<p>&#8221; Cukup Bu Arini ! Silakan keluar dari ruangan saya&#8221; kepsek terlihat sangat marah, matanya sedikit memerah, ada garis kebencian dan kekesalan terlihat jelas pada wajahnya dan itu semua ditujukan pada Arini yang dianggapnya telah lancang.</p>
<p>&#8221; Terimakasih atas waktu yang ibu berikan. Assalamualaikum&#8221; Arini keluar ruangan dengan santai tidak terlepas senyuman yang selalu tersungging di bibirnya. Itulah Arini, senyum bagi dia adalah bahasa hati</p>
<p>Telinga Arini masih sempat mendengar kepsek ngomel-ngomel sendirian di ruangannya. Entah apa yang diucapkannya..</p>
<p>&#8221; Ada apa lagi Bu Arin? &#8221; Kaur di ruang tatalaksana menyapa Arini yang baru saja keluar dari ruangan</p>
<p>kepsek.</p>
<p>&#8221; Tanya saja sendiri pada kepsek&#8221; di depan Kaur yang sudah sangat akrab dikenalnya, Arini tidak bisa menyembunyikan kekesalan hatinya. Kaur hanya tersenyum saja melihat Arini seperti itu. Ya semua orang di sekolah ini tahu siapa Arini. Dia adalah guru yang tak pernah takut oleh siapa pun.</p>
<p>Arini terus berjalan menuju ruang guru. Ia mencari komputer yang kosong di sana. Sayangnya tak ada satu pun. Ini jam pulang sekolah. Sejak dipasang jaringan internet di sekolah ini, sejak itu pula para guru gemar pulang agak telat. Mereka asyik dengan kesibukannya sendiri ngutak- ngatik komputer. Ada yang browsing tak sedikit pula yang chatting. Ya chatting menjadi kegiatan baru di sekolah ini setelah sebelumnya diramaikan oleh permainan bilyard yang ada di belakang ruang guru, atau tersedia pula key board bagi guru yang senang bernyanyi. Ah mana ada sekolah lain yang menyenangkan seperti ini, itu semua berkat jasanya kepsek lama yang sekarang sudah purnabakti.</p>
<p>Ya begitu pula halnya dengan Arini. Arini sudah lama akrab dengan internet. Benda yang satu ini langsung menjadi bagian yang penting dalam hidup Arini. Dia bisa menggali informasi sebanyak-banyaknya . Hal itu sangat menunjang sekali untuk profesi sampingannya sebagai penulis.</p>
<p>Seperti saat itu, begitu melihat komputer di ruang guru penuh, ia pun melangkah menuju ruang IT yang terletak di lantai dua. Ruangan berkarpet biru yang sejuk dan nyaman. Di sanalah Arini bisa bebas berselancar di internet. Ia pun sudah punya tempat tersendiri di sudut ruangan. Tak ada seorang pun yang berani menempati tempat itu. Tempat itu seolah sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dengan rutinitas Arini di sekolah. Ia betah ber jam-jam di ruangan itu.</p>
<p>Arini pun merasa lebih menyukai tempat itu dibanding ruangannya sendiri yang terletak di sebelah ruangan kepsek. Di ruangannya sendiri malah tak ada jaringan internet. Di sana hanya ada sebuah komputer kerja saja. Itu semua atas kesepakatan bersama antar wakasek untuk menjaga pandangan orang</p>
<p>Tentang kegiatan chatt di internet. Maklum sulit mengubah imajinasi orang tentang chatter yang selalu saja dikaitkan dengan hal yang kurang baik.</p>
<p>Benarkah hal itu? Bisa iya bisa tidak. Bagi Arini chatt bisa dijadikan pelampiasan segala perasaan yang berkecamuk di dalam hatinya. Seperti halnya saat ini. Ia ingin menumpahkan segala yang mengganjal di hatinya kepada siapa saja yang ada di room. Ia bisa memarahi siapa saja di sana . Arini akan semakin senang bila kemarahannya ditanggapioleh para chatter lain yang sama sekali tidak dikenalnya. Itulah salah satu kebiasaan Arini bila sedang kesal pada siapa pun, termasuk kesal pada kepala sekolah, seperti halnya saat ini. Kebiasaan yang jelek dan sangat aneh bila ditinjau dari etika chatting dan jalinan silaturahmi. Itu yang sering dikatakan sahabatnya, tapi Arini tidak peduli.</p>
<p>Dibukanya YM, ternyata hari ini rupanya jaringan kurang bagus. Arini hanya melihat seraut wajah bulat kuning sedang tertawa dan meloncat-loncat lucu sekali. Arini jadi teringat kata-katanya pada salah seorang teman mayanya, kalau mahluk kecil bulat itu adalah anaknya yang diberi nama Kay. Entah dari mana Arini mendapatkan nama itu karena tiba-tiba saja muncul di kepalanya ketika dia sedang bercakap-cakap dengan teman mayanya itu. Arini dengan sabar menunggu list terbuka.</p>
<p>List pun terbuka juga, Arini melihat beberapa nama dalam list nya menyala terang tapi dia tidakbermaksud untuk menyapa seorang pun di antara teman-temannya. Mouse ia gerakkan untuk mengarah ke chatt sebagai pintu masuk ke room. Tiba-tiba sebuah PM muncul di layar monitor &#8221; Ha..ha..ha&#8230;akhirnya kamu muncul juga&#8230;&#8221; Arini tak jadi masuk ke room. Begitu ia melihat siapa pemilik PM yang tidak lain adalah seseorang dengan ID aandrea, teman yang sudah lama dan sangat akrab dikenalnya.</p>
<p>&#8221; Haii, apa kabar? Sudah lama ol?&#8221;</p>
<p>&#8221; Lumayan dah sepuluh menitan, aku menunggumu Arin!&#8221;</p>
<p>&#8221; O&#8230;ya? Arini tersenyum, entah kenapa , selalu saja ada rasa bahagia bila melihat ID ini menyala dan menyapanya dengan hangat.Lupalah ia pada semua kekesalan hatinya. Andrea telah membuat semuanya terasa menyenangkan.</p>
<p>&#8221; Hei Arin, kamu tahu tidak, aku tadi telepon ke sekolahmu katanya kamu sudah pulang. Aku tek percaya, makanya aku sabar aja menunggu kamu ol. Ha..ha..ha.. ternyata feelling aku benar, kamu belum pulang!&#8221;</p>
<p>&#8221; Wah, ini kejutan. Ada apa pake telpon aku ke sekolah?&#8221; Tanya Arini entah kenapa hatinya tiba-tiba saja cemas.</p>
<p>&#8221; Kejutan manis! Apalagi bila kamu tahu di mana aku sekarang..&#8221; jawab dari sebrang sana.</p>
<p>&#8220;Wahhh&#8230;katakan doong kamu ada di mana Andree&#8221; tulis Arini penuh rasa ingin tahu</p>
<p>&#8221; aku ada di warnet dekat sekolahmu&#8217;</p>
<p>‘ apa ? Jadi kamu ada di Camellia net? Warnet yang ada di depan sekolahku itu?&#8221; selidik Arini.</p>
<p>&#8221; Bener..banget! Kena kamu sekarang, aku ingin bertemu kamu Arin. Bagaimana caranya? Kamu datang ke sini atau aku yang datang ke sana? &#8221; desak Andrea.</p>
<p>Dug! Jantung Arini berdegup kencang, aliran darahnya terasa berhenti. Nekat banget Si Andre, pake berani datang segala. Apa yang harus ia lakukan pada Andrea? Haruskah Andrea diperlakukan seperti Minami? Minami teman maya dari Osaka yang ngotot ingin bertemu Arini karena Arini sangat mirip kekasihnya yang telah tiada. Kontan saja Arini sangat ketakutan, ia tak menyangka Minami akan sejauh itu. Arini panik dan langsung mengarang cerita menyatakan seolah-olah Arini sudah mati.Trik itu berhasil, putuslah hubungan persahabatan Arini dan Minami.</p>
<p>Satu lagi Teguh. Ia juga ngotot ingin bertemu dengan Arini. Waktu berkata begitu, dia sudah berada di kota di sekitar lokasi tempat kerja Arini. Arini cepat berkelit dengan meminta maaf dan mengatakan dia sedang berada di luar kota. Ternyata triknya kali ini tak mempan buat Teguh. Teguh yang ahli teknologi sangat tahu kalau Arini berbohong. Dari note book yang selalu setia menemaninya , Teguh tahu kalau Arini masih berada di lokasi yang sama. Teguh marah, ia paling tidak suka dibohongi. Teguh pun memutuskan persahabatannya dengan Arini dan Arini sama sekali tidak merasa kehilangan.</p>
<p>Kini muncul Andrea dalam jarak yang hanya sekitar sepuluh meter dari sekolah tempat Arini bekerja. Duuh, bagaimana ini? Apa yang harus dilakukan?&#8221; Arini panik. Dia tak menyangka masalahnya akan sejauh ini. Selama chatt dia sama sekali tidak berharap untuk bertemu dengan siapa pun termasuk dengan Andrea yang sudah lebih kurang 5 bulan ini dikenalnya. Persahabatan yang diharapkan cukup hanya di dunia maya saja, kini malah akan dibawa ke dunia nyata. Ya sekarang masalahnya jadi seperti ini, Arini benar-benar bingung apa yang harus dia lakukan.</p>
<p>&#8221; Ariiiiiiinnnnnnnnnnnn, kenapa diaaaaammm..cepaaaatt jawab! Kamu ada di mana sekarang?&#8221; Andrea berteriak di PM, Arini semakin panik. Ia sama sekali tidak menyangka akan bertemu dengan sahabat mayanya secepat itu.</p>
<p>&#8221; Maaf..maaf, betul aku masih di sekolah. Aku diam karena nggak nyangka bakal ketemu kamu secepat ini. Iya..iya.., kamu aja yang ke sini ya Aku ada di ruang multimedia. Tanya saja pada satpam di depan, di mana ruang multimedia. Katakan kamu mo ketemu aku. Aku menunggumu di sini, ok?&#8221;</p>
<p>&#8221; Ok sayang, aku datang sekarang&#8221;</p>
<p>Arini tersenyum dipanggil sayang. Dalam hatinya berkata, pasti Andrea akan menyesal memanggil Arini dengan kata sayang. Setelah tahu siapa dirinya. Ya pasti Andrea menyangka kalau Arin itu wanita yang cantik, mempesona seperti yang sering dia ceritakan tentang wanita -wanita idolanya. Waah Arin sangat jauh dari sosok seperti itu. Arin tidak modis, tidak manis malah terkesan nyeleneh. Namun apa pun masalahnya keputusan untuk bertemu Andrea sudah dibuat. Ya Arini telah memutuskan untuk bertemu dengan Andrea. Ini semua harus diakhiri sebelum Andrea-Andrea lain bermunculan karena keisengan Arini di dunia maya. Dia pun bergegas ke luar menuju ruang multimedia yang masih berada di lantai dua juga.</p>
<p>Arini memang tak pernah berniat bertemu dengan teman-temannya di dunia maya. Arini merasa semua itu sudah tak pantas dia lakukan. Dia bukan wanita lajang dan usianya juga sudah tidak muda lagi. Apalagi teman-temannya di dunia maya pada umunya laki-laki semua yang keadaannya pun tidak jauh berbeda dengan Arini. Arini pun sulit untuk mamahami pertemanan macam apa yang terjadi antara dua orang dewasa lain jenis yang umumnya sudah berstatus istri atau suami. Atau itu hanya sebuah pemikiran dangkal Arini saja? Ah tak tahulah.</p>
<p>Namun kini ia tak kuasa berkata tidak pada Andrea. Orang yang satu ini terlalu baik untuk dibohongi dan ditolak kehadirannya. Biarlah, apa yang terjadi terjadilah. Arini harus berani menghadapinya.</p>
<p>&#8221; Bu Arin, ada tamu dari Jakarta mencari ibu&#8221; sebuah suara dari balik pintu tiba-tiba saja mengagetkan Arini.</p>
<p>&#8221; O..ya? Suruh masuk saja&#8221; jawab Arini tanpa melihat siapa yang berbicara tadi, ia sibuk mengotak-atik komputer yang ada di ruang multimedia. Di ruang itupun banyak juga guru-guru lain teman Arini yang sedang sibuk merancang model pembelajaran. Ada juga beberapa guru yng sedang asyik chatt. Arini bangkit dari duduknya setelah selesai mematikan komputernya. Baru saja dia membalikkan tubuhnya, seseorang tinggi tegap berdiri di depan pintu ruang multimedia, di antar oleh salah seorang teman guru.</p>
<p>&#8221; Bu Arini, ini ada yang mencari &#8220;</p>
<p>Arini tertegun melihat yang datang, dipersilakannya masuk dan duduk, sambil matanya tak lepas memeperhatikan tamu yang baru saja datang. Badannya tinggi tegap, berkumis tipis dengan senyuman yang selalu tersungging di bibirnya, menambah simpatik orang yang baru datang itu. Entah kenapa hati kecil Arini mengatakan kalau orang yang baru pertama dilihatnya itu adalah Andrea. Maka ia pun langsung menyapanya</p>
<p>&#8221; Haii, Andrea ya? Saya Arini&#8221; kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulut Arini. Ia sama sekali tidak berpikir bagaimana kalau salah. Begitulah Arini selalu super yakin pada dirinya, pada kata hatinya. Diulurkannya tangannya kepada sang tamu yang menyambutnya dengan hangat dan tidak lepas dari senyuman.</p>
<p>&#8221; Tadi pagi&#8221; kata si tamu dengan ramah.</p>
<p>&#8221; Haaiii Bu Arin, kok nggak dikenalkan niiihh&#8221; teman-temannya mengingatkan Arini, Arini baru sadar kalau di ruangan itu ada beberapa temannya. Arini tersipu sekaligus heran karena tak biasanya teman-temannya minta dikenalkan pada tamu yang datang buat Arini.</p>
<p>&#8221; Tentu doong, kenalkan nih teman lamaku waktu kuliah dulu&#8221; jawab Arini sekenanya. Ya masalahnya bisa jadi gawat, kalau mereka sampai tahu, yang datang itu teman chatt.Wah itu bisa jadi issue terheboh di sekolah apalagi bila yang melakukannya adalah salah seorang wakasek . Malum pandangan orang tentang chatter selalu miring apalagi pakai kopdar dengan lawan jenis pula.</p>
<p>Andrea duduk setelah berkenalan dengan teman-teman Arini. Selanjutnya Arini berpikir di mana tempat yang baik untuk berbincang-bincang dengan Andrea. Di ruangan itu rasanya tak mungkin, di ruang guru apalagi,di ruang pribadinya terkesan terlalu resmi, di rumah? Ah kurang enak kalau belum bicara dengan suami apalagi pada jam-jam begini suaminya masih di kantor. Ah tiba-tiba saja Arini teringat dalam salah satu pembicaraan Andrea di chatt, kalau dia sangat suka batagor. Senyum kecil pun tersungging di bibir Arini. Ya batagor Bandung yang terkenal itu kan buka cabang dekat sekolah Arini. Ya kesitulah Arini akan membawa Andrea. Berdua mereka pun ke luar dari gedung sekolah, menuju tempat penjual batagor.</p>
<p>Sayang sekali, hari ini Andrea kurang beruntung, si tukang batagor tidakberjualan. Akhirnya Arini membawa Andrea ke sebuah café mungil tak jauh dari tempat itu. Tempatnya cukup tenang dan terlindung dari pandangan orang-orang tapi tidak terkesan bersembunyi. Itu memang tempat langganan keluarga Arini bila kebetulan arini malas masak.</p>
<p>&#8221; Senang sekali bertemu denganmu&#8221;, Andrea membuka pembicaraan ketika mereka sampai di café dan memilih sebuah tempat di sudut ruangan yang nyaman. Sayup terdengar alunan musik pengiring makan siang yang lembut</p>
<p>&#8221; Ya, inilah aku teman mayamu, selama ini kamu hanya mengenal aku lewat pik yang kupasang di pm. Inilah aslinya, ancur kan?&#8217; canda Arini.</p>
<p>&#8221; Ha..ha..ha&#8230; orang begini manis dibilang ancur! ‘Andrea tetap saja selalu memuji. Ya seperti itulah dia di dunia maya. Hangat , bersahabat sungguh tak berbeda dengan Andrea di dunia nyata.</p>
<p>&#8221; Rin, sebelumnya aku sama sekali nggak ada niat untuk menemuimu. Hanya saja aku ada urusan ke Bandung. Eh waktu aku nunggu mobil, aku melihat banyak anak-anak SMP lewat. Aku lihat dari identitas sekolahnya sepertinya itu siswa-siswa kamu. Ya langsung saja aku Tanya letak sekolahnya sekalian aku juga tanyakan kamu kepada mereka. Eh ternyata mereka semua mengenalmu dan jarak sekolahmu ternyata nggak jauh dari lokasi aku menunggu mobil. Ya udah aku coba aja mampir, abis ditelepon katanya dah pulang, tapi tadi aku lihat kamu ol. Ah senangnya aku ketemu sahabatku, gimana kamu juga senang nggak ketemu aku?&#8221; Andrea menjelaskan panjang lebar tentang bagaimana dia bisa sampai ke sekolah Arini.</p>
<p>Arini tersenyum saja mendengar Andrea bercerita. Ah orang ini sangat menyenangkan, dia benar-benar terbuka dan selalu berbicara apa adanya.</p>
<p>&#8221; Emang ada urusan apa kamu ke Bandung?.&#8221;</p>
<p>&#8221; Biasa laaahh Rin, kan aku dah cerita ke kamu tentang aku&#8221;</p>
<p>‘ Ooohh, nengok anakmu ya. Jadi rumahnya di komplek daerah sini ya? Kok bisa kebetulan begitu Dree?&#8221;</p>
<p>‘ Kamu nggak nyangka ya, emang dah jodoh kaleee&#8221; canda Andrea.</p>
<p>Arini pun tersenyum. Ya Andrea pernah cerita tentang perjalanan hidupAndrea yang pernah mengalami kegetiran dalam rumah tangganya, membuat Andrea harus berpisah dengan anak yang sangat dicintainya. Kini sang anak telah beranjak remaja, tinggal dengan nenek dari ibunya karena sang ibu menikah lagi dan tinggal di ibu kota. Sementara Andrea pun sudah beristri lagi dan sudah memiliki anak dari pernikahannya yang kedua. Namun begitu, sebagai seorang ayah ia tidak melepas tanggung jawabnya.Setiap bulan dengan telaten ia menjenguk buah hatinya. Ya itulah Andrea. Laki-laki tegar yang diam-diam dikagumi Arini dan kini telah berada di hadapannya. Lebih dari itu, ternyata Andrea pun masih satu alamamater dengannya. Dia pernah jadi ketua Hima di salah satu fakultas di kampus tempat Arini kuliah dulu.</p>
<p>Arini tidak menyangka seseorang yang selama ini begitu akrab di dunia maya, ternyata jauh lebih mempesona ketika bertemu di dunia nyata. Dunia nyata mungkin lebih bisa memvisualisasikan sosok dirinya yang tidak terhalangi oleh layar monitor. Kehangatannya, keterbukaannya, simpatik dan sopan santunnya semua terlihat jelas. Membuat Arini merasa betah berlama-lama ngobrol dengannya.</p>
<p>Selama ngobrol diselingi tawa dan canda, keduanya tak henti bertukar cerita. Yah mereka berdua seolah dua sahabat lama yang sekian puluh tahun tidak bertemu lalu dipertemukan kembali dalam situasi yang berbeda.</p>
<p>Tak terasa jarum waktu pun terus berjalan begitu cepat. Hidangan yang tersaji di atas meja pun sudah tinggal piring-piringnya saja. Arini melirik jam tangannya Wah sudah pukul lima sore. Ia pu melirik pada Andrea,</p>
<p>&#8221; Andree, kamu nggak kesorean pulang ke Jakarta?&#8221; ada kecemasan dalam nada kalimat yang diucapkannya.</p>
<p>&#8221; Aku nggak mau pulang, masih betah di sini ngobrol denganmu&#8221; goda Andrea. Arini mencibirkan bibirnya. Lalu tersenyum.</p>
<p>&#8221; Bukan begitu, istrimu di rumah pasti khawatir menunggumu, bukan aku nggak betah lama-lama ngobrol denganmu tapi aku khawatir kamu kemalaman di jalan. Jadi kamu musti pulang ya?&#8221;</p>
<p>‘ Oke, kalau begitu aku sekarang pulang. Terimakasih atas waktumu menemaniku makan siang di sini&#8217; ujar Andrea tanpa lepas dari senyuman dan tatapan yang sulit diartikan maknanya oleh Arini. Sikapnya itu membuat rona merah di wajah arini. Arini merasa gamang ditatap seperti itu. Namun tidak dipungkiri ada desir hangat yang diam-diam menelusup ke relung hatinya yang paling dalam. Sebuah rasa yang entah dari mana datangnya dan baru kali itu dirasakan kembali oleh Arini setelah sekian lama, sejak pernikahannya dengan suaminya.</p>
<p>&#8221; Jangan pandangi aku seperti itu Andree! Aku tahu aku jelek!&#8217; Arini pura-pura kesal. Andrea tidak mau mendengarnya, ia malah permisi ke toilet.</p>
<p>Arini pun pergi menemui kasir untuk membayar semua makanan dan minuman yang telah dipesannya. Sang kasir malah tersenyum dan mengatakan kalau semua makanan itu telah dibayar, lalu si kasir menyerahkan uang kembaliannya pada Arini. Sejenak Arini terdiam, dipandangnya sejumlah uang kembalian yang telah berada di tangannya. Tiba-tiba Andreea muncul. Arini langsung memberondongnya dengan sejumlah pertanyaan.</p>
<p>‘ Apa-apaan ini? Kamu tamuku, aku dong yang harusnya menjamu kamu.&#8221;</p>
<p>&#8221; Ooo tidak bisa Non, di mana -mana laki-laki dong yang harus nraktir! Jawab Andrea kalem</p>
<p>&#8221; Nyonya! Bukan Nona!&#8221; Arini meralat ucapan Andrea.</p>
<p>&#8221; Ups&#8230;salah ya, oke Nyonya, semua pesanan sudah saya bayar&#8221; canda Andrea sambil membungkukkan badannya, persis seperti seorang resepsionis hotel yang menghormat tamu istimewanya.</p>
<p>&#8221; Nggak lucu ah! Nih ambil kembaliannya. Jangan sekali-kali lagi begitu ya? Lain kali aku lho yang harus bayar&#8221; Arini sedikit kesal tapi tentu saja hal yang tak mungkin kalau mereka terus berdebat tentang siapa yang harus membayar makanan di awal pertemuan mereka.</p>
<p>&#8221; Kita lihat saja nanti.. Arinn, sekarang aku pamit. Ok aku harus naik jurusan apa dari sini?&#8221;</p>
<p>&#8221; Jalan kaki juga nyampai&#8217; canda Arini</p>
<p>&#8221; Jangan gitu dooonng&#8217; tawa Andrea. Arini pun mengantarkan Andrea ke tempat kendaraan yang akan membawanya ke stanplat bis.</p>
<p>Sebelum pergi Andrea menyalami tangan Arini, lama sekali.</p>
<p>&#8221; Terimakasih atas waktumu, hari yang sangat menyenangkan dan takan kulupakan. Aku pulang ya, awas kamu pun hati-hati di jalan. Salam buat keluargamu&#8221;</p>
<p>Arini hanya tersenyum dan mengangguk, kerongkongannya seolah tercekat dan sulit untuk berbicara lagi. Laki-laki ini benar-benar sangat bersahabat. Arini hanya memandang kepergiannya sampai mobil yang membawanya menghilang di tikungan jalan. Ada sesuatu yang terasa hilang dari genggaman, ada rasa yang seolah melayang terbawa oleh sepasang tangan yang begitu erat menjabatnya. Ah&#8230;ini perasaan macam apa?</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/renik.wordpress.com/13/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/renik.wordpress.com/13/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/renik.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/renik.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/renik.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/renik.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/renik.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/renik.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/renik.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/renik.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/renik.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/renik.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/renik.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/renik.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/renik.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/renik.wordpress.com/13/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=renik.wordpress.com&amp;blog=1231860&amp;post=13&amp;subd=renik&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://renik.wordpress.com/2008/04/25/senandung-cinta-buat-arini-episode-jumpa-pertama/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">renik</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://img143.imageshack.us/img143/4308/pertemuanlk1.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Hello world!</title>
		<link>http://renik.wordpress.com/2007/06/13/hello-world/</link>
		<comments>http://renik.wordpress.com/2007/06/13/hello-world/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 13 Jun 2007 06:18:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>renik</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=renik.wordpress.com&amp;blog=1231860&amp;post=1&amp;subd=renik&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Welcome to <a href="http://wordpress.com/">WordPress.com</a>. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/renik.wordpress.com/1/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/renik.wordpress.com/1/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/renik.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/renik.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/renik.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/renik.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/renik.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/renik.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/renik.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/renik.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/renik.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/renik.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/renik.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/renik.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/renik.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/renik.wordpress.com/1/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=renik.wordpress.com&amp;blog=1231860&amp;post=1&amp;subd=renik&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://renik.wordpress.com/2007/06/13/hello-world/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">renik</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
